Vimax ezgif.com-resize cerita sexbcggv
Breaking News

Liburan Dewasa 12

Vimax ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya

Setelah cukup lama saling tak bersuara, akhirnya Zahra menyerah, membuka mulutnya mengawali percakapan.

“Bandi,,,”

“Yaa,,,” sahut lelaki itu datar. Sesuai dengan dugaan Zahra, jawaban yang terasa begitu hambar. Namun Zahra tidak peduli, wanita itu menyandarkan kepalanya di pundak si lelaki.

“Aku akan pergi jauh,, mungkin,,, mungkin kita tidak akan bertemu lagi,,, aku tidak mungkin terus menyakiti Nabila,,,,” Air mata perlahan berkumpul di pelupuk mata, jatuh berderai tak terbendung, sesenggukan di pundak Bandi. Tapi lelaki itu tak bergeming, tak menjawab, hanya tangan kekar yang memeluk semakin erat.

“Bandii,,, plisss,, jangan diam seperti ini,,, acuh mu membuat hatiku semakin menderita,,,” tangis wanita itu semakin dalam.

“Jangan menangis sayang,,, inilah jalan hidup, takdir hanya ingin membantu kita untuk menyelesaikan hubungan terlarang ini,,,” bisik Bandi, mengusapi rambut Zahra yang tertutup oleh jilbab.

“Percayalah,,, kesibukanmu sebagai seorang dokter dan waktu yang berlalu pasti akan mampu membantu hatimu mengatasi ini,,,”

Tangis Zahra terhenti, ia dapat membaca apa yang tersirat dari jawaban Bandi. Ketegasan seorang lelaki. Tampaknya Bandi memang ingin mengakhiri hubungan mereka lebih awal. Dan tak ada yang dapat dilakukan Zahra selain menerima. Matanya yang basah menatap Bandi. Dibuangnya segala gengsi dan ego. Hatinya begitu merindukan sentuhan dari lelaki yang beberapa tahun lalu begitu merajai hati dan pikirannya. Dan kini semua terulang lagi, dalam status dan kondisi yang jauh berbeda. Kakinya berjinjit, mengecup bibir si pejantan, sentuhan bibir dalam balutan cinta yang dalam.

“Zaa,,,” hanya kata itu yang terucap dari bibir Bandi saat menyambut bibir si cantik.

Walau bagaimanapun sulit bagi Bandi untuk mengabaikan jamahan bibir seorang Zahra. Lampu sorot kolam yang tadi sempat menyala terang, kembali meredup. Membuat suasana semakin syahdu menggebu.

“Bu,,, tengoklah Bu Zahra dan Pak Bandi,,, soo sweeett,, romantis bangeeet,,,” ucap Anjani yang menghampiri Aida yang duduk di sofa panjang. membawa dua gelas cocktail hasil racikan tangan Bu Sofie.

“Sepertinya antara mereka emang ada sesuatu deh,,,” jawab Aida, menyambut obrolan Anjani.

“Padahal aku pengen banget dansa ama Pak Bandi,,,kali aja ntar dikasih lagi,,, itu nya lhooo,, ngangenin bangeet,,,” ucap Anjani yang sepertinya sudah mulai mabuk. Sejak awal gadis itu memang sudah banyak minum.

“Hahahaa,, ternyata kamu udah nyicipin punya Bandi juga ya,,, tapi emang sih,, wanita mana yang ngga klepek-klepek dihajar batang gede nya,,, Uuugghh,,, kamu sihh,, aku jadi pengen nih,,, hihihi,,,”

Tapi obrolan dua wanita terhenti, di keremangan mata mereka menyaksikan bagaimana tangan Bandi meremasi payudara Zahra. Wanita yang terlihat begitu setia dan alim itu begitu pasrah atas tindakan kedua tangan Bandi yang beraksi bebas di payudara, pantat dan selangkangannya.

“Duuuuhh,,, Aku jadi ikut merindih nih,,, pengen diremes-remes juga,,,” keluh Aida, menjepit tangan dengan kedua pahanya.

“Buuu,,, Pak Haniff Buuu,,,” seru Anjani tiba-tiba menunjuk Hanif yang tengah menggarayangi tubuh Bu Sofie dari belakang, tapi wanita bertubuh montok itu hanya tertawa. Tangannya terus bekerja meracik minuman untuk Rahadi yang duduk di depan Bar.

Begitupun saat Hanif berusaha mengeluarkan sepasang payudara berukuran 36D dari gaunnya. Bu Sofie justru tertawa semakin lebar, entah apa yang mereka bicarakan hingga akhirnya Bu Sofie melemparkan kain kecil hingga menutupi wajah Hanif. Tiba-tiba tubuh Bu Sofie beringsut turun ke bawah, membuat Anjani dan Aida bertanya-tanya apa yang dilakukan wanita itu di bawah meja bar, tapi saat melihat wajah Hanif yang terlihat begitu menikmati aktifitas Bu Sofie di bawah sana, baru lah mereka mengerti apa yang tengah terjadi. Tak berapa lama, Hanif menarik tubuh Bu Sofie kembali berdiri, meminta wanita itu sedikit membungkukkan tubuhnya. Terlihat Bu Sofie mewanti-wanti saat Hanif mengangkat gaun mini yang membungkus tubuh montoknya. Tapi Hanif seperti tidak peduli, meminta Bu Sofie lebih membungkukkan badannya, dan tiba-tiba tubuh wanita terhentak ke depan, mulutnya terbuka melepaskan lenguhan tanpa suara.

