Vimax ezgif.com-resize Cerita Dewasa
Cerita Dewasa Terbaru
Cerita Sex Terbaru
Breaking News
Cerita Sex Terbaru

Liburan Dewasa 13

Vimax ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya

Ada Apa Dengan Zahra????

“Boleh aku meminjam wanitamu?,,,” pinta Pak Tama, mengagetkan Zahra dan Bandi yang masih berpelukan erat….

Zahra menatap Bandi dengan jantung berdegub kencang, berharap lelaki itu tidak melepaskan pelukannya begitu saja, tidak membiarkan Pak Tama mengambil dirinya. Namun wajah tegang itu berubah menjadi kecewa, sangat kecewa, ketika Bandi tersenyum sambil menatap wajahnya, perlahan melepaskan pelukan.

“Bandii,,, kenapa kau lepaskan aku,, peluk aku Bann,,, jangan biarkan lelaki lain menjamah tubuhku,,,” hati Zahra berteriak, dengan bibir yang terkatup rapat.

Tapi ini bukan salah Bandi, lelaki itu tidak tau apa yang dimaksud Pak Tama dengan meminjam. Yaaa,, meminjam tubuhnya, untuk melunasi janji yang terucap. Bandi mundur beberapa langkah, mempersilahkan atasannya untuk menghampiri Zahra. Lalu berjalan menuju meja mengambil botol yang masih tersisa setengah. Pak Tama menatap Zahra, meminta izin untuk meletakkan kedua tangannya dipinggul yang ramping. Dengan berat wanita itu menganguk, lalu balas meletakkan jari-jari lentik dipundak Pak Tama. Perlahan keduanya bergerak mengikuti alunan musik.

“Bu Dokter,,” bisik Pak Tama, merapatkan tubuhnya,

“Malam ini terlihat semakin cantik, aku selalu kagum dengan penampilan anda yang begitu anggun,” lanjut Pak Tama, membuat Zahra bingung harus bersikap.

Hati Zahra semakin kalut, matanya menatap Bandi yang mengawasi. Tatapan kosong, tak terbaca oleh Zahra. Sementara, dari deru Nafas lelaki yang tengah memeluknya, Zahra bisa merasakan hasrat yang memburu dihati lelaki berkumis tebal itu. merapatkan tubuh, berusaha mencuri-curi sentuhan dari bulatan payudaranya yang membusung.

“Terus terang, Aku tidak tau kapan harus menagih janji yang ibu ucapkan, karena aku tidak memiliki banyak kesempatan untuk mendekati ibu,,,” ucap Pak Tama.

Tidak seperti perkiraan Zahra yang menduga tangan kekar itu akan segera meremas kedua payudaranya dengan brutal, saat kaki mereka dengan perlahan menjauh dari keramaian.

“Aku adalah lelaki yang begitu mudah tertarik pada wanita, khususnya wanita seanggun Bu Dokter, yang selalu tampil begitu luar biasa,,,” sambung Pak Tama seraya merapatkan keningnya kekepala Zahra yang terbalut jilbab.

Zahra memejamkan matanya, merutuki keadaan. Tapi sialnya itu diartikan oleh Pak Tama sebagai persetujuan, tangannya yang berada dipinggul bergerak turun, dengan gemetar meremas pantat montok yang membulat padat. Sementara tangan kirinya bergerak keatas, coba mencumbu gundukan daging didada si wanita, dengan siluet puting mungil yang begitu nyata.

“Bandii,,,” ucap Zahra tanpa suara, saat melihat lelaki yang tadi masih mengawasinya melangkah menjauh, menuju sofa, dimana Anjani yang tengah mabuk digerayangi oleh Mang Kholil.

“Apakah Bandi melihat semua kenakalan Pak Tama pada tubuhku?,,,” hatinya bertanya-tanya dengan panik.

Tapi wanita itu juga bingung dengan cara kerja pikiranya, yang tiba-tiba merasa lebih tenang, karena tak ingin lelaki yang dicintainya menyaksikan ulah Pak Tama yang mulai menggerayangi tubuhnya dengan remasan-remasan nakal.

Nafas Pak Tama semakin berat, dua bongkahan payudara yang masih terbalut gaun menempel erat didada bidangnya. seakan-seakan lelaki itu ingin memasukkan seluruh tubuh Zahra dalam pelukannya yang kokoh. Kini wanita itu dapat merasakan hembusan Nafas khas lelaki yang menderu, menyapu wajahnya, aroma tembakau dan alkohol yang merangsek indra penciuman membuatnya merinding. Zahra tertegun, seolah sedang terhipnotis, mebiarkan Pak Tama melabuhkan ciuman dibibirnya yang terbuka, mengecup lembut, memberikan gigitan kecil dibibir bawahnya.

“Paak,,, cukup,,,” seru Zahra tersentak, saat merasakan lidah yang panas mencoba menyelusup disela bibirnya. Mendorong tubuh Pak Tama.

Lagi-lagi pikiran Zahra keliru, wanita itu mengira dirinya harus meronta kuat untuk melepaskan cengkraman Pak Tama dipinggulnya. Tapi nyatanya lelaki itu membiarkan tubuhnya lepas dari dekapan dan mundur beberapa langkah.

“Maaf Bu,, aku hanya menagih apa yang ibu janjikan,”

“Tapi tidak sekarang pak,,” jawab Zahra dengan jantung berdebar.

“Lalu kapan lagi, ditempat praktek Bu Dokter? Atau dirumah?,,, itu lebih tidak mungkin kan?” tanya Pak Tama.

Apa yang dikatakan lelaki itu ada benarnya, tidak mungkin dirinya membiarkan lelaki itu menggagahi tubuhnya di tempat prakteknya bekerja, apalagi dirumah. Seketika sesal kembali mencuat, kenapa harus terucap janji itu, sebuah izin akan kenikmatan dari tubuhnya yang bisa didapatkan oleh lelaki itu.

“Pak,,, aku meneyesal sudah mengucapkan janji itu, aku tidak mungkin melakukannya pak,,,mohon mengertilah,,, pintalah hal lain yang aku bisa memenuhinya,, aku mohon Pak,,,”

Kaki Zahra mundur beberapa langkah, mencoba menghindar dari Pak Tama yang melangkah mendekat.

“Bu Dokter, aku tau ini sangat sulit bagi ibu, kerena ibu bukan wanita yang begitu saja membiarkan tubuhnya digagahi lelaki lain. Seperti kata ibu,, tak ingin melakukan tanpa cinta,,, dan ibu bisa melihat sendiri bagaimana tampilan aku yang yang jauh dari kata tampan, yang tidak mungkin membuat ibu jatuh cinta,,,”

Pak Tama berdiri sambil merentangkan kedua tangannya, seakan ingin menunjukkan seperti apa dirinya, lelaki bertubuh besar dengan kumis lebat dan perut yang mulai berlemak. Seandainya dalam situasi yang berbeda, gaya Pak Tama tentu akan membuat Zahra tertawa. Hati Zahra yang awalnya takut menjadi kesal, bagaimana mungkin lelaki dihadapannya masih bisa mengajak bercanda saat hatinya begitu takut.

