Vimax ezgif.com-resize Cerita Dewasa
Cerita Dewasa Terbaru
Breaking News

Liburan Dewasa 14 (TAMAT)

Vimax

Here I am, Nabila

Tanpa mereka sadari, di daun pintu, sesosok wanita berusaha menahan air mata. Menyandarkan Tubuhnya di dinding, kakinya yang gemetar berusaha menopang tubuh yang terasa begitu lemah.

“Seharusnya kalian bisa bersatu,,,” bisik Nabila, mulai terisak,

“seandainya kalian memperjuangkan cinta kalian,,, hikss,,,,”

Tangan Nabila berusaha menahan tubuhnya yang limbung, berjalan dengan telapak tangan merayap pada dinding. Melangkah keluar cottage. Dengan tubuh terhuyung menuju gazebo.

Darto yang menyusul Nabila ke dalam cottage melalui pintu belakang beberapakali terjatuh saat mendaki tangga, lelaki itu tampak mabuk berat. Baru saja dirinya sampai di atas, di lorong yang temaram tanpa cahaya yang memadai, wanita yang dikejarnya sudah kembali berlari tertatih menuruni tangga depan.

“Nabilaaa,,, kamu mau kemana lagi sayaaang,,,” panggilnya, namun suaranya tak mampu keluar. Berusaha mengejar. Tapi langkahnya terhenti didepan pintu kamar Bandi. Berdiri mematung dengan tatapan kosong, di lorong yang suram.

Nabila terus berjalan, meski kepalanya mulai terasa berat, kakinya dipaksa untuk terus melangkah, menembus pekat malam dalam rinai hujan yang tiba-tiba menghambur seolah dengan sengaja dijatuhkan oleh awan untuk melengkapi ujian wanita yang selalu terlihat ceria itu. Setelah mendapati bangku yang agak panjang, wanita itu merebahkan tubuhnya, menahan tubuh yang sakit dengan air mata berlinang. Gemuruh ombak, deru angin, dan derasnya hujan seakan menyempurnakan derita.

Di gazebo, Nabila menangis sendiri, entah berapa banyak air mata yang mengalir keluar. Berkali-kali tangannya mengusap wajah yang telah basah oleh air mata dan air hujan yang sempat menyapa kulit mulusnya. Zahra dan Bandi,,, dua sosok penting dalam hidupnya. Terbayang senyum Bandi yang lembut, saat melamarnya di sebuah resto pinggir pantai. Sebuah pinangan yang dinobatkannya sebagai kado terindah di hari ulang tahunnya. Tubuhnya yang menggigil mencoba mengingat hangat pelukan sang suami. Terbayang tatapan sepasang mata Zahra yang meneduhkan, saat Darto mengenalkan sebagai tunangan.

Wanita yang begitu melindunginya ketika dirinya diteror oleh seorang lelaki sinting yang tergila-gila pada tubuhnya. Mengizinkannya menginap berhari-hari dirumah mereka tanpa mengeluh, meski Zahra dan Darto saat itu baru saja menikah, hingga akhirnya Nabila membeli rumah tepat di samping kediaman Zahran dan Darto. Terbayang saat pertama kali dirinya menghianati Bandi, hanya untuk sebuah promosi jabatan, gairah muda telah melacurkan kesetiaannya sebagai seorang Nyonya Bandi, titel yang baru dua bulan disandangnya. Terbayang ketika dirinya menggoda suami sahabatnya, Darto, dengan tubuhnya dalam permainan kartu yang panas. Mabuk tidak dapat dijadikan alasan untuk membela diri atas ulah nakalnya, memasukkan perkakas senggama Darto ke dalam tubuhnya.

“Maasss,,, Mbaaa,,, maafin Nabill,,,” suaranya yang bergetar pelan, semakin hilang tergulung oleh deru ombak, angin, dan hujan.

 

“Buuu,,,, ibu baik-baik saja, Buu,,,”

Telinga Nabila lamat mendengar sebuah suara, berusaha membuka matanya, berharap itu adalah suaminya, Bandi. Tapi wanita sedikit kecewa, karena laki-laki berpayung potongan plastik yang menghampirinya bertubuh lebih besar dari suaminya.

“Ibu kenapa tiduran di sini,,, Bu,, badan ibu panas, ibu sakit?,,,” tangan kekar yang besar memegang lengannya, memerika keningnya.

“Konteet?,,,” tanya wanita itu lemah.

“Iya bu,,, ini aku,, mari Bu,, biar aku gendong masuk ke cottage,,,”

Tapi wanita itu menggeleng, kembali meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. Kontet bingung, wanita yang tadi begitu liar bercinta di depan matanya kini didapatinya dalam keadaan begitu lemah, dengan suhu tubuh yang tinggi. Naluri lelaki bertubuh besar itu mengintruksikan untuk memeluk melindungi tubuh mulus yang hanya dibalut mini dres yang basah. Membaringkan kepala Nabila di pahanya. Merasa ada kehangatn yang mencoba menyelimuti tubuhnya, Nabila segera beringsut, semakin masuk dalam pelukan si lelaki. Menekuk tubuhnya dalam pangkuan tubuh besar dan kekar.