“Buuu,,, mereka ngen,, ngentot ya?,,” tanya Anjani dengan suara tertahan.

“Huuhh,,, dasar si papah,,, padahal tadi udah janjian ga boleh main serong lagi,,, uuggghhh,,,” Aida terlihat sangat sebal, menenggak habis cocktailnya, merasa kurang, Aida juga menenggak chivas milik suaminya yang ada di meja kecil.

Seketika wajahnya mengernyit ketika merasakan kerasnya rasa dari minuman itu. Tak ambil pusing dengan rasa, ibu muda itu kembali menenggak beberapa kali.

“Hihihihi,,, ibu kalo marah lucu,,,” Anjani mengamati tingkah Aida yang tengah sewot.

“Balas aja bu,,,” usul Anjani.

“Balas?,,,”

“Iya,,, ibu balas aja, tu suami aku lagi nganggur,,,” jawab nya sambil menunjuk Rahadi yang duduk menonton sambil meremasi batang yang ada di celana, seolah sedang menunggu giliran.

Tanpa minta persetujuan lebih lanjut, Aida beranjak mendekati Rahadi, dan langsung memberikan ciuman yang ganas. Rahadi yang sempat kaget langsung mengerti apa yang diinginkan wanita itu. Pasrah ketika Aida menariknya ke dalam bar. Tak menunggu lama terjadilah pacuan dua tubuh betina yang sama-sama memiliki tubuh montok. Pinggul Rahadi menghentak dengan kasar, menjejali vagina Aida dengan batangnya, sambil melempar senyum kepada Hanif. Terbalas sudah dendamnya tadi pagi, saat Hanif menyutubuhi Anjani dalam lomba pantai, tepat di depan matanya.

“Asseeeem,,, pelan-pelan Di, jangan kasar gitu, kasihan istriku,” seru Hanif geram.

Tapi peringatan Hanif justru dijawab oleh istrinya sendiri dengan lenguhan panjang, di balik kacamata minusnya wanita itu tersenyum nakal, sambil sesekali meringis akibat hentakan Rahadi yang kelewat kasar. Tapi itu justru membuat Aida semakin liar, pantatnya bergerak ke belakang dan ke depan memberikan perlawanan. Wajah Hanif semakin geram, tidak menyangka istrinya yang dulu kalem kini berubah menjadi begitu binal. Tubuh montok yang selama bertahun-tahun selalu setia melayani kebutuhan seksualnya kini tengah melayani lelaki lain. Menawarkan kenikmatan liar yang tidak pernah diberikan kepadanya. gairahsex.com Melihat hal itu Bu Sofie tertawa, seolah tak ingin kalah tubuhnya ikut bergerak liar, otot vaginanya mengencang, memberi pesan kepada Hanif bahwa vaginanya tidak kalah dari milik istri Hanif itu.

cerita hot 2016, cerita hot terbaru, cerita hot, cerita sange 2016, cerita sange terbaru, cerita sange, gairah sex

 

Tak ayal terjadilah persaingan pacuan liar, Rahadi yang membalas dendam, Hanif yang geram dibakar cemburu, Aida yang ingin membalas ulah suaminya dan Bu Sofie yang terbawa dalam arus persaingan. Begitu kontras dengan alunan musik yang mendayu lembut, mengiringi Bandi dan Zahra yang masih melangkah berirama sambil berpelukan. Sementara disisi lain kolam, Mang Kholil dan Kontet yang kini menjadi operator musik dan lampu, cuma bisa manahan hasrat sex mereka. Nafsu kedua jongos itu semakin menderu saat menyaksikan Nabila yang kini duduk mengangkangi Darto yang asik menyusu di kedua payudaranya.

Cerita Sex yang lain  isa di baca di gelorabirahi.com

Berkali-kali jari lentiknya memasukkan kembali payudara ke balik mini dressnya, berkali-kali pula tangan Darto menarik keluar seolah sengaja ingin memamerkan sepasang buah ranum itu kepada Mang Kholil dan Kontet. Akhirnya Nabila pasrah, membiarkan payudaranya menggantung di luar, menjadi santapan bibir dan lidah Darto. Menjadi santapan Nafsu liar kedua jongos yang hanya bisa menatap sambil mengusapi selangkangan. Birahi telah menguasai mereka semua, dicumbui tatapan liar yang semakin membuat tubuhnya semakin terbakar sensasi eksibionis. Wanita cantik itu balas menggoda

Menggesek-gesek batang Darto diselangkangan yang masih terbalut celana dalam yang juga berwarna merah. Sepertinya kedua pasangan itu tidak ingin terburu-buru, menikmati setiap kejahilan yang dilakukan oleh pasangannya. Menikmati segala cumbu Nafsu yang menyapa.

“Mang,,, Mang Kholil,,, tu ada yang nganggur Mang,,,” seru Kontet mengagetkan konsentrasi Mang Kholil.