“Bu,,, maaf kalo ibu menganggap aku licik, memanfaatkan janji yang ibu ucap dalam kondisi kacau, tapi aku tidak tau lagi bagaimana cara untuk mendapatkan sedikit kenikmatan dari tubuhmu ini,,,”

Pak Tama memepet tubuhnya kedinding, tangan kanannya terhulur mengusap selangkangan yang tertutup long dress dari kain yang lembut. Kedua tangan Zahra segera menahan kenakalan Pak Tama, tapi tangan kiri lelaki itu segera menyusul, meremas payudaranya.

“Eeenngghhh Paaak,,, jangannn,,” kepala Zahra menggeleng, berharap lelaki itu sadar dengan apa yang tengah diperbuatnya.

“Pliss,,, aku mohon,,, hanya ini kesempatan terbaik yang aku punya,, tak ada yang melihat keberadaan kita disini, lagipula mereka sudah mulai mabuk,,,” rayu Pak Tama, mencari peruntungan.

Zahra terdiam, menatap sekitar, baru sadar tubuhnya telah digiring Pak Tama ke dinding, tersembunyi dibalik pohon hias yang ada dipojok tepi kolam renang, dekat dengan pintu keluar samping yang jarang digunakan.

“Pak,,,, aku,,,”

Zahra bingung, tak lagi memiliki cara untuk berkelit, tak lagi memiliki alasan untuk menepis tangan kekar yang perlahan meremas payudaranya. Hanya debar jantung yang semakin kuat. Tangan Pak Tama menyusur kebelakang, meraba setiap lekukan bagian atas tubuh Zahra,,,, seperti mencari-cari sesuatu.

“Maaf,,, boleh aku menagih sekarang,,” ucap Pak Tama, saat menemukan resluiting dari gaun putih panjang yang membalut tubuh dokter cantik itu.

Zahra membuang wajah ke samping, namun itu dianggap Pak Tama sebagai izin, menurunkan resluiting, lalu dengan perlahan mengusapi punggung yang terbuka. Mata Zahra terpejam ketika merasakan telapak tangan yang kasar dikulit punggung yang mulus, merangsek diantara belahan ketiaknya. Bulu kudunya merinding, pasrah menerima jamahan. Memang ada niat dihatinya untuk sedikit nakal di saat pesta, tapi hanya dengan Bandi, tidak dengan yang lain.

“Paaak,, aku tidak bisa melakukannya disini,,, aku mohon,, mengertilah pak,,,” pinta Zahra lirih, menahan tangan Pak Tama yang ingin menurunkan gaun dari pundaknya.

Dari celah dedaunan, mata wanita itu mengamati Bandi yang kini di goda oleh Anjani yang mulai mabuk. Menaiki tubuh Bandi, dan dengan ganasnya menciumi wajah dan leher lelaki yang hanya duduk pasrah menikmati service si betina mungil. Membuat Mang Kholil tersisih dan beralih mendekati Aida yang masih tampak kelelahan setelah melayani Rahadi. Beberapa orang terlihat mulai mabuk. Begitupun dengan Nabila, namun wanita itu masih berada di pelukan Darto yang sibuk menambahkan beberapa tanda kecupan di payudara kanan yang mencuat di luar gaun.

“Oowwgghh,,,” tiba-tiba tubuh Zahra gemetar tertahan saat selangkangannya kembali diusap dengan lembut. Usapan yang ringan namun mengena tepat dibibir vagina. Tanpa sadar pantatnya bergerak kedepan mengejar tangan Pak Tama. Menagih untuk usapan berikutnya.

Zahra membuang wajahnya ke samping tak berani memandang wajah Pak Tama yang tersenyum penuh kemenangan. Dengan riang jari-jari lelaki berkumis tebal itu menggelitik lipatan vagina milik wanita yang tak lagi berusaha menghindar.

“Eeemmmhhhh,,,” wanita berjilbab itu merintih tertahan, memejamkan mata dengan kuat saat jari tengah Pak Tama menusuk lipatan vaginanya, membuat celana dalam tipisnya ikut masuk ke dalam, menyentuh kacang mungil yang begitu sensitif.

Berkali-kali jari Pak Tama menusuk-nusuk, terkadang lembut, namun acapkali tusukan itu begitu kuat menggelitik pintu kelamin yang mulai basah. Tiba-tiba mata lentik Zahra menangkap tubuh Anjani yang bergerak liar di atas pangkuan Bandi. Naik turun dengan penuh semangat. Mungkinkah Bandi tengah menyetubuhi gadis mungil itu. Hati Zahra begitu menderita, merintih bertanya pada hati yang terluka, kenapa Bandi tidak mencumbu dirinya, padahal tadi tubuhnya telah pasrah untuk melayani apapun keinginan lelaki itu.

“Bandii,,,” ucap Zahra lirih, membuat Pak Tama ikut menoleh mencari sosok Bandi.

“Pak,,, apa mereka sedang bercinta?,,,” tanya Zahra, seolah ingin meyakinkan apa yang dilihatnya.

“Mungkin,,,” jawab Pak Tama ditelinga wanita yang masih tertutup jilbab itu.

Berbeda dengan Zahra, Hati Pak Tama justru bersorak girang.

“Thanks Bandii,,, Its time for me,,,”

Melihat kesempatan yang baik, dengan perlahan wajah Pak Tama menunduk lalu menciumi gundukan payudara yang hanya tertutup gaun tipis, lidahnya dapat merasakan puting kecil yang mencuat.

Baca JUga Cerita Sex Lain nya di gelorabirahi.com

“Oooowwhhhh,,,, Eeenngghhh,,,” bibir wanita itu melenguh saat lidah yang basah berlabuh di puting mungilnya. Kain tipis yang melindungi payudaranya dengan capat basah oleh ludah Pak Tama.

Merintih saat bagian kecil dipuncak gunung yang hangat dihisap, dicucup, disedot dengan cara yang lembut. Meringis saat kumis yang tajam menembus kain dan menusuk gundukan payudaranya. Perlahan mata Zahra turun, menatap sendu lelaki yang tengah menyusu dipayudaranya dengan begitu bersemangat, menjilati puting yang mengeras di balik kain tipis. Mata bening itu beralih memandang kekejauhan, pada sosok mungil yang naik turun bergerak penuh semangat, layaknya mengendarai banteng rodeo, sesekali gadis yang gaun atasnya sebagian telah melorot itu menunduk, membiarkan pejantan yang ada dibawahnya untuk menyucup payudara. Menggeliat menikmati permainan lidah yang panas.

“Bandi,,, Seharusnya kau yang menikmati tubuh ini,,, tapi kenapa kau lebih memilih gadis itu daripada diriku,,,” hatinya sangat kecewa, tapi sedikitpun tidak ada amarah, Karena kondisinya kinipun jelas akan membuat Bandi marah. Karena dia tau, Bandi bukan pria yang bertindak semaunya, tapi sialnya dirinya sedikitpun tidak tau apa alasan Bandi melepaskannya.

Zahra menyandarkan kepalanya ketembok, bibirnya melenguh saat puting kecilnya digigit dengan lembut.

“Ooowwhhhh,,, Paaak,,, kenaapaaa digigiiit,,,,”

Tapi Pak Tama justru tertawa, lalu kembali memainkan puting mancung layaknya milik para gadis remaja.