“Teeet,, dingiiiin,,, dingiiin bangeeeet,,,”

Kontet bingung apa yang harus dilakukannya, tangannya reflek mengusap-usap tubuh Nabila, mencoba memberi hawa panas. Sementara derai hujan semakin deras, seakan ingin menghabiskan seluruh persediaan yang ada di langit. Usaha itu cukup berhasil, tubuh Nabila yang gemetar menggigil mulai bisa tenang. Nafasnya mulai teratur, terlelap. Tinggallah kontet sendiri yang panas dingin, dikegelapan malam berselimut awan hitam, mata kontet berusaha menjelajah selangkangan yang tak mampu ditutupi oleh mini dress yang begitu pendek. Tangan kanan Kontet mengambil sesuatu dari kantong celananya, sebuah kain kecil warna merah muda, warna yang sama dengan dengan gaun yang dikenakan oleh Nabila.

Tangan yang kekar membawa kain itu ke wajahnya, lalu menghirup aroma yang melekat. Berkali-kali lelaki itu menghirup membaui kain yang tidak lain merupakan celana dalam Nabila, yang tadi dilepas oleh Darto dan dilemparkan ke arah Kontet yang duduk mengawasi persetubuhan wanita itu. Di tengah Nafsu yang memburu, Kontet mencoba bertahan, melampiaskan hasratnya pada celana dalam Nabila, tak ingin mengganggu si cantik yang terlelap di pangkuannya. Tapi itu justru membuat Nafsunya semakin berulah, tak puas dengan kain di tangannya, Kontet dengan hati-hati melabuhkan tangannya pada payudara si teller bank yang cantik. Payudara besar yang kencang, jauh berbeda dengan wanita-wanita di warung remang-remang yang kerap dikunjunginya.

“Buuu,,,,” jantung lelaki itu bergemuruh saat mulai meremas, terus dan terus bermain-main pada bundaran daging yang ada di dada si wanita.

Tiba-tiba kepala Nabila bergerak, berusaha menatap pemilik dari tangan yang tengah bermain-main dengan tubuhnya.

“Jangan kontet,,,” tangannya berusaha menepis, tapi tenaganya yang begitu lemah tak berarti apa-apa bagi tangan kekar itu.

“Tidurlah Bu,,, aku hanya ingin mengenali tubuh Ibu, seperti tadi sore,,”Cerita Sex

Tadi sore,,, Yaaa,,, tadi sore,,,otak Kontet me-review semua kejadian di dapur, saat tubuh besarnya berjongkok di selangkangan si teller bank cantik, menghisap setiap tetes cairan yang mengalir membasahi vagina. Me-review saat batangnya yang begitu besar, berusaha untuk memasuki tubuh yang juga tengah dilanda birahi, tapi terhenti oleh kehadiran Darto dan Pak Tama. Dan kini, di tempat sepi ini,,, tak ada seorang pun yang dapat menghentikan bila dirinya ingin mengulang kembali kejadian di dapur. Dengan cepat tangan Kontet terhulur menuju selangkangan yang terbuka, mengusap paha yang mulus.

“Ooowwhh,,, Buu,,,”

Pikiran Kontet kacau diaduk Nafsu yang memburu, rasa kasihannya pada wanita yang tengah sakit mulai tergusur oleh birahi. Jangankan memegang,, bermimpi pun Kontet tidak berani, bisa mendapatkan tubuh wanita secantik Nabila, tapi kini wajah cantik dipadu dengan tubuh indah nan putih mulus itu terbaring dipangkuannya, tak berdaya. Tiba-tiba kontet melepaskan pelukannya, membaringkan tubuh itu diatas bangku kayu yang panjang, merentang kedua tungkai kaki yang indah kelantai. Menyingkap minidress semakin keatas. Otak lelaki yang hanya lulus SD itu sepenuhnya dikuasai setan.

kisah bokep 2016, kisah bokep terbaru, kisah bokep, kisah ngentot 2016, kisah ngentot terbaru, kisah ngentot, gairah sex

“Konteeet,,, jangannn,,,” suara Nabila serak, tangannya tak memiliki tenaga untuk mendorong tubuh Kontet yang mulai menindih.