Keduanya menatap Anjani yang sudah mulai mabuk, mengamati persetubuhan pacuan birahi suaminya.

“Samperin yuk,,, kali aja kita dikasih nenen sama tu betina,,, sepertinya lagi mabuk, Mang,,”

“Eittsss,,, itu jatah ku,,, kamu tungguin lampu ama sound system, lagian idolamu lagi show tuh,,, kali aja ntar kamu ditawarin ikut nyoblos memeknya,,,” ucap Mang Kholil, lalu meninggalkan Kontet yang ingin protes.

 

* * *

“Bandii,,, Bannn,,, kau membuatku basah sayang,,,” rintih Zahra, meski tertahan oleh gaun yang ketat, Zahra masih bisa merasakan bagaimana jari-jari Bandi mengusapi vaginanya. Puting mungilnya yang mengeras tak lepas dari remasan tangan kiri Bandi.

“Bandi,,, Aku ngga tahan, sayang,,,” mata indahnya menatap Bandi, meminta sebuah penyelesaian, berharap lelaki itu membawa tubuhnya ke tempat yang sunyi dan memberikan kenikmatan yang sangat diidamkan oleh vagina mungilnya.

“Janggannn,, cukup seperti ini ya sayang,,,” jawab Bandi, mengangetkan Zahra.

Berbagai pertanyaan menyapa diotak dokter cantik itu, Apakah Bandi tidak mencintainya lagi?,,, Apakah Bandi sudah tidak menginginkan tubuhnya lagi?,,,

Zahra termenung, kembali merapatkan tubuhnya kedada si lelaki, Nafsu yang bergemuruh dengan cepat sirna, kerisauan hati lah yang kini meraja. Bertanya-tanya, Ada apa dengan cintanya.

“Sayang,,, Tidak usah berfikir macam-macam, aku hanya berusaha melakukan yang terbaik buat kita,,,” ucap Bandi, hatinya pun sedih tidak bisa memenuhi keinginan wanita yang begitu dikasihi.

“Maaf,,,”

Zahra tidak menjawab, memejamkan matanya, waktu mereka tak banyak. Tak ingin menghabiskan dengan perdebatan.

“Bandi,,, hikss,,,” wanita itu kembali terisak dipelukan si lelaki.

“Boleh aku meminjam wanitamu?,,,” pinta Pak Tama, mengagetkan Zahra dan Bandi yang masih berpelukan erat….

—————

It’s Me, Bandi

Bandi mendengus kesal, seharusnya malam ini bisa menjadi malam yang indah, tapi hati kecilnya seakan memberi perintah untuk membuat benteng pertahanan untuk luka yang lebih, seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Setelah menikmati cinta dan kasih sayang yang diberikan oleh Zahra, membuat lelaki itu sempat berfikir untuk terus menjalin hubungan dengan Zahra, walaupun itu harus menghianati Nabila dan Darto. Tapi akal warasnya masih bisa menhalangi, maka tak ada pilihan selain menjaga jarak dengan Zahra secara perlahan. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk wanita itu.

Niat itu nyatanya sempat goyah saat menatap keanggunan Zahra malam itu, tubuh semampai yang dibalut longdress putih, begitu memukau matanya. Bandi coba menyegarkan hati saat wanita itu membawakan lagu ‘Broken Angel’. Tak tega melihat kemurungan Zahra akibat sikap cuek yang sengaja dipertontonkannya. Ingin sekali dirinya berlari menghampiri dan memeluk wanita yang begitu cantik dalam balutan jilbab putih. Tapi semakin dirinya mencinta, semakin besar kesadarannya, Cinta mereka tidak mungkin bersatu, bertahan dalam hubungan semu hanya akan membuat Zahra dan dirinya semakin terluka. Sepanjang pesta, mata Bandi silih berganti menatap Zahra dan Nabila. Antara ego hati dan rasa bersalah, bagai dua sisi mata uang yang tak mungkin dipisah, namun tak mungkin pula untuk dipertemukan menjadi satu. Ajakan Nabila untuk bertukar pasangan hanya membuat keadaan semakin rumit. Hingga akhirnya hatinya kembali terjerembab dalam pelukan cinta Zahra yang syahdu.

Menikmati segala cumbu Zahra di antara irama tubuh mereka yang mengalir mengikuti irama musik, dengan cinta yang tertahan, tak mampu diluahkan. Ada rasa rindu saat telapak tangannya mengusapi kemaluan si betina, tentang kenikmatan yang ditawarkan, kepasrahan yang nyata untuk dipuaskan oleh batangnya yang tengah menagih kenikmatan yang sama. Ingin sekali Bandi menggagahi tubuh Zahra, menikmati tubuh indahnya di saat sang wanita merintih untuk sebuah penyelesaian.

Tapi persetubuhan hanya membuat ikatan mereka semakin kuat, tak mungkin mengakhiri sebuah kisah, sementara tubuh mereka menyatu dalam hasrat yang sama. Hingga akhirnya Pak Tama menghentikan irama kaki mereka, meminjam sang tercinta untuk sebuah fantasi yang tak pernah mampu diungkapkan oleh atasannya itu. Tak ada yang tak berhasrat pada wanita secantik Zahra, pada tubuh indah yang malam itu dibalut kain tipis yang ketat. Begitupun dengan semua pejantan di tempat itu, pernah mengungkapkan hasrat untuk menunggangi tubuh dokter cantik itu.