“Eeeeengghhh,,, Eeemmmpphhh,,,” Zahra mengatup rapat bibirnya, kepalanya mengeleng-geleng berusaaha mengenyahkan rasa nikmat yang merambati tubuhnya.

Walau bagaimanapun Zahra adalah seorang wanita normal, sulit untuk mengingkari segala kenikmatan yang diberikan oleh Pak Tama. Cumbuannya bersama Bandi selama berdansa membuat tubuhnya menagih lebih. Merasa yakin wanita yang dicumbunya telah bisa menerima apa yang tengah mereka lakukan. Pak Tama berusaha menurunkan gaun Zahra, lidahnya sudah sangat gatal untuk merasakan langsung lembutnya puting yang ada dalam genggaman.

“Paaak,,, jangan disini,,, jangan disiniii,,,” elak Zahra. Menahan gaunnya.

Lelaki itu tersenyum, tersenyum sangat lembut dibalik kumis tebal yang melintang. Menatap Zahra dengan pandangan yang sedikit berbeda.

Membuat si wanita salah tingkah, ada sesuatu dimata Pak Tama, pandangan penuh kasih yang tadi siang dilihatnya dari mata Bandi.

“Buu,,, seandainya ibu tau,, aku selalu mengaggumi ibu. Aku selalu terpesona setiap ibu mampir ke kantor, seorang wanita yang energik, cerdas, namun juga begitu lembut, aku selalu mendambakan punya pasangan seperti ibu,,,” ucap Pak Tama coba merayu.

Tak ada wanita yang tidak tersangjung bila dipuji. tapi Zahra menggeleng, seakan menyatakan usaha Pak Tama akan sia-sia.

“Maaf aku bukan sedang merayu untuk mendapatkan tubuh Bu Dokter,” Pak Tama kembali membetulkan gaun Zahra.

Sikap Pak Tama membuat Zahra benar-benar salah tingkah. Zahra bukan wanita yang mudah tertarik pada pesona seorang pria, tapi hati yang limbung membuat segalanya menjadi tak menentu.

“Lalu apa yang bapak ingin sekarang?”

Pertanyaan yang lugas dan tegas, kini giliran Pak Tama yang bingung. Bohong bila dirinya tidak menginginkan tubuh wanita yang kini ada di depannya.  Bisa saja dirinya memaksa wanita yang kini ada didepannya untuk melayani hasratnya atas dasar janji yang diucap. Tapi entah kenapa hal itu tidak dilakukannya. Bibirnya justru tersenyum lalu tertawa.

“Hehehee,,, maaf,,, aku benar-benar minta maaf sudah memperalat ibu, aku menjadi merasa sangat berdosa pada ibu, lupakanlah janji itu. Tapi,,, emmhh,, boleh aku mengecup bibir ibu,,,”

Zahra sangat kaget dengan perubahan Pak Tama, tapi ia bisa menangkap kesungguhan seorang lelaki yang disampaikan dalam keremangan malam. Wanita itu mengangguk, memejamkan matanya, membiarkan bibir Pak Tama berlabuh dibibirnya yang hangat.

“Terimakasih Bu,,,” ucap lelaki itu setelah melepaskan bibir Zahra, memenuhi janjinya, hanya sebuah kecupan.

“Sebenarnya pengen lebih lama sih,,, tapi takut tegangan ini aku naik lagi,,,” Pak Tama mencoba berkelakar sambil menunjuk selangkangannya.

Tapi hanya dijawab Zahra dengan senyuman, senyum manis yang begitu memikat kelelakian Pak Tama. Tampak wanita itu berusaha untuk bertahan, tidak terlena dengan kehangatan yang ditawarkan Pak Tama.

“Aku lebih suka melihat ibu tersenyum seperti ini daripada merintih karena itunya aku tusuk,,,hehehe,,”

Kali ini mau tidak mau Zahra tertawa, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Lalu mencubit tangan Pak Tama.

“Ayo kita kembali ke sana,,,” ajak Pak Tama, menggandeng tangan si wanita.

“Pooong !!!,,,” Selesai begitu saja? Zahra tertegun, apakah Pak Tama telah menyerah untuk mendapatkan tubuhnya. Sisi kewanitaannya yang liar cepat mengambil alih. Entah kenapa rasa Kecewa menyergap hatinya, kecewa dengan sikap Pak Tama yang mengangkat bendera putih. Masih dirasakannya gaunnya yang basah setelah dijilati Pak Tama, rasa gatal pada bagian puting yang baru saja menerima gigitan nakal seorang penjantan. Tapi wanita itu berusaha menghormati keputusan Pak Tama, keputusan yang menyelamatkan kehormatannya sebagai seorang wanita, keputusan yang menyelamatkannya dari rasa bersalah kepada Bandi dan Darto.

“Paaak,,, maaf aku tidak bisa memenuhi janji aku,,, tapi,, emmh,, kalau bapak ingin memeluk aku,,, eenghh boleh koq,” tawar Zahra tiba-tiba.

Entah apa yang dibenak wanita itu. Benarkah sekedar ucapan terimakasih atas aksi heroik Pak Tama?

Pak Tama tertawa, lalu merentangkan kedua tangannya. Membiarkan si wanita yang masuk kedalam pelukannya. Dengan malu-malu Zahra mendekat, menempelkan tubuhnya, dan membiarkan tangan yang kekar mendekap erat tubuh. Tangannya balas memeluk punggung Pak Tama. Masih dengan gaya yang malu-malu, Zahra menekuk wajahnya dileher yang berkeringat, memancarkan wewangi tubuh seorang lelaki. Seketika tubuhnya merinding, otaknya merespon aroma seorang pejantan. Lama keduanya terdiam, terdiam dalam kisruh yang melanda hati, tanpa disadari pelukan tangan Zahra justru semakin erat.

Pelukan memang selalu mampu memberikan kedamaian, semakin erat Zahra memeluk, semakin dirinya merasakan sisi kewanitaannya. Kodrat sebagi wanita yang juga membutuhkan kehangatan. Kodrat sebagai wanita cantik yang memiliki tubuh indah yang menjadi pelampisan hasrat pandangan para lelaki. Pak Tama berusaha menaikkan kembali resluiting yang terbuka. Entah kenapa tiba-tiba dirinya merasa sangat menyayangi istri bawahannya itu. Kebersamaan selama liburan memang membuat interaksi di antara mereka menjadi lebih intens, meski kadang dilakukan dengan cara yang nakal.

“Pak,,, emmhh,, biarin aja,,,” ucap Zahra terbata.

“Deg,,,”, Pak Tama terdiam,,, pikirannya tidak berani berasumsi macam-macam, apa maksud dari kalimat yang terucap tepat disamping telinganya. Lalu kembali mengusap-usap punggung yang terbuka, menikmati kehalusan kulit seorang Zahra.

“Kamu ngga dingin?,,,” ucap Pak Tama memecah sunyi.