“Buuu,,, Maaf Bu,,, aku hanya mencoba menghangatkan tubuh ibu,,, maaf Bu,,,”

Suara Kontet menggeram, seiring pinggulnya yang berusaha menerobos vagina Nabila dengan batang yang besar,,, sangat besar,,, lebih besar dari miliki Bandi dan Pak Tama. Jika vagina Bu Sofie, yang sudah beberapakali melahirkan saja kesulitan saat berusaha melumat batang Kontet, lalu bagaimana dengan Nabila, yang baru saja menikah. Wajah Nabila meringis menahan perih, lelaki yang tadi dinobatkannya sebagai dewa penolong kini justru berusaha memperkosa tubuhnya yang tengah sakit. Air mata kembali menetes. Meratapi nasib dirinya.

“Apakah ini adalah karma yang harus ku terima, setelah berbuat nakal di sepanjang masa liburan,” lirih hati Nabila.

Tubuhnya terasa ngilu dan perih akibat ulah Kontet yang terus memaksa menjejalkan batang ke dalam kemaluannya. Cairan milik Darto yang masih menggenang, tak mampu membantu banyak atas usaha batang Kontet untuk menorobos masuk.

“Maaf Buuu,,, Maaaaf,,, banget,,, cuma ini kesempatan aku bisa menikmati tubuh secantik ibu,,,” ucap Kontet, tangannya mengangkat kedua kaki Nabila ke pundaknya yang berotot.

“Sakiiiit,,, sakiiiiit,,, ngga kuaaaat,,, sakiiit,,,” wanita itu menjerit kuat, Kontet memaksa menekan batangnya dengan sangat kuat,,, terus dan teruuus menekan,,, hingga akhirnya setengah dari batang besar itu menghilang di lorong kemaluan.

Wanita itu mengigit bibirnya hingga berdarah, berusaha mengalihkan rasa sakit yang diterima oleh vaginanya, sedikitpun tak ada kenikmatan yang bisa dirasakannya dari gerakan batang yang mulai keluar masuk memperkosa liang kawin. Tubuhnya yang tak berdaya asa, tergoncang akibat hentakan-hentakan yang mulai dilakukan dilakukan dengan kasar. Begitu berbeda dengan Kontet yang terus menggeram menikmati sensasi dari vagina seorang teller bank swasta ternama. vagina Lik Marni yang tadi sore dicicipinya dan sering menjadi hayalan mesumnya seakan tak berarti apa-apa dibanding milik seorang Nabila.

“Oooowwwhh,,, Bu,,, nikmaaat bangeeet,,, nikmaaat banget Buuu,,,”

“Memeeek cewek kotaaa ternyataaa memang nikmaaat bangeeeet,,, owwwh,,,”

Hentakan batang Kontet semakin cepat dan dalam, tak peduli dengan kondisi Nabila yang mulai kehilangan kesadarannya.

“Buuu,,, sayaa semprot di memeek ibuu yaaa?,,, boleeh Buu?,,, sayaa ngecrooot buuu,,, Aaaarggg,,, aaagghhh,,,”

Tubuh kontet mengejang, mengejang-ngejang mengeluarkan begitu banyak sperma yang tak mampu ditampung oleh vagina Nabila. Lalu jatuh memeluk tubuh Nabila. Tapi sedikitpun tak ada respon dari tubuh yang berhasil memuaskan Nafsunya, Nabila pingsan.

“Buuu,,, banguuun Buuu,,, banguuun,,,” panggil Kontet dengan panik.

Kunjungi kisah lain di gelorabirahi.com

###################################

“Sayaaang,,, peluklah aku,,, aku kedinginan,” pinta Zahra manja, menarik tubuh Bandi, tapi bukan untuk sekedar memeluknya, tangan wanita itu memaksa Bandi menaiki tubuh telanjangnya.

“Zaa,,, tubuhmu itu kelelahan sayang,,, istirahat sajalah,,,”

“Kau menolak permintaan ku lagi?,, coba mengacuhkan ku lagi?,,,”

“Hadeeeeh,,, ya ngga laaah,,, aku tak mungkin mengacuhkan mu lagi, tapi cobalah untuk mengasihani tubuhmu,,,”

“Bandii,, tapi aku saat ini benar-benar menginginkanmu, aku ingin,,, “ lagi-lagi bibir Zahra terdiam, bingung dengan apa yang ingin diucapkannya.

“Ayolaaah,,, plisss,,, setelah ini aku takkan memintanya lagi,,,” lanjutnya, tidak tau bagaimana cara meminta Bandi bersedia menyetubuhinya.

Bandi menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Siapa yang tidak berminat pada tubuh indah yang kini telanjang bulat di sampingnya.

“Tapi jangan lama-lama ya,,, langsung di crotin aja,,,”

Zahra tertawa mendengar kata-kata Bandi.

“Tuuu kaaaan,,, punya mu juga udah keras koq,,,” seru Zahra, merasakan batang yang menempel dipahahnya saat lelaki itu mulai mendaki keatas tubuhnya. Menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka, dengan tangannya sendiri wanita itu berusaha melepas celana Bandi. Sepertinya wanita itu ingin menebus kesalahannya kepada Bandi.