“Boleh aku meminjam wanitamu?,,,” pinta Pak Tama, mengagetkan Zahra dan Bandi yang masih berpelukan erat….

Bola mata bening yang menatap wajahnya, memohon tak ingin dilepaskan. Pikiran Bandi kacau. Haruskah dirinya menceritakan semua pada Zahra. Tentang besarnya rasa kasih yang ingin ditumpahkan kepada wanita yang berada dalam pelukannya. Tentang ketidak berdayaan nya atas kuasa Pak Tama. Tentang permainan yang tengah para lelaki jalani, menjadikan para tubuh para wanita sebagai piala yang mereka perebutkan. Hingga akhinya tangan Bandi jatuh terlepas, tanpa suara, bagai sebuah robot menarik setiap sisi bibir agar bisa tersenyum, mempersilahkan Pak Tama mengambil si cantik dari pelukannya.

Begitu berat Bandi melepaskan pelukannya dari tubuh Zahra. Seandainya yang meminta adalah Hanif atau Rahadi mungkin dirinya masih bisa menolak, tapi,,,Bandi mundur beberapa langkah menuju meja, menatap langkah kaki gemulai Zahra mengikuti gerakan dalam pelukan lelaki lain. Di bias cahaya temaram, Tubuh Bandi gemetar, mengutuki dirinya sebagai pecundang. Menatap wanita yang hanya bisa pasrah, saat si lelaki menelusuri pinggang yang ramping menuju pinggul yang sensual. matanya menangkap bagaimana geliat tangan Pak Tama mengusap pantat Zahra yang membulat.

“Uggghhh,,, aku harus melepasnyaaa, tapi aku juga tidak sangggup melihatnya dalam pelukan lelaki lain,” batin Bandi berkecamuk.

Berkali-kali matanya menangkap bagaimana tubuh semampai itu menggeliat saat Pak Tama melakukan usapan nakal pada gundukan payudara yang tidak terlindung oleh bra, hanya kain dari gaun tipis yang seolah tak berarti apa-apa. Kaki Bandi gemetar meninggalkan tempatnya berdiri, tak ada daya, perjanjian telah disepakati, setiap orang berhak untuk mendekati siapapun dalam liburan ini. Gontai, menuju sofa yang dihuni oleh Anjani yang tengah dibius oleh cumbuan tangan Mang Kholil. Mengabaikan pandangan Anjani yang menyirat pesan birahi kepadanya, menggeliat menerima usapan tangan Mang Kholil di selangkangan yang tak lagi terlindung oleh kain.

“Paak,,” ucap gadis itu, menepis tangan Mang Kholil, beralih memeluk Bandi yang duduk di sampingnya.

“Anjani kangen bapak,,, aku kangen punya bapak,,,”

“Anjani,,, kamu mabuk,,,”

Jangan lewatin juga beritaseks.com guys…

Tak menjawab, tapi gadis itu langsung memagut bibir Bandi dengan ganas. Bandi dapat merasakan bau alkohol dalam balutan rum dari bibir tipis itu. Bandi berusaha mengelak mendorong istri Rahadi itu dengan pelan, namun si mungil justru menaiki tubuhnya, mengangkangi pahanya, bergerak liar menggoda, menari memberi sentuhan ke tubuhnya dengan payudara mungil yang menggantung.

“Zaa,,,” panggil Bandi lemah. Dikejauhan, dilihatnya Zahra membuang muka, seolah takut menatap padanya, saat tangan Pak Tama bertamasya digundukan payudara yang membulat, meremas, mengusap dan,,, merangsek tubuhnya seolah ingin menyatu dengan si cantik.

“Aaaggghh,,, Sialaaan,,,” Dengus Bandi kesal melihat ketidakberdayaan Zahra untuk menolak.

“Tepislah sayang, kau berhak melakukan itu, kau tidak terikat apapun, tamparlah wajah yang berusaha mengejar bibirmu,,,” batin Bandi berteriak, protes pada kepasrahan Zahra.

Sementara, dihadapannya,,, ranum tubuh seorang Anjani meliuk di atas pangkuannya, memohon untuk sebuah percumbuan. Cerita Sex

Membuang rasa kesal, dengan cepat Bandi melumat payudara mungil Anjani dengan beringas, membuat bibir gadis itu meringis tertahan. Merintih menikmati gigitan nakal. Tak puas dengan aksi bibirnya, tangan Bandi ikut bergerak meremas. Membuat Anjani yang tengah mabuk semakin belingsatan. Di samping mereka, Mang Kholil yang tersisih cukup tau diri, tak ada guna dirinya duduk di samping dua tubuh yang tengah bergulat dalam birahi yang panas. Matanya segera menyisir tepian kolam renang, mencari betina lain yang dapat dimangsa olehnya.

Tersenyum girang saat mendapati tubuh Aida yang tertelungkup di meja bar, kelelahan setelah melakukan pacuan birahi. Beranjak mendekati. Menegur untuk mencari tau kondisi si betina yang kelelahan. Bagian bawah gaunnya masih tersingkap, memamerkan bulatan pantat yang seksi. Mang Kholil tersenyum girang, beringsut ke belakang tubuh Aida, Di bawah tatapan garang Hanif yang masih sibuk menunggangi tubuh montok Bu Sofie, Mang Kholil mengagguk kalem, seolah meminta izin untuk memasukkan perkakasnya ke belahan vagina yang masih basah oleh sperma Rahadi.