“Dingin bangeeet,,,”

Pak Tama semakin bingung, kenapa wanita itu justru menolak saat tangannya ingin mengancingkan resluiting untuk menutupi tubuhnya. Apa yang diinginkan wanita itu. Tapi dirinya hanya berani memeluk, meski hasratnya kembali terpercik. Tiba-tiba Pak Tama merasakan kecupan lembut di lehernnya, hanya sesaat, tapi itu cukup untuk membangkit gairah kelelakiannya. Tangannya kembali beredar, mengusap setiap sisi pundak dan punggung yang terbuka.

“Paaak,,,”

“Maaf sayaang,,, maaf,,,” ucap Pak Tama, menarik tangannya kembali ke belakang setelah memberikan remasan nakal di payudara yang membusung.

“Paaak,,, Sentuh dari dalam,,,”

“DEG,,,” Pak Tama kaget, tapi telinganya tidak mungkin salah dengar. Kata-kata itu diucapkan begitu dekat dengan telinganya. Lalu kembali meremas payudara dengan lebih kuat, gairahsex.com untuk meyakinkan apa yang didengarnya.

“Emmmpphh,,, Paaak,,, sentuh dari dalam,,”

Pak Tama semakin bingung. Melepaskan pelukannya, memegang sisi gaun Zahra, saling tatap dengan mata bening yang indah.

kisah sex 2016, kisah sex terbaru, kisah sex, kisah seks 2016, kisah seks terbaru, kisah seks, Gairah sex

Ditingkahi Nafas yang memburu, wanita itu mengangguk. Setelah mengambil Nafas, Pak Tama coba menurunkan gaun dari pundak Zahra. Di kegelapan matanya masih dapat melihat kemulusan pundak si dokter cantik. Zahra menatap wajah Pak Tama, dengan tangan yang gemetar berusaha melolosi kain yang dikenakannya. Ada rasa bangga dihati saat melihat binar mata sang pejantan yang mengagumi payudara yang terhampar di depan wajah.

“Paaaak,,, iniii punyaaa sayaa,,, seperti iniii punyaaa saayaaa,,,” lirih suara Zahra saat kedua payudaranya mulai disapa, diusap, dan diremas berulang-ulang.

“Indah banget Bu,,, besar,,, kencang,,, mancung seperti anak remaja,,,” Mata Pak Tama tak beralih dari sepasang daging yang terus diremasinya. Tak menghiraukan kondisi si wanita yang mulai terengah-engah.

“Buuu,,, boleehh sayaa,,,”

Sambil beradu pandang, Zahra meremas rambut Pak Tama,

“Sebentar aja ya Pak,,,” ucapnya gemetar, lalu menarik kepala Pak Tama kepayudara kirinya.

“Aaahhhss,,”

“Aaaahhh,,,” bibirnya mendesis setiap lidah Pak Tama berlabuh. Ada rasa gregetan saat menyaksikan lelaki itu hanya menjilat-jilat putingnya yang mengeras.

“Paaaak,,,”

Masih dengan lidah terjulur, mata Pak Tama melirik ke atas.

“Paaaak,,, maaf,,,,” ucap Zahra pelan, lalu menjambak rambut Pak Tama, bukan mendorong, tapi membenamkan wajah lelaki itu pada kenyalnya daging yang membusung menantang.

“Owwwgghhh,,,” bibirnya terpekik,,, menatap nanar mulut lelaki yang melumat bulat payudara, mengunyah dengan sedikit kasar. Membuat tubuh wanita itu semakin tersandar ke dinding. Belum lagi kumis yang menusuk-nusuk kulit yang memiliki tekstur sangat lembut, membuatnya harus menggigit bibir, meredam rasa geli.

Tubuh Zahra semakin merinding saat pahanya tersentuh oleh sesuatu yang keras, yang tersembunyi di balik selangkangan Pak Tama.

“itu penis Pak Tama,,,” pekik hati Zahra,

“Penis yang tadi pagi hampir saja memasuki liang kemaluanku, penis yang menghambur sperma di depan vaginaku,”

Kunjungi JUga beritaseks.com

Zahra membiarkan penis Pak Tama bermain-main dengan pahanya. Membiarkan lelaki itu menggesek-gesek batang yang mengeras kesetiap sisi bagian bawah tubuhnya.  Tubuhnya merespon dengan mendorong pantatnya ke depan, seolah meminta agar batang itu menggeseki bibir vagina yang gemuk. Gayung bersambut, Pak Tama menatap Zahra, lalu menggesekkan batang yang sudah sangat mengeras kebagian cembung dari selangkangan. Tak ingin kalah, si wanita justru semakin mendorong pantatnya kedepan, seakan berkata inilah milikku, mana milikmu,,,Semakin kuat gesekan, semakin cepat Nafas Zahra membuuru. Tak puas dengan gesekan batang penisnya yang terhalang oleh celana, Tangan Pak Tama terhulur turun. Dibawah tatapan si wanita, telapak tangannya mengusap lembut vagina berbalut kain, membuat pemiliknya mendesah tertahan.

“Buka lebih lebar, Bu,,,” pinta Pak Tama, yang segera dikabulkan si empunya dengan melebarkan paha. Tapi gaun yang ketat membuat gerakannya terhalang.

Zahra mengangguk, menyetujui usaha tangan Pak Tama yang bergerak ke belakang tubuhnya, menarik turun resluiting hingga ke sudut mati, tepat di depan pantat si wanita. Lalu perlahan menyelusup, meremas pantat yang membulat padat yang hanya dilapisi celana dalam tipis. Zahra cepat menarik tangan Pak Tama, bukan untuk mengenyahkan tapi agar masuk langsung kebalik celana dalamnya, lalu kembali memeluk tubuh Pak Tama. Entah apa yang ada di kepala Zahra, saat mengatup rapat bibirnya, membiarkan telapak tangan yang kasar menyelusup ke balik celana dalamnya. Menyusuri belahan pantatnya, menggelitik liang anusnya,,, dan,,,

“Ooowwwhhh,,,, Paaaak,,,,” tubuh wanita itu melejit seketika, gemetar ketika bagian paling sensitif ditubuhnya merasakan sentuhan dari kulit yang kasar. Meski bisa menebak arah yang dituju oleh tangan Pak Tama, tetap saja tubuhnya kaget.

Bila tadi pantatnya terdorong ke depan, kini pantat yang membulat itu justru menungging ke belakang.

“Eeeenggghhh,,,

“Lembut bangeeet Buuu,,, vaginamu lembut bangeeet,,, sayaang,,,”

Mendapatkan pujian itu Zahra justru mencubit pinggang Pak Tama.

“Emmhh,,,kalo pintu rumah baru keraass,, Pak,,” ucapnya disela Nafas yang naik turun.

“Paaak,,, janggann tusuuuk terlaluuu dalaaam,,, geliiii,,,” rintihnya, namun pinggulnya justru bergerak mengejar jari Pak Tama yang bergerak keluar. Seakan berharap jari yang kasar itu tetap berada di dalam liang kemaluannya.

“Bibirmu mana sayaaang,,,” seru Pak Tama.