“Bandii,, lakukan sepenuh hatimu sayang,,, aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah liburan ini, maka anggaplah ini yang terakhir,,,” ucap Zahra dengan sedih, merentang lebar kedua kakinya. Jari yang lentik menggenggam batang, memastikan benda telah siap memasuki tubuhnya berada di posisi yang benar.

“Zaa,,,” Bandi mencium bibir Zahra, seiring gerakan tubuh menghantar batang kedalam lorong yang lembab.

“Jangan menangis sayang,, kamu adalah jagoanku,,, seandainya waktu kita masih banyak, niscaya aku akan selalu melayanimu sepenuh hati,,,” Zahra berusaha menghibur Bandi, meski air matanya ikut meleleh.

Dua tubuh itu bergerak pelan, setiap gerakan seakan ditasbihkan dalam kadar cinta yang terbuncah dalam Nafsu yang berselimut syahdu. Tak ada hentakan-hentakan yang kasar, tak ada remasan-remasan yang nakal, hanya gerakan penuh cinta yang membara. Bandi membalik tubuh mereka, membuat tubuh Zahra berada di atas, membiarkan wanita itu mengambil kendali. Duduk tegak di atas batang yang mengacung keras di dalam tubuhnya, Bergerak maju mundur dengan pelan, meremas batang Bandi dengan lembut.

“Sayaang,,, kalo terus seperti ini mungkin besok lusa baru selesai,,,”

Zahra tertawa.

“Lhooo,,, memangnya kenapa sayang, biarkan mereka pulang duluan, kita lanjutkan liburan ini hanya berdua.”

“Hahahaa,,, memangnya kau sanggup terus melayani batangku,,,”

Kalau batangmu dapat terus mengeras di dalam tubuhku, kenapa tidak, aku cukup tidur telentang dan menonton aksimu menikmati tubuhku,,, hihihi,,,” Zahra tertawa sambil terus menggerakkan pantatnya, duduk tegak memamerkan bongkahan payudara yang mancung di depan mata Bandi.

“hahahaa,,, tapi tetap sajakan aku tidak bisa menyiram di dalam vaginamu,,,”

Zahra menjatuhkan tubuhnya ke dada Bandi. Menatap lekat mata si pejantan.

“Kau ingin menyirami lorong vaginaku?,,, ingin memenuhi rahimku yang tengah subur dengan semburan bibitmu?,,,” tanya Zahra, tersenyum menggoda.

“Seandainya boleh,,,” ucap Bandi, meremas pantat Zahra dan menekannya ke bawah, membuat batangnya menyundul pintu rahim si wanita.

“Ooowwwhhsss,,, Bannn,, Bandii,, apa kau bisa merasakan mulut rahim yang tengah dihuni sel telurku,, sayaang?,,,” Zahra mengusap pipi Bandi, sambil mengulek batang Bandi yang berusaha menyelusup lebih dalam.

“Eeemmmhhh,,, aaahhsss,, Hanya kau yang mampu menyentuh sisi terdalam kemaluan ku Bannn,,, benihmu pasti tidak akan kesulitan untuk membuahiku,,,”

Tiba-tiba Bandi menggeleng,

“Kau ingin membuatku merasa bersalah pada Darto?,,,”

Kata-kata itu membuat si wanita tertegun, gerakannya terhenti.

Sosok lelaki nestapa, yang terus mengamati pergumulan dan percakapan dua sejoli itu, melangkah pelan,,, mundur hingga menabrak dinding kamar, terhuyung membuka pintu kamarnya, tertawa sendiri di kegelapan, menenggak bir yang ada di genggaman. Terjatuh di lantai saat berusaha membuka laci meja, mengacak-acak isinya mencari sesuatu yang dapat menenangkan pikiran yang kacau.

“Sayaang,,, tak perlu memikirkan itu,,, sekarang aku hanya ingin menikmati kebersamaan kita,,,” seru Bandi, tangannya mendorong tubuh Zahra untuk kembali menduduki penisnya. Lalu meremas payudara Zahra.

“Aku ingin melihatmu mengendarai batangku sayang,,,”

Wanita itu tertawa.

“Hahaaha,, aku ngga bisa sayaang,,, selama bersama Darto kami lebih sering melakukan gaya konvensional,,, Darto ngga pernah secerewet kamu tauu,,, jadi jangan meminta yang aneh-aneh yaaa,,, aku maluu,,,hahaha,,,”

Tiba-tiba Zahra teringat saat tubuhnya bergerak liar meladeni keinginan Pak Tama, kejadian yang akan membuatnya begitu malu setiap teringat kejadian itu.

“Yaa,, tapi sekarang kau akan melakukan itu untukku,,,” ucap Bandi dengan gaya cool, melipat kedua tangannya kebawah kepala.