“Mang,,, jangan Mang,,, Awas kalo berani,”

“Iiisshh,,, udah jangan ribut,,, cepet selesein, punya ku udah mulai perih nihh,,, Oowwhhhsss,,, jangan dipelintir Nif,,,” celetuk Bu Sofie yang meringis akibat putingnya yang dipelintir oleh Hanif. mengangkang di atas bangku, menikmati batang yang sedari tadi masih bertahan.

“Aaaagghh,,, sialan kau Mang,,,” teriak Hanif saat menyaksikan Mang Kholil menarik pantat istrinya lebih ke belakang, wajah cantik Aida hanya bisa meringis, ketika Mang Kholil meremas-remas pantat yang semakin menungging.

“Ooowwghhh,,, Pahh,,, Papaahh,,, siapa lagi yang nusuk memeq mamah, Paah,,,” Rupanya wanita itu benar-benar mabuk, menoleh ke belakang mencari tau siapa lagi yang tengah menggarap liang kawinnya.

“Mang Kholil Mah,,, Mang Kholil yang ngentotin mamaah,,, Ugghhh,,” Hanif mencengkram pinggul Bu Sofie dengan kuat.

“,,, pelan-pelaaan ya Mang,,,Eeengghh,,, jangan kasar seperti kemaren,,”

DEEGG,,, Hanif kaget bukan kepalang, Aida memang sudah pernah melayani penjaga cottage itu,,, saat mereka baru tiba di pantai,,, di kamar lelaki berambut kriwel itu,,,. Hatinya semakin panas saat menyaksikan cara Aida melayani lelaki bertampang mesum itu, membetulkan duduknya, memastikan batang Mang Kholil dapat bergerak bebas menusuk vaginanya dari belakang.

“Nifff,,, udaaah cuekin ajaaa,,, ngentotnya pindah ke pintu belakang yaa,,, memek ku udaaah panass nih,,,” ucap Bu Sofie menarik batang Hanif keluar, lalu mengarahkan ke pintu belakang.

“,,, kenapa ngga dari tadi Bu,,, Aaagghh,,, yang belakang masih sempit banget Bu,,,” Hanif menggeram saat batangnya mulai tenggelam dilubang anal. Bu Sofie tertawa, mengangkang semakin lebar.

“Zahraa,,, mana Zahra ku,,,” ucap Bandi panik, tersadar dari hasrat yang ditawarkan tubuh ranum Anjani.

Matany bergerak liar mencari sosok Zahra, namun wanita itu sudah tidak berada di tempatnya semula. Semakin jauh, di sisi seberang kolam, masih dalam pelukan Pak Tama.

“Zahraaa,,, tepis lah tangannya sayaang,,, jangan biarkan menjamah tubuhmuu,,,” ucap Bandi, meski jauh matanya masih bisa menangkap gerakan tangan Pak Tama yang bergerak nakal disekitar selangkangan Zahra. Perlahan keduanya semakin jauh, gairahsex.com hingga akhirnya menghilang di rerimbunan tanaman hias.

“Tidak,, tidak mungkin,,, aku mengenal Zahra lebih dari siapapun,, tidak mungkin menyerahkan tubuhnya semudah itu kepada lelaki lain,,, usaha Pak Tama pasti akan sia-sia,,,” Bandi mencoba menghibur sekaligus menguatkan hatinya.

Walau bagaimanapun tidak mungkin dirinya merelakan wanita yang begitu dikasihi dijamah oleh lelaki lain.

“Ooowwsshhh,,,, siaaaal,,, Anjani,,, kamu ngapaain,,,” Bandi merasakan batangnya kini sudah berada dalam genggaman jemari yang lentik, sementara tubuh mungilnya bergerak maju mundur menggesek batangnya di depan pintu vagina yang tak lagi berkain pelindung.

“Paaak,,,, aku kangeeen punya Bapaaaak,,, entotin aku lagi ya paaak,,”

Pinggul dan pantatnya bergerak sinergis menggesek batang Bandi yang tertekuk ke atas. Bagaikan sebuah hot dog,, batang besar Bandi diapit oleh pintu vagina yang membekap basah, bergerak maju mundur seakan melumuri batang Bandi dengan cairan putih yang semakin banyak.

“Paaaak,, aku masukin yaaa Paaak,,, aku masuuukin,,, aku udah ngga kuaaaat,, Aaaeeeengghhh,,,” Anjani mengangkat tubuhnya, memposisikan batang Bandi tepat di depan liang yang mungil, dan,,,,

“Aaggghhh,,, Paaaak,, punya bapak besar bangeeeet,,,” Pantat Anjani yang memang tidak begitu besar, sesuai dengan tubuh nya yang mungil, bergerak turun. Sungguh pemandangan yang kontras dengan batang Bandi yang besar, yang perlahan membelah tubuhnya.

“Ngga bisa masuk semua Paaak,,” Anjani terengah-engah, vaginanya hanya mampu melumat tiga perempat penis Bandi.