Zahra seperti kesurupan, seperti bukan dirinya yang biasa, seperti wanita yang telah lama tidak merasakann jamahan tangan seorang lelaki, seperti wanita yang begitu haus akan belaian manja seorang lelaki. Wanita itu tidak mengelak saat Pak Tama melabuhkan bibir, berusaha menyelusup ke dalam mulutnya, menghirup aroma Nafas dari hidung mereka yang bertemu, membiarkan lelaki itu mengecapi lidahnya, menyedot ludah dengan sangat rakus. Tangan Pak Tama tak lagi bergerak, terdiam di dalam liang kemaluan yang basah, terkonsentarasi pada bibir Zahra. Merasa kenikmatan yang tengah dirasakan oleh selangkangannya terhenti, pinggul wanita itu reflek bergerak sendiri, memainkan bibir vagina pada telapak tangan yang kasar dan jari tengah yang menusuk kedalam lorong yang membanjir.

“Paaaaak,,, eeengghhhh,,, aaahhssss,,,” Zahra terengah-engah, pantatnya bergerak semakin cepat, seolah tengah mengawini tangan kekar yang mematung di selangkangannya.

Melihat keadaan Zahra, dengan cepat tangan kiri Pak Tama mengeluarkan batang penisnya, lalu menarik tangan Zahra agar menggenggam. Mata Zahra melotot, tidak menyangka, dirinya yang selalu mengenakan penutup kepala kini justru menggenggam batang kemaluan, milik atasan suaminya.

“Buuu,,, biarkan penis aku yang melakukannya Bu,,,,”

Dengan pinggul yang masih bergerak menyenggamai tangan Pak Tama, wanita itu menggeleng, wajahnya tampak pucat mengejar orgasme yang bersiap menghampiri. Tapi wanita itu tidak mengelak saat Pak Tama dengan tangan kirinya berusaha menyingkap gaun panjangnya ke atas.

“Bu,,, bantu aku menuntaskan hasrat aku Bu,,, aku janji tidak akan menusuk liang kemaluan ibu,,, cuma jepitin dengan paha ibu seperti tadi pagi.,,,” mohon Pak Tama, sambil terus menarik gaun Zahra ke atas. Tapi terlalu sulit, gaun itu membekap cukup ketat.

“Bu,,, ikut sayaa,,” pinta Pak Tama tiba-tiba, menarik tangan dari selakangan, lalu membopong tubuh Zahra yang tengah sakau akan orgasme, keluar melalui pintu yang ada di samping mereka bercumbu.

“Paaaaak,,, bapak mau ngapain?,,,” tanyanya saat tiba di tembok luar, Pak Tama membalik tubuhnya ke arah tembok.

“aku mohooon Paaak,,, jangan ingkari janji bapaaak,,,” pinta Zahra pada lelaki yang kini berusaha menarik gaunnya lebih tinggi. Lalu dengan cepat menurunkan celana dalamnya.

“Oooowwgghhh,,, Paaaak,,, Ooogghhh,,,” Zahra tidak menyangka, vaginanya yang tak lagi memiliki pelindung dilumat dengan rakus. Tubuhnya menggeliat liar. Kumis yang ikut menusuk kulitnya, membuat pinggul wanita itu bergerak tak menentu.

“Zahraaaaa,,,Sluuuurrpppsss,,,,Memeeeqmuuu,,, ooowwhhss,,,sluuurrrppss,,,”

Pak Tama tak menyangka, akhirnya bisa merasakan cairan gurih dari seorang wanita bernama Zahra, selama ini matanya hanya bisa memandang bulatan pantat dan selangkangan yang selalu tertutup kain itu. hanya bisa membayangkan seperti apa bentuk dari benda yang ada di dalamnya. Selama ini, otak mesumnya hanya bisa berkhayal, kenikmatan seperti apa yang ditawarkan oleh liang surga seorang wanita cantik yang selalu mengenakan jilbab. Tapi kini,,, selangkangan wanita itu bergerak mengikuti kemanapun lidahnya menari.

Memohon lidahnya masuk lebih dalam, mengais-ngais cairan yang terus merembes keluar. Berkali-kali Pak Tama menyedot bibir vagina yang mengeluarkan cairan bening, begitu haus mengecapi vagina yang teramat basah. Tak henti-henti pula bibir wanita itu mendesis dan menjerit ketika bibir Pak Tama menyedot terlalu kuat.

“Sudaah ya paaak,,, aku takut kebablasan,,,” mohon Zahra ketika Pak Tama menghentikan aksinya, memutar tubuhnya berhadapan.

“Bu,,, aku akan menepati janji saya,, tapi bolehkan kalo aku nyelipin di paha ibu seperti tadi pagi,,,” pinta Pak Tama.

“Tapi pak,,”

“Buu,, apa aku pernah mengingkari janji?,,, aku hanya butuh penyelesaian, Bu,,,” potong Pak Tama. Kisah Sex

Zahra memandang wajah Pak Tama dengan bingung, memang hingga saat ini atasan dari suaminya itu selalu menepati janji. Akhirnya, dengan berat hati Zahra mengangguk, membiarkan lelaki itu mendekat, lalu membuka pahanya lebih lebar. Pak Tama harus sedikit menekuk kakinya untuk memposisikan batangnya berada tepat di bawah vagina Zahra.

“Eeengghh,, Paaak,,, koqhh,, sepertii iniii,,,” protes Zahra, merasakan batang itu justru menggesek-gesek bibir vaginanya yang basah.

“Maaf Bu,,, posisinya sulit bangeeet,,,” jawabnya sambil menekuk kaki semakin dalam, berusaha menggesek batangnya lebih kebawah.

Sambil menahan rangsangan Zahra mengamati posisi Pak Tama yang memang sulit.

“Eeengghh,,, yaa sudaaaah,,, tapi tolooong paaaak,, janggann sampaai massuuukk,,, Aaaahhhsss,,,”

“Buuuu,,, nikmaaat bangeeeet,,,Eeesshhhh,,,” Pak Tama memandang wajah Zahra sambil mendesis nikmat, bergerak maju mundur menyenggamai bibir vagina yang sangat basah.

Sementara Zahra hanya bisa mengagguk, tubuhnya ikut bergerak, menyambut setiap tusukan yang menyusur di depan bibir vagina. Hati Zahra mulai goyah saat memandangi wajah Pak Tama, wajah yang galak tapi tegas, dengan rahang yang lebar layaknya wajah sang legenda Gajahmada. Hanya saja kumisnya terlalu lebat. Hati Zahra tersenyum sendiri.

“Seandainya kumis itu dibersihin, meski sudah memasuki usia paruh baya, pasti lelaki ini akan terlihat lebih cute,” bisik hati Zahra.

“Paaak,,, Terimakasih,,, selalu menemani saat hatiku sedang kacau,,,” ucap Zahra tiba-tiba, membuat Pak Tama kaget, Memandang wajah Zahra.

“Ingin sekali aku membiarkan punya bapak masuk ke dalam tubuh aku, tapi aku,,, aku akan merasa sangat bersalah,,, maaf ya pak,,,” lanjutnya. Tangannya mengusap wajah Pak Tama.

“Aku juga tidak akan meminta lebih koq Bu,,,, aku bisa mengerti kondisi ibu,,” Pak Tama menghentikan gerakan pinggulnya. Membuka tangannya lebar, mengajak tubuh Zahra masuk ke dalam pelukannya.