“Ok,,, One Girl Shooow,,,” sambungnya, memandang Zahra menunggu wanita itu beraksi.

“Hahahaaa,, kau paling pinter membuatku malu,,, tapi jangan diketawain ya,,,”

Zahra menekuk kedua lututnya, berpegangan pada perut Bandi, lalu perlahan mengangkat pinggul membuat batang Bandi hampir terlepas, lalu dengan cepat kembali menghentak ke bawah.

“Ooooowwwsshhh,,,,” wanita itu kaget, ternyata gerakan yang dilakukan dengan terpaksa itu membuat lorong vaginanya terasa begitu nikmat, semakin cepat tubuhnya bergerak semakin vaginanya ketagihan, gairahsex.com semakin kuat pantatnya menghentak semakin besar nikmat yang dirasakan oleh vaginanya. Kali ini Zahra lebih bisa menikmati ulah nakalnya, sambil terengah-engah tersenyum puas melihat wajah Bandi yang merem melek menikmati servis dari vaginanya. Tapi itu justru membuatnya semakin bersemangat mengejar kenikmatan puncak.

“Bandii,,, ayo sayaaang,,, aku ingin kau yang melakukannya untukku,,,” Zahra menarik tubuh Bandi untuk kembali menindih tubuhnya. Merentang lebar pahanya. Memeluk erat tubuh Bandi, mendesah penuh birahi ditelinga si lelaki yang mulai memacu tubuhnya dengan kecepatan tinggi.

“Ooowwwssshh,,, Bannnddii,,, akuuuu hanyaaa ingiiin dirimmmuuu,,, Ssshhh,,,”

“Aku ingin bataaangmu yang selaaaluuu mengiissiii vaginaku sayaang,,,”

“Oooowwwhhh,,, Saaaaayaaang bawaaa akuuuuhh kepuncaaaak sayaang,,,”

Menjambak rambut si pejantan, memberi perintah tepat didepan wajahnya dengan suara menggeram nikmat. Tubuhnya melengkung mengangkat pantatnya lebih tinggi, mengejar batang Bandi yang begitu cepat menggasak di liang yang sempit.

“Tusssuuuuk yang kuaaaat,,, Aaarrggghhaaa,,,”

“lebiiihh dalaaaam,,, Arrggghhh,,, kaaauu bisaaa,,,”

“Kaau pastiii bisaaa membuahi kuu sayaaang,,,”

Zahra sadar apa yang diucapkannya, memohon pada lelaki yang bukan suaminya untuk menitipkan benih di rahimnya.

Mendengar permohonan Zahra, Bandi menghentak batangnya dengan kalap.

“Aaaagghh,,, Aku tidaaak bisa Zaa,,,”

Tiba-tiba Zahra menatap Bandi garang.

“Ku mohooon sirami rahimkuuu,,, izinkaaan akhuu pergii membawa buaaah cintaaa kitaaa,,, Aaawwhhhh,,,”

Dua tubuh yang tengah berpacu dalam birahi tinggi itu berdebat diantara decakan alat kelamin yang membanjir. Di antara batang yang menghujam dengan ganas. Di antara liang senggama yang terus menyambut hujaman dan melumatnya dengan jepitan yang kuat.

“Tidaaak Zaa,,, Arrgggghhhh,, aku maaau keluaaarr,,,”

“Oowwhh,, oowwhh,,,Aaaaku,,, owwhh,,,siaaap saayaaaang,,, hamilii akuuu,, sekaaaarang,,,”

“lepaaass sayaaang,,, aku tidaaak bisaaa,,,”

“Ooowwwghhh,,, Gilaaa,,, gilaaa,,, aku saaampaii,,, aku keluaaarr,,,”

Zahra meregang orgasme, suaranya terengah-engah,,, melonjak-lonjak dengan mulut terbuka,,, menatap Bandi memproklamirkan kenikmatan yang didapat. Tangannya meremas kuat pantat lelaki yang menindih tubuhnya. Dengan sepasang kaki yang menyilang mengunci paha Bandi. Lagi-lagi Bandi menggelengkan kepala. bisa saja dirinya dengan paksa melepaskan tubuh Zahra. Tapi vagina Zahra yang tengah orgasme mencengkram penisnya dengan sangat kuat, terasa begitu nikmat, seakan ingin memisahkan batang itu dari tubuhnya. Memaksa spermanya menghambur keluar.

“Aaarrgghhh Zaa,,,”

Bandi meminta ketegasan dari apa yang akan dilakukan.

Zahra yang masih dirudung orgasme panjang, hanya bisa mengangguk dengan Nafas memburu, tatapan birahi nan syahdu yang mengemis sebuah siraman benih di rahimnya. Setelah berusaha menjejalkan penisnya lebih dalam, Bandi memeluk tubuh Zahra yang membuka lebar pahanya, menapak di kasur membuat pantatnya melengkung keatas, membantu usaha Bandi menjejali pintu rahimnya.