Setelah merasa liangnya bisa beradaptasi dengan batang yang menusuk jauh ke dalam, pantatnya mulai bergerak. Bibirnya mendesis menikmati saraf-saraf sensitif yang mengirim sinyal kenikmatan. Bandi menatap wajah cantik Anjani, wajah berkeringat yang tengah mendesis menikmati batang di dalam tubuhnya. Bergerak naik turun melahap batang yang terlalu panjang bagi liang vaginanya yang dangkal.

“Paaaak,,,” Anjani tersenyum sayu, menggenggam tangan Bandi yang terhulur menjamah payudara yang hanya berukuran 32b, pengaruh alkohol mulai memudar, berganti dengan birahi yang menguasai otak remajanya.

“Gadis kecil yang nakal, kasian suami mu bila kemaluan mu ini terlalu sering menerima batang besar seperti milikku dan Pak Tama,”

Wajah Anjani merajuk, tangannya cepat menutup mulut Bandi, tapi memang seperti itulah yang tengah dirasakannya. Gadis kecil yang binal, yang tengah ketagihan pada gaya bercinta oleh lelaki yang bukan suaminya. Gadis kecil yang binal, yang tengah ketagihan pada batang besar. Gerakan tubuh Anjani berubah-ubah, kadangkala bergerak naik turun, lalu bergerak maju mundur, sesekali pantatnya bergerak memutar, memelintir batang Bandi. Lama Bandi terdiam, menikmati kenakalan Anjani.

“ Praaaang,,,Praaang,,,”Seketika mata Bandi mencari asal suara, gelas kaca yang jatuh dan pecah tepat di samping Nabila yang dibaringkan Darto diatas meja kecil. Tampak sahabatnya itu tengah mencucupi selangkangan Nabila, geliat tubuh istrinya membuat semua yang ada di meja terjatuh.

“Maaf, aku tidak bisa menjaga istrimu, Sob,,,” lirih batin Bandi. Lalu mengawasi pohon hias yang sesekali bergerak. Entah apa yang tengah terjadi pada Zahra.

Tiba-tiba Matanya menangkap langkah Zahra yang terhuyung, dibopong Pak Tama menuju pintu keluar. Hati Bandi semakin kacau saat melihat bagian bawah jilbab Zahra yang tersimpan rapi di balik gaun putih kini terurai keluar. Sementara gaun panjang yang menutup hingga ke mata kaki, tampak terangkat keatas, beberapa senti di bawah selangkangan, memapar paha dan kaki yang putih mulus. Apakah Pak Tama sudah berhasil menikmati tubuh Zahra?,,, ataukah mereka baru memulai dan bersiap menyelesaikan semua dibalik tembok kolam renang. Bandi menggeram emosi. Sekilas terbayang geliat liar tubuh Zahra, saat vagina tembem milik wanita berjilbab itu melayani kejantanan nya, di tepian pantai yang sepi.

“Paaak,,, jangan liat kelain,,, liatin memeq aku aja Paaak,,,” rengek Anjani meminta perhatian.

Bandi yang tengah panik dan cemburu menjadi kesal, lalu membentak gadis itu dengan kasar.

“Diam kamu Annn,,, apa kamu tidak melihat Zahra tengah dikerjai Pak Tama, Heh?,,,”

Sontak gerak tubuh Anjani terhenti, wajahnya menjadi pucat, tubuhnya merinding melihat kemarahan Bandi, Nafsu yang tadi menggelegak sirna begitu saja. Sekalipun dirinya tak pernah melihat lelaki yang selalu ramah itu marah,,, sangat marah.

“Maaf Ann,,, Maaf,,, terlalu banyak pikiran yang mengganggu,” ucap Bandi sambil mengusap pundak Anjani yang terbuka. Merasa kasihan melihat wajah gadis yang ketakutan melihat amarahnya.

Sesaat mata Bandi mengamati pintu yang cukup jauh dari mereka, tak ada tanda-tanda kedua insan itu kembali ke tempat. Menghempas deru dihati dengan membuang Nafas panjang.

“Maaf bila selama ini aku egois,, tak pernah mencoba menyelami hatimu, aku selalu sibuk dengan egoku,,,,” Bandi membatin, memaksa hatinya untuk merelakan apapun yang akan dilakukan Zahra.

“Aku bisa mengerti koq pak,,,” jawab Anjani tiba-tiba, mengagetkan Bandi, berusaha untuk bangkit, melepaskan batang Bandi yang masih berada di dalam vaginanya.

“Kamu belum selesaikan?,,,” tanya Bandi sambil menahan pinggul gadis itu, tidak membiarkan batangnya terlepas.

“Eeeh,, ngga apa-apa,,,”

“Yaa,, kalo gitu aku yang belum selesai,,, bantuin yaa,, boleh semprot didalem lagi kan?,,” tanya Bandi, bangkit sambil menggendong tubuh Anjani, lalu membaringkan gadis itu di atas sofa.

Anjani mengangguk sambil tersenyum masih dihantui rasa takut akan amarah Bandi yang tadi sempat meledak. membiarkan Bandi merentang kedua kakinya, memandangi kemaluannya yang masih basah. Lalu kembali mengangguk saat Bandi bersiap kembali memasukkan batangnya.