Tapi Zahra menggeleng, menolak ajakan Pak Tama, dengan gaya yang manja memanyunkan bibirnya. Tangannya yang masih mengusapi pipi berpindah mengusap kumis yang lebat. Lalu iseng menyelipkan telunjuknya di bibir Pak Tama. Birahi membuat wanita itu ingin berlaku nakal, seperti Nabila dan lainnya. Di balik tembok tempat dirinya bersandar, ada suaminya yang terus menemani Nabila, ada Bandi, cinta masa lalu yang kini kembali menyulut gelora cinta yang terpendam. Tapi lelaki itu kini berada dalam dekapan wanita lain. Dan ditempat ini,,, hanya ada dirinya dan seorang pria yang sangat menggilai tubuh dan kecantikannya. Tak ada yang tau jika dirinya membiarkan batang keras yang berada tepat di selangkangan memasuki tubuhnya.

“Paaak,,, bapak diam aja yaa,,,”

Tangannya mencengkram pinggang Pak Tama , lalu menggerakkan pinggulnya, menggesek bibir vagina pada batang yang mengeras layaknya kayu.

“Eeemmmpphhh,,, Eeemmmppphhhh,,,” Zahra merintih.

Birahi mengambil alih akal sehatnya, menyilangkan kedua pahanya, membuat penis Pak Tama sulit untuk menyelusup hingga akhirnya merangsek ke atas, membelah gerbang kemaluannya.

“Oooowwhhsss,,, Paaak,” Zahra terpekik, helm besar itu hampir saja menerobos memasuki kemaluannya. Segala sarafnya menegang.

Dengan menyilangkan kedua paha. Otomatis helm penis itu kini bergerak kesatu arah, bergerak intens menguak gerbang vagina yang basah. Tapi jepitan pahanya terlalu kuat, membuat batang itu tertahan di pintu masuk.

Zahra panik, sementara Pak Tama mulai menggerakkan batangnya, terus mencoba merangsek masuk.

“Sayaang,,, berbalik yaaa,,,” pinta Pak Tama dengan gemetar, tak tahan dengan gaya nakal Zahra.

“Paaak,,, cepet selesein yaa,,,” Zahra menatap Pak Tama, pandangan yang mengundang lelaki itu untuk menikmati tubuhnya secara nyata.

Setelah menghadap tembok, wanita yang masih mengenakan jilbab itu menoleh ke belakang, sekali lagi menatap wajah mesum Pak Tama, lalu merentang lebar kakinya.

“Zahraaaa,,, kamu nakal Zahraaa,,, kamu nakaaaal,,,” teriak hatinya, seiring tubuhnya yang perlahan membungkuk, menunggingkan pantat montok yang membulat ke depan penis Pak Tama.

Tak ada pertahanan sedikitpun, sangat mudah bagi Pak Tama untuk menusuk vagina dokter cantik itu.

“Buuuu,,, tubuhmu benar-benar indah,” Pak Tama mendekat, meremas bongkahan daging yang tersaji, memposisikan batang tepat didepan gerbang vagina yang terkuak basah.

Wanita itu memejamkan matanya, dengan jantung berdebar menunggu penis Pak Tama menguak bibir vaginanya dengan perlahan.

“Ooowwwhhh,,,, Pak,,,”

Tapi tiba-tiba batang itu melengos keluar, hanya menyusur lipatan bibir vagina. Tangan Zahra mencengkram pohon kecil yang ada disampingnya dengan gregetan. Zahra bingung, kenapa hatinya justru kecewa saat batang itu urung memasuki tubuhnya. Seharusnya ia bersyukur. Sementara Pak Tama menggeram, menahan hasratnya. Bergerak menyetubuhi wanita yang telah pasrah hanya dari sisi luar.

“Buuu,,, aku akan selalu berusaha menepati janji aku,,, Eeemmpphh,,,” Tangannya merengkuh kedepan, menggenggam sepasang payudara yang menggantung.

“Terimakasih Pak,,,” jawab Zahra setengah hati. Membiarkan tubuh dibelakangnya bergerak menggeseki bibir vaginanya. Membiarkan tangan lelaki itu menggerayangi setiap bagian tubuhnya

“Buuu,,, aku tidak tau seperti apa rasa nikmat dari lorong kemaluan ini,,,,”

Sesekali dengan nakal Tama memasukkan sebagian jamur penisnya ke bibir vagina seperti sengaja menggoda Zahra. Berkali-kali pula bibir tipis itu merintih kecewa saat jamur yang besar, memasuki sebagian lipatan vagina, tapi kembali melengos keluar.

“Bu,,, pegangin punya aku Bu,,,” pinta Pak Tama, menarik tangan kanan Zahra kebatang yang ada diantara kedua pahanya.

“Basaaaah,,, batang ini sudah sangat basah,,,” pekik hati Zahra saat menggenggam penis Pak Tama yang penuh dengan cairan yang keluar dari bibir kemaluannya.

Pak Tama kembali menggerakkan pinggulnya, namun saat ini kendali batang penis lelaki itu berada dijari lentik Zahra sepenuhnya. Jari lentik itu dapat mengarahkan batang besar kemanapun dirinya mau.

“Oooowwwhhhssss,,,Paaak,,,” Zahra terkaget, saat jari-jarinya menekan penis itu menyusuri bibir kemaluan.

Akibat tekanan dari tangannya, Sentuhan yang dirasakan oleh bibir vaginanya terasa lebih kuat. gairahsex.com Membuat tubuhnya menggelinjang. Begitu pun pak Tama yang merasakan batangnya terjepit di antara telapak tangan dan bibir kemaluan. Semakin cepat pinggulnya bergerak menusuk, semakin kuat tangan wanita itu menekan ke selangkangannya.

“Buuu,,, aku tidaaaak kuat Buu,,,, masukin Buu,,, Ooowwhhh,,, biarkan batang aku menjamah bagian terdalam memek ibu,,,Buuu,,, memek muuu manaaaa,,, masukin Buuu,,, sayaa mohooon,,,jepit kontol aku kedalam memek ibuuu,,,” Pak Tama mulai meracau vulgar, meminta kenikmatan yang lebih. membuat birahi Zahra semakin terbakar.

Bibirnya mendesis, badannya menggeliat tak menentu, pantatnya bergerak melakukan perlawanan, telapak tangannya dengan kuat menekan batang ke belahan bibir vagina. Di antara kewarasan yang tersisa, Zahra mengumpat kesal, lelaki yang tengah menunggangi tubuhnya itu memiliki kuasa penuh untuk menikmati liang kemaluannya, tapi kenapa justru meminta dirinya untuk melakukan.

“Aaaahhhsss,,, jangan paaaak,,, jaannggaann buat sayaa sepertii perempuaaan murahaaann,,, Ooowwwhhsss,,,”

“Buuuu,,,, saayaaa berusahaaa menepatii janjii sayaa,,, sekaaraang tepati janjii ibuuu,,, plisss sayaanng,,,”

“Oooowwhhhssss,,,,, siaaaaal,,,” Zahra mengumpat kesal. Haruskah ia mendustakan prinsip yang selalu dipegangnya, hanya akan melakukan di atas dasar cinta.

Sementara batang Pak Tama semakin sering menyelinap ke dalam, membuat alat senggamanya berteriak menagih sebuah hujaman batang penis yang sesungguhnya.