“Zaa,,, Owwwhhh,,, sayaaang,,, aku keluaaaaar,,, aku keluar di milikmu sayaang,,, Ooowwhh,,,” pinggul lelaki itu mengejat, dengan kepala jamur besar yang menghambur cairan semen disertai ribuan benih kehidupan.

“Terimalaaah Zaa,,, biarkan semua memasuki tubuhmu, sayaang,,,” Bandi terus berusaha mendorong penisnya lebih dalam, dengan semprotan kuat menggelitik daging yang sensitif.

Aksi Bandi membuat Zahra kalang kabut, penis Bandi serasa semakin membesar dalam jepitan kewanitaannya.

“Oooowwwhhh,,, Bandii,,, akhuuu,, akuuu keluar lagiii,,,” orgasme tiba-tiba kembali menyapa tubuhnya. Ikut mengejang dibawah tindihan tubuh Bandi yang tengah mentransfer bermili-mili sperma kedalam tubuhnya.

Dua tubuh itu melonjak-lonjak, masing-masing sibuk menikmati aktifitas yang terjadi di alat kelamin mereka. Penis yang mengeras sempurna, menghambur beribu-ribu bibit cinta. Dan vagina yang mencengkram kuat batang sang kekasih, berkedut, memijat ritmis pusaka sang penjantan, seolah memaksa menguras habis persedian sperma dari kantungnya.

“Oooowwwgghhh,, gilaaa,,, nikmat banget sayaang,, gilaaa,,,”

Zahra terkapar, berusaha mengisi rongga paru dengan oksigen, menatap Bandi yang masih mencari-cari kenikmatan tersisa yang didapat dari alat kelamin kekasihnya. Hingga akhirnya terdiam, tertelungkup menindih tubuh si wanita yang tersenyum puas.

“Zaa,,, apa kau sadar, dengan apa yang baru saja kita lakukan?,,,” tanya Bandi, sambil menciumi wajah cantik Zahra.

“Yaaa,,, aku sadar,,, terimakasih sayang,,, terimakasih untuk yang sudah kau berikan ini,,, semoga memang terjadi, dan biarkan aku membawa titipan mu ini pergi,,,”

Zahra tersenyum, membiarkan bibir Bandi bermain-main di wajahnya.

“Apa kau bisa menikmati, menuntaskan semua di dalam tubuhku?,,,”

“Nikmat bangeeet,,, punyamu nikmat banget sayang,,, vaginamu seperti menghisap habis semua spermaku,,,”

Zahra tertawa mendengar penegasan Bandi.

“Masih pengen lagi?,,,”

Bandi mengangguk dengan cepat.

“Ya udah,,, ayo entotin memek ku lagiii,,, lagian sepertinya punyamu masih keras nih,,” wanita itu memainkan otot vaginanya.

Jangan lewatkan juga… beritaseks.com

Giliran Bandi yang tertawa.

“Kalo aku tusuk-tusuk lagi, entar bibit ku malah keluar,,,” meski berkata seperti itu, batang Bandi mulai bergerak pelan, membuat Zahra merasa geli.

“Yaaa,,, sebagian mungkin keluar, tapi bukankah setelah itu kau bisa mengisi penuh lagi,,,lagipula sel telurku hanya perlu satu bibit yang beruntung dari ribuan yang kamu hamburkan tadi,,,”

“Emang boleh semprot di dalam lagi?,,,,”

“Iiiihh,,, ya bolehlah,,,, kan punyamu masih ada di dalam, ngapain kalo setelah ini kamu nyemprot di atas perutku,,, ngga nikmat tau,,,” Zahra ikut menggerakkan pinggulnya, berusaha mencari kembali kenikmatan yang membuat tubuhnya ketagihan.

“Ayooo Papaaah,,, ngecrot di memek mamah lagi,,,, aku masih sanggup melayani batangmu beberapa ronde lagi,,, hihihi,,,”

“Koq Papah?,,,”

“Yaa,, Papah,,, mungkin 9 bulan setelah hari ini,,,”

Bandi tertawa mendengar candaan Zahra,

“Ya udah,,, kalo gitu kita bikin adeknya aja sekarang. Kisah Sex

“Yeee,,, mana bisa gitu,,, ihhh,,, Hahahaa,,,”

Keduanya tertawa dengan tubuh kembali bergerak berirama. Bersiap memulai pertarungan yang berikutnya.

Braaakk…pintu kamar yang sedikit terbuka itu didorong dengan kuat.

“Bannnddii,,, Darto,,, Darto, Bann,,,”

“Zahraaa,, Suamimuu,, tolongin suami muu,,”

Terdengar suara Hanif yang panik di depan pintu. Menunjuk-nunjuk ke seberang kamar. Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Dengan cepat Bandi melepaskan pagutannya, mengambil celana dan bergegas mengenakannya. Begitupun dengan Zahra yang masih bertelanjang bulat, mengambil handuk baju yang menggantung, lalu berlari menuju kamarnya.