“Eeeengghhh,,, Paaak,,,” bibirnya mengerang, meski kali ini batang itu lebih mudah memasuki tubuhnya, tetap saja gadis itu mengerang.

“Maafin aku tadi ya,,, aku terlalu banyak pikiran,,,” terang Bandi, mencoba merayu Anjani.

“Iyaaa,,, ngga apa-apaa Paaak,,, tapi sekaaarang,, sayangin Aku duluuu ya Pak,,,” ucap gadis itu, setelah yakin Bandi kembali menjadi lelaki dewasa yang dikenalnya.

“Pengen disayang,,, atau pengen dientot?,,,”

“Dua-duanya,,,hihihi,,,Aaahhsss,,,”

Hentakan-hentakan penuh tenaga dalam ritme yang teratur dengan cepat membuai keduanya, desahan dan rintihan Anjani cukup membantu Bandi untuk lebih memperhatikan gadis yang tengah ditungganginya.

“Paaak,,, Ooowwhhsss,,, sesak banget Paaak,,,”

“Mentok sampe keujuuung Paaak,,,”

Bandi tertawa melihat tingkah Anjani yang kembali liar.

“Anjani,,, siapa aja sih yang pernah nyicipin lubang sempit mu ini?,,,” tanya Bandi, setelah menjatuhkan tubuhnya menindih tubuh mungil Anjani. Gerakan pinggulnya berubah menjadi pelan, sesekali mengulek kekiri dan kekanan.

“Eeenghh,,, banyak sih pak,,,” jawab gadis itu malu-malu.

“Tapi cuma punya bapak yang bikin Aku ketagihan,,,” sambungnya cepat.

“Kenapa?,,, kan punya Pak Tama juga gede,,,” Bandi menghentikan gerak pinggulnya, membiarkan gadis itu bermain-main dengan batang yang ada didalam tubuhnya.

“Punya bapak bukan cuma gede, tapi juga panjang banget,,, berasa banget nyundul di dalam memeq aku,,, enak banget Pak,,,”

“Aahh maca ciiihh,,,”

Anjani tertawa melihat lelaki yang tengah menindih tubuhnya itu bergaya sok imut. Mungkin gaya bercanda Bandi juga mempengaruhi penyebab dirinya lebih senang bila tubuh mungilnya akukmati lelaki itu.

“Itu bukan karena punya ku yang panjang,, tapi type memek mu yang pendek banget, makanya sampe nyundul mentok gini,,,” Bandi menggerak-gerakkan batangnya, seolah ingin menunjukkan kepala jamurnya memang menyentuh bagian terdalam dari liang kemaluan gadis itu, semakin Bandi menusuk, semakin menggeliat Anjani dibuatnya.

“Paaak,,, masukin yang dalam yuuuk,,, Aku pengen ngerasain gimana rasanya melumat batang gede ampe habis,,,hihihi” Anjani mulai berani memeluk leher Bandi.

“dikolam kemarin kan udah,,, ngga tega aku, liat kamu sampe njerit-njerit,,,”

“Tapi aku ngejerit itu kan gara-gara aku,, engghh,, orgasme,,,” Bandi bisa merasakan bagaimana gadis itu tersipu malu, menuai orgasme oleh lelaki lain tepat dipangkuan suaminya.

“Bener mau dimasukin semua?,,,”

Anjani mengangguk sambil tersenyum lucu.

“Ngga takut sakit?,,,”

lagi-lagi kepalanya mengangguk, membuka lebar pahanya, mempersilahkan Bandi beraksi. Kisah Sex

“Kalo ngga bisa masuk semua, ngga boleh keluar di memeq Aku,,,hehehee,,,”

Sontak Bandi tertawa mendengar tantangan gadis yang baru beberapa bulan lulus dari bangku SMA dan langsung dipinang oleh Rahadi.

“Hahahaa,, ternyata Rahadi bener-bener pinter milih istri,,, kamu nakal sayaang,,,” bisik Bandi di telinga Anjani, lalu bergerak menusuk pelan, merasa tak ada perubahan penisnya mulai menghentak, berusaha menggendor pintu rahim.

“Ooowwwhh,,, Paaak,, lebih keraaas,,,” rengek Anjani seketika. Permohonan gadis itu dikabulkan Bandi dalam hentakan berikutnya, terus menggedor, menggasak pintu rahim.

Anjani mulai meringis, selangkangannya terasa ngilu, hentakan batang Bandi semakin keras dan kasar, jepitan vagina Anjani semakin kuat membuat Bandi menjadi lebih beringas. Perlahan penis Bandi memasuki wahana baru yang tidak biasa dimasuki penis para lelaki.

“Paaaaak,,, masukin ke rahim Aku paaak,,,” terengah-engah gadis itu mengangkat pinggulnya, semakin kasar Bandi menyetubuhi vagina mungilnya semakin liar pinggulnya bergerak, terangkat tinggi seakan menantang batang Bandi untuk memasuki tubuhnya lebih dalam.