“Paaaak,,, jangan buaaat sayaa merasaaa berdosaaa, paaakk,,, aaaaeeenggghhhss,,,”

Zahra semakin menungging, berusaha memamerkan sebagian pintu vaginanya ke mata Pak Tama, di kegelapan. Sisi liarnya berharap lelaki itu bersedia merojok pintu vagina yang terbuka lebar di depan penis yang mengacung.

“Ooowwwwhhhh,,, paaaak,,,, haaaampiiirr paaaak,,,” jantung Zahra berdebar kencang, ketika kepala jamur yang besar tanpa sengaja berhasil melewati pintu vaginanya. Tapi dengan cepat Pak Tama menarik kembali batangnya.

“Aaaawwwwhh paaaak,,,”

“Paaaak,,, kenapaaa punya sayaa digituiiiin,,,”

“Eeeengggghh bapaaaak curaaaang,,,” jerit Zahra.

Sadar kejadian tadi bukan suatu ketidaksengajaan, tapi Pak Tama memang tengah bermain dengan lorong bibir vaginanya. Hanya memeasukkan sebagian kepala jamur, lalu kembali menarik keluar. Terus dan terus,, membuat Zahra menggila.

“Bandii,, maafin Zaa,, maafin Zaa,,, Zaa ngga kuaaat sayaang,,,”

Air mata menetes dari mata yang bening, saat tangannya menggengam kuat batang Pak Tama, membuat pinggul lelaki itu berhenti bergerak. Dengan jantung berdebar Zahra perlahan meletakkan kepala penis itu tepat digerbang peranakannya, dengan kaki dan paha yang gemetar, pantatnya bergerak menekan, membuat batang Pak Tama perlahan menghilang kedalam alat senggama.

“Oooowwwssshhh,,,,, aaahhh,,,,,” seketika bibirnya melenguh saat rongga yang basah merasakan tekstur dari batang yang keras. Terus dan terus masuk hingga kebagian terdalam.

“Buuuu,,, terimakasih Buuuu,,,, punyamu benar-benar nikmaaat,,, owwhh,,,”

Zahra mengagguk lemah,

“Silahkan paaak,,, silahkaan bapaaak nikmatii,,, aku sudah memenuhi janji sayaa,,”

Pak Tama mengecup punggung Zahra yang terbuka, mencengkram bulatan pantat yang tengah dibelah oleh penis besarnya. Lalu bergerak menyenggamai wanita yang jilbabnya tampak lusuh, pasrah akan apapun yang akan dilakukan si lelaki.

“Oooowwhh,,,, Akhirnya aku bisa ngentotin memek istrimu, Dartooo,,,”

“Bannnddii,,, pacaaaarmu aku entotin, Bannn,,,” teriak Pak Tama di telinga Zahra, pantatnya bergerak

Zahra meradang mendengar kata-kata Pak Tama. tangan kekar lelaki itu begitu kuat mencengkram pinggulnya, vaginanya dengan cepat ditusuki batang yang begitu keras.

“Bannnddii,,, memeknya benar-benar nikmat, Bannn,,,” semakin kasar kata-kata yang keluar dari mulut Pak Tama, semakin cepat lelaki itu menghentak vagina si Dokter cantik.

“Maaaasss,,, aku disetubuhi bosmu maaass,,,”

“Bannnddii,,, tolong aku, Banddii,,,”

“Eeeeengghhh,,,,” suara rintihan Zahra begitu memelas.

Tubuhnya terguncang menerima hentakan yang kasar, tapi siapa yang menyangka bila pantat mulus yang membulat itu justru semakin menungging, bergerak liar menerima setiap tusukan. Menggenggam tangan Pak Tama yang kini meremasi kedua bulatan payudara, menjadikannya sebagai tali kekang untuk mengatur gerak tubuh siwanita.

“Oooowwwhhhssss,,, Paaaaakkk,,, sayaaa ngga kuaaaat,,,,”

Kata-kata kasar Pak Tama justru membuat dirinya bersiap menerima badai orgasme.

“Sayaaa keluaaaaar,,, Aaaarrggghhhsss,,,”

“Sayaaa keluaaaaar,,,,” tubuh indah itu menari menggelinjang, menahan batang Pak Tama jauh di dalam lorong, mencengkram erat sambil memuntahkan cairan yang menyiram kepala jamur.

“Buuuu,,, sayaa juga buu,,,, sayaaa jugaaaa Aaarrrgghh,,,”

“Sayaaa semprot memeeek ibuuu,,,”

“Paaaak,, jangannn di dalaaaam,, jangan didalam,” tersadar dari buai orgasme, berubah menjadi panik.

Tangannya dengan cepat menggenggam batang yang hendak kembali menusuk,, dan,,,

“Aaaarrgghh,,,,” tubuh Pak Tama mengejang, sperma menghambur dalam genggaman tangan si wanita, tepat didepan bibir vagina. Sebagian menyemprot celah kemaluan yang masih terbuka.

Zahra panik, menarik tubuhnya,,, jari tengahnya dengan cepat mengorek kelorong kemaluan, berharap bisa mengeluarkan cairan sperma yang bisa saja menyelusup ke dalam, meski dirinyapun tak yakin ada cairan yang berhasil menyelusup masuk. Lalu membersihkan ceceran kental yang menghias dibibir vagina dengan gaun panjangnya.

“Bandii,, Bandii,,,” wajah Zahra pucat seketika, matanya menangkap sosok Bandi yang berdiri tepat di pintu keluar.

Lelaki itu terlihat syok dengan apa yang dilihatnya. Tak mampu berkata apapun, hanya amarah yang meluap.

“Bannnddii,,, jangannn pergi Bannn,,, aku bisa menjelaskan semua ini Bannn,,,”

“Bannnddii,,, jangan pergi lagi sayang,,,” rengek Zahra, dengan tangis yang memecah suasana. Cerita Sex

“Buuu tunggu, bu,,, maafkan aku,,,” Pak Tama berusaha menahan tangan Zahra, berniat untuk menenangkan. Sekaligus tidak tega melihat wanita itu menangis.

“Pak, perjanjian kita sudah selesai. Segala janji yang terucap telah aku penuhi,,, tolong jangan ganggu aku lagi,,, aku mohon dengan sangat,,” ucapnya sambil terisak, berusaha melepaskan pegangan Pak Tama. Lalu berlari mengejar Bandi ke dalam cottage.

Sebagian tubuhnya masih terbuka, bahkan payudara kanannya masih tertinggal di luar gaun, tapi wanita itu terus berlari mengejar Bandi. Tak menghiraukan pandangan Mang Kholil yang tengah menyetubuhi Shita yang terbaring di atas sofa. Tak peduli pada ulah Kontet yang tengah meremasi payudara mungil milik Anjani.  Tak peduli pada tatapan bingung Nabila yang berbaring di atas kursi untuk berjemur, di bawah tindihan tubuh suaminya, Darto, yang tertidur lelap di antara gundukan payudara.

 

“Bannnddii,,, kumohon dengarlah sayaaang,,, aku mohooon,,” Zahra terisak di hadapan Bandi yang baru saja membuka pintu kamarnya.