“Siaaal,,,” umpat Hanif, yang tak sengaja menyaksikan pemandangan indah, terbayar sudah rasa penasarannya akan bayang tubuh seorang dokter cantik bernama Zahra. Payudara yang membulat padat, dan selangkangan dengan gundukan tembem yang bersih dari rambut kemaluan.

“Maasss,,, Maasss,,,” Zahra panik,,, menggoyang-goyang tubuh Bandi.

“Zaa,,, kamu dokternya,,, ingat,,”

Tubuh suaminya yang terbaring dilantai tak sadarkan diri, dengan mulut mengeluarkan busa, membuat wanita itu panik, seolah lupa dengan titelnya, lupa dengan semua ilmu yang didapat. Dengan cepat Zahra memeriksa tubuh Darto, memeriksa pupil mata, dan setiap bagian yang dapat memberinya informasi tentang kondisi Darto. Bu Sofie, Anjani, Pak Tama, yang masih dalam kondisi setengah mabuk ikut menghambur ke dalam kamar.

“Bu Sofie, tolong ambilkan tas aku di lemari Bu,,,”

“Bandi,, tolong aku mengangkat Mas Darto ke kasur,” perintah Zahra yang mulai bisa mengendalikan suasana hatinya.

Semoga Mas Darto tidak apa-apa, ucapnya setelah menyuntikkan obat ke dalam tubuh suaminya. Tapi wajahnya masih tampak cemas. Merapikan tubuhnya yang masih terbuka dengan mengikat tapi yang ada pada handuk. Lalu mengusapi rambut Darto yang lembab.

“Tolooong,,, Bandi,, istrimu Bann,,”

“Tolooong,,,” kembali terdengar teriakan dari lantai bawah.

“Kenapa istriku?,,, ada apa?,,” dengan cepat wajah Bandi memucat, meloncat keluar kamar, diiringi yang lain.

“Buu,,,, Pak Darto biar aku yang jaga,,,” seru Anjani. Membaca sitausi dengan cepat.

“Tolong ya Annn,,, tolong jaga suamiku sebentar,,,”

Zahra yang belum sempat mengenakan penutup kepala, hanya berbalut handuk baju, segera menyambar tas yang berisi peralatan kerjanya, lalu menghambur berlari keluar, tak peduli dengan bagian depan dadanya yang terbuka. Di ruang tengah, mereka mendapati Shita yang memeluk Nabila yang tak sadarkan diri. Wajahnya begitu pucat, demamnya semakin tinggi. Dengan bibir yang tampak membiru kedinginan. Sementara cairan kental hampir menutupi seluruh kemaluannya yang terbuka.

“Nabilaaa,,, ,,, bangun sayang,,,”

“Zaa,,, tolong Nabill Zaa,, cepat Zaa,,,”

“Tolong ambilin selimut tebal,,,” seru Zahra cepat. Rahadi dan Shita berlari bersamaan, masing masing mengambil selimut di kamarnya. Panik. Setelah memeriksa dan memberikan pertolongan semampunya, Zahra menangis sambil memeluk tubuh Nabila yang berbalut selimut tebal.

“Nabill,,, kamu tidaak apa sayang,,, kamu akan sembuh,, cepatlah sadar sayang,,, hiks,,”

“Kenapa tubuh Nabila basah begini?,,, kenapa dirinya sampai pingsan?,,” tanya Bandi, memandang semua yang ada disitu, berharap ada seseorang yang tau.

“Tadii,,, tadiii,,, aku melihat Kontet yang menggendong mba Nabila dari gazebo depan,,,” jawab Shita gemetar.

“Kontet? Terus sekarang tu orang kemana?,,,”

“Ngga tauu,, setelah membaringkan Mba Nabila dia langsung lari keluar,,, wajahnya juga terlihat panik,,,”

“Bajinggaann,,, Konteeet,,, mana Konteeet,,,” Bandi berteriak nyaring, mencari Kontet.

Mendengar penuturan Shita dan melihat selangkangan Nabila yang penuh dengan sperma laki-laki, Siapapun akan berasumsi Kontet telah melakukan sesuatu pada wanita itu.

“Mang Kholil,,, Kontet manaaa?,, mana Kontet Maang?,,,” Bandi memburu Mang Kholil yang terlihat datang tergopoh.

“Ngga tau Den,,, tadi aku liat dia pergi pake motor aku Den,,, ngga tau kemana,,,”

“Bajingan kalian,,, cepet seret temenmu itu kemari,,, cepaaaat,,,” Bandi mencengkram kerah Mang Kholil, hendak memberikan pukulan ke wajah lelaki itu.

“Bandi,, sabar, Bann,,, lebih baik sekarang kita bawa Nabila kekamar,,,” cegah Pak Tama, menahan ayunan tangan Bandi.

“Ingat!!!,,, Semua ini salah kita juga,,,” bentak Pak Tama.

Memiting tangan Bandi, memaksa lelaki itu untuk berpikir jernih.

“Kontet ya?,,,”

Ucap Bu Sofie sambil bergidik, membisik pada Hanif yang membiarkan tangannya dipeluk, iba melihat kondisi Nabila.

“Memang nya kenapa dengan Kontet, Bu,,,”

“Batang Kontet itu lho,,, ngeri banget,, pasti Nabila kesakitan banget, aku yang sudah berkali-kali melahirkan aja sulit banget nelen tu batang,,,,,”

Hanif cuma bisa melongo mendengar apa yang dikatakan Bu Sofie sambil berbisik di telinganya.

“Nifff,,, punyamu tak ada apa-apanya dibanding batang kontet,” Sambungnya, membuat Hanif bergidik ngeri.

###############################

Sinar hangat mentari pagi menerobos jendela yang terbuka lebar, menghangatkan suasana di dalam kamar. Hujan deras pagi hari tadi, menyisakan jejak pada rerumputan dan tanah yang basah. Tubuh Nabila dan Darto dibaringkan di satu kasur yang lebar, agar Zahra dapat mengawasi keduanya bersamaan. Wajah cantik yang masih terlihat pucat tampak berusaha tersenyum, menyampaikan binar pesan pada orang di sekitar yang terlihat cemas, bahwa saat ini dirinya tak apa-apa.

“Nabill,,, maafin mba mu ini sayaang,,,” ucap Zahra yang bersimpuh di samping kasur, menggenggam erat tangan Nabila, sambil tersedu-sedu.

“Mbaa,,, bukan salah mba kok,,, tubuh Nabill aja yang letoy, cepet ngedrop kalo kecapean,” jawabnya dengan suara pelan.

Bandi cuma bisa memandang wajah istrinya dengan penuh kasih, karena saat itu dirinya tengah membantu Darto untuk duduk pada sandaran kasur. Lelaki itu berusaha menahan sedih, merasa dirinyalah suami yang paling tidak bertanggung jawab. Begitu terlena pada cinta masa lalu. Suasana yang sebelumnya meriah berubah menjadi haru, gairahsex.com Pak Tama berdiri sambil memeluk kedua istrinya, begitupun dengan Rahadi dan Hanif yang juga memeluk istri masing-masing. Semua, seolah sepakat untuk mengakhiri permainan yang berujung pada tragedi yang hampir merenggut nyawa Nabila dan Darto.

“Maaah,, maafin papah ya mah,, selalu menuntut macam-macam padamu,,” bisik Hanif, memeluk tubuh istrinya dengan erat. Aida mengangguk, menyandarkan kepala di pundak sang suami.

########################

“Cukup besar pelajaran yang harus kita terima untuk menyadarkan kita, Zaa,,,” ucap Bandi saat menuju bis, sambil membawa beberapa barang..

Zahra mengangguk,,, wajahnya masih terlihat sendu, kelopak matanya bengkak akibat terlalu lama menangis.

“Kasihan Nabila, terpaksa kau acuhkan, gara-gara diriku yang selalu menagih perhatian darimu,”

“Istrimu memiliki kesabaran yang sempurna, dia lebih memilih untuk menanggung semua. Sudah cukup lama aku mengenalnya, dan sangat jarang aku melihatnya bersedih, wajahnya selalu ceria,”

Zahra menghentikan langkah Bandi, dengan berdiri didepan lelaki itu.

“Bandi,,, mungkin ini permintaan ku yang terakhir padamu,,,”

“Yaa,,, katakanlah sayang,,, semoga aku bisa melakukan apa yang kau minta,,,”

“Aku mohon dengan sangat kepadamu,,, Tolong,,, jagalah Nabila, jangan buat ia sakit dan menangis lagi,,,”

Lelaki itu mengangguk,

“Pasti,,, aku akan menjaganya, mencintainya seperti hati ini mencintaimu,,, Dan kau,,, jagalah Dartoo, sampai kapanpun ia adalah sahabat terbaikku,,, berikan ia servis terbaikmu,,, seperti yang sudah aku ajarkan,,,”

“Iiihh,,, masih sempat-sempatnya mikir yang itu, jahat kamu Bannn,,,” Zahra tertawa sambil menangis, mencubit pinggang Bandi.

“Akan sangat sulit untuk melupakan semua kenangan ini,,, jadi aku memilih untuk selalu menyimpan cintamu dihatiku bersama Nabila. Percayalah aku tak akan menyia-nyiakan nya lagi,,,”

Zahra tertawa, jari-jarinya berusaha membendung air mata yang terus keluar..

“Bandi