“Aaagghhhh,,, sudaaaahh masuuuk semuaaa sayaaang,,, boleh nyemprot sekaraaaang?,,,”

Mulut Anjani terbuka lebar, begitu sulit tuk bersuara, liang vaginanya terasa begitu penuh oleh batang Bandi, memasuki bagian yang tak pernah terjangkau oleh semua penis lelaki yang pernah menikmati tubuhnya.

“Phhaaak,,, semprooot,,, semprooot,,, rahim Aku udah siaaaap,,,”

Dalam hentakan yang keras, Bandi menghempas tubuh Anjani ke sofa, penisnya menghambur sperma tepat di rahim Anjani yang menggeliat meregang orgasme. Kaki nya membelit paha Bandi, memastikan batang yang tengah menyetor sperma tetap berada di tempatnya.

“Paaak,,, Anjani sayaang Pak Bandii,,,” rintih Anjani, memandang sayu wajah Bandi yang masih meretas kenikmatan di dalam tubuhnya.

Bandi tercekat, ucapan Anjani terdengar serius di telinganya, balas menatap mata Anjani yang pasrah dalam dekapannya. Tak ada kebohongan hanya ketulusan seorang gadis belia. Pelan dikecupnya bibir Anjani. Lalu melumat dengan lembut.

“Maaf Ann, tapi aku,,,”

“Hehehehe,,, iya,,,iya Aku cuma bercanda koq pak,,,” potong Anjani cepat. Membenamkan wajahnya di balik tubuh Bandi yang tinggi besar. Terdiam. Menyembunyikan perasaan yang terucap tanpa sengaja.

Tiba-tiba keduanya terkejut, batang Bandi yang masih berada di dalam vagina Anjani mengejat mengeluarkan sperma yang masih tersisa.

“Masih belum habis ya,,, hihihi,,, Ayo cepat keluarin semua, punya Aku masih sanggup nampung koq,,,”

Bandi ikut tertawa, lalu mengejang memaksa keluar sperma yang tersisa, memenuhi rahim gadis yang masih memeluknya dengan mesra.

“Tuuu kan,,, masih ada,, ayo keluarin lagi,,,”

“Hahahaa,, sudah habis sayang,, punya mu bener-bener hebat,,, lebih hebat dibanding di kolam kemarin.”

Anjani tertawa bangga.

“Paaak,, kalo nanti bapak kangen punya Aku, Waktu Mas Rahadi ngga ada di rumah, bapak boleh koq datang, make punya Aku ampe bapak puas,,hehehe,,”

“Huuusss,,, nakal kamu,,, ngga boleh,, cukup diliburan ini aja,,, ntar aku dibunuh sama Rahadi kalo ketahuan,,,”

“Bener nih ngga mau,,, padahal Aku pengen nyobain ditusuk di pintu belakang,, masih perawan lho, belum pernah ada yang nyobain,,,” Anjani mengerling genit menggoda Bandi.

“Kalo ngga ketahuan sama Mas Rahadi berarti ngga apa-apa kan? Hihihi,,,”

“Ihhh,, dasar nakal,,, memeq mu aja sempit banget, ngga kebayang kalo aku harus merawanin pintu yang belakang,,,”

Merasa penasaran, tangan Bandi terhulur kebawah meraba pantat Anjani,lalu perlahan mengusap liang anus yang imut.

“Pengen ngga?,,,” tantang Anjani lagi, menggeliat geli akibat ulah jari tengah Bandi yang coba menusuk-nusuk analnya, tepat dibawah batang yang masih memenuhi liang vagina.

“Kata mba Nabila, nikmatnya beda kalo ditusuk dibelakang,,, lagian Pak Bandi juga senengkan nusuk di belakang?,,,hehehe,,,”

“Hahahaa,,, kalo gitu jangan izinin siapapun nyicipin ni lubang, sampai nanti aku yang nyobain, termasuk Rahadi, Ok?,,,”

Anjani tertawa saat nama suaminya disebut,,, tapi kepalanya mengagguk menyetujui,

“hahaha,,, ya termasuk Mas Rahadi,,,,” ucapnya riang tanpa merasa berdosa, pola pikir perselingkuhan khas anak ABG begitu mendominasi. Lalu keduanya kembali beradu bibir bersilat lidah dengan panas.

“Paak,, kalo sama Bu Zahra pernah nyicipin dimana aja?,,,”

Entah sadar apa yang diucapkannya, tapi pertanyaan Anjani menyadarkan Bandi.

“Zahra,,, Mana Zahra?,,,” dengat cepat mata Bandi menyapu sisi kolam renang, tapi tak ada

“Maaf Ann,, aku harus mencari Zahra,,, maaf banget,,,” ucap Bandi.

Anjani terhenyak, menyesali apa yang diucapnya, penis yang memenuhi vaginanya terlepas. Mencoba tersenyum saat Bandi meminta maaf, memaksa hatinya untuk memaklumi posisi Bandi yang tengah terjerat cinta terlarang, dan posisinya sebagai wanita cadangan, pelarian dari hasrat kelelakian Bandi yang liar

Ada apakah dengan Bandi? Atau sedang apakah Zahra dengan Pak Tama… sabar semua ya… nanti kita lanjut lagi di petualangan selanjutnya….

cerita dewasa 2016, cerita dewasa terbaru, cerita dewasa, cerita mesum 2016, cerita mesum terbaru, cerita mesum,

Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

..