“Yup,,, ada apa?,,,” ucap Bandi datar, berusaha meredam emosi. Melangkah ke dalam kamar.

“Masih kurang?,,, masih pengen minta kepuasan dariku,,,”

“Aku tau siapa kamu Zaa,,, wanita yang tidak mudah menyerahkan tubuhnya kepada lelaki lain,,,”

“Aku tau kamu seorang wanita yang menjunjung tinggi norma, dan karena itu pulalah aku begitu mencintaimu,,,”

“Tapi tadi aku melihat mu benar-benar seperti wanita liar,,,, aku seperti tidak mengenalmu,,, lihatlah pakaianmu,,, lihatlaaaah,,, kau tak ubahnya seperti,,, sepertiii,,,, Sudahlah,,, cerita kita memang harus diakhiri,,, dan memang sudah berakhir,,,”

Kata-kata Bandi begitu menyakitkan hatinya. Tak pernah sekalipun telinganya mendengar kata-kata kasar terucap dari bibir Bandi. Tapi memang itulah yang terjadi. Zahra menangis semakin kencang,,, seperti gadis kecil yang ditinggalkan ibunya, jatuh meringkuk disisi kasur dengan tubuh gemetar.

“Maaf kan akuuu,,, aku memang salah,,, maaaaf sayaaang,,, hiksss,,,”

“Tapi aku ini wanita, aku telah memohon kepadamu,,, menyerahkan tubuh yang kau anggap hina ini sepenuhnya kepadamu,,, tapi kau menolak dengan dingin,,,”

“Kau yang melepaskanku, kau yang meninggalkanku dengan pria lain,,,”

Suara Zahra hampir tak terdengar, hilang ditelan isak tangis.

“Bandi,,, terimakasih untuk cintamu,,, maafkan laah aku,,, aku memang tidak pantas untuk dirimu,,,” wanita itu berusaha untuk bangkit, dengan mata berlinang berusaha menatap wajah Bandi, seolah itulah terakhir kali dirinya dapat menatap wajah lelaki itu.

“Bandi,,, meski berulang kali kau acuhkan aku,, meski berulang kali kau meninggalkan ku, aku selalu mencintaimu, sangat mencintaimu,,hikss,,, selamat tinggal, sayang.” ucapnya terbata, tak kuat mengucap kata terakhir.

Pertahanan Bandi ambrol, lelaki perkasa itu melelehkan air mata. Air mata yang mampu ditahannya saat tubuh adiknya meregang nyawa di pangkuan, akibat kecelakaan. Tapi air mata itu jatuh saat mendengar kata perpisahan dari seorang Zahra. Mendengar jerit hati wanita yang tak terucap.

“Zaa,,, jangan menangis sayaaang,,, jangannn menangis wahai kekasih hatiku,,, maafkan semua kebodohan dan ego ku,,,”

“Aku pun tak sesuci yang engkau harapkan, bahkan hatiku lebih kotor darimu,,”

Tubuh Bandi menghambur memeluk tubuh Zahra yang tampak begitu ringkih. Mengecupi air mata yang meleleh dipipi.

“Zaa,,, “ Bandi menuntun Zahra untuk duduk di sisi kasur, menyapu wajah lembut yang basah oleh air mata.

“Maafkan aku, semua yang kulakukan selalu saja salah, meski itu untuk kebaikan mu,,,,” Bandi menggenggam tangan Zahra.

“Seharusnya diwaktu yang tersisa,, aku selalu memeluk mu, menghabiskan setiap detik bersamamu, tapi aku justru sengaja mengacuhkanmu, bahkan meninggalkanmu bersama lelaki lain. Maafkan aku,,,,”

“Bandi,,, aku menyayangimu,,,, masih mencintaimu seperti dulu,,,” bibir Zahra mengucap pelan, seperti tidak mendengarkan apa yang dikatakan Bandi. Pikirannya masih merutuki kejadian beberapa menit lalu, saat tubuhnya bergerak begitu liar melayani Pak Tama. Seorang wanita jalang yang sedikitpun tak pernah terpikirkan olehnya.

“Iya sayaang,,, aku tauu,,, kau membuatku semakin merasa bersalah,,,”

Zahra menatap lekat mata Bandi, seolah mencari sesuatu dibalik tatapan tajam seorang lelaki. Tidak seperti tadi yang begitu dingin, binar mata yang beberapa tahun lalu selalu dirindukannya.

“Bandi,,,” bibir tipisnya tampak ragu untuk mengucapsesuatu. Gundah terbaca jelas dari wajahnya.

“Ada apa sayang,,, tak perlu memikirkan sesuatu yang membuatmu bersedih, hingga waktu itu tiba, aku akan selalu berada disampingmu, tak akan meninggalkanmu sedetikpun,,,,”

“Sekarang beristirahatlah, aku tau kejadian tadi bukan sesuatu yang membuatmu gembira,,” membaringkan tubuh wanita yang sesekali masih sesenggukan menangis, berusaha melepas jilbab dan gaun yang melekat di tubuh Zahra.

Wanita itu bingung dengan apa yang dilakukan Bandi, tapi tubuhnya hanya bisa pasrah dengan apapun yang akan dilakukan lelaki itu pada tubuhnya. Tapi Bandi hanya tersenyum. Meletakkan gaun yang sudah terlepas ke lantai. Lalu beranjak menuju kamar mandi. Lelaki itu kembali dengan membawa handuk kecil dan gayung yang terisi air. Dengan perlahan dan telaten menyeka wajah Zahra, mengusap leher dan setiap sisi tubuh. Zahra merapatkan pahanya saat usapan Bandi tiba di selangkangannya.

“Jangan, Bann,,,” larangnya, tak ingin lelaki itu mendapati cairan sperma yang masih tersisa di selangkangannya.

Bandi mengangguk sambil tersenyum, meminta wanita merentangkan kedua pahanya. Senyuman yang tulus. Zahra membuang wajahnya saat Bandi mengangkat pahanya membuka lebih lebar. Tangan Bandi terdiam, meski sudah tau apa yang akan didapatinya di lipatan tersebut, tetap saja hatinya terasa sakit. Setelah menguatkan hati, tangannya bergerak mengusap membersihkan cairan kental yang melekat pada paha dan bibir vagina. Setelah merasa cukup bersih, tangan Bandi bergerak ke bawah, membersihkan bagian yang lain.

“Wuuuhh,,, kaki mu kotor banget sayang,,, pasti tadi seru banget ya,,,” goda Bandi.

Wajah Zahra memerah, memukul tubuh Bandi sambil merengut.

“Jangan menggodaku, kata-katamu membuatku sedih, sayang,,,”

Setelah membersihkan tubuh Zahra hingga ke mata kaki, diselimutinya Zahra, mengusap rambut wanita itu memintanya beristirahat. Zahra kembali merengut manja, meminta Bandi ikut masuk ke dalam selimut.

What’s wrong dude… yuk ah.. masih ada 1 episode terakhir nih… kita lanjut lagi nanti ya… jangan lupa episode terakhir….

cerita panas 2016, cerita panas terbaru, cerita panas, cerita syur 2016, cerita syur terbaru, cerita syur, cerita lucah 2016, cerita lucah terbaru, cerita lucah,

Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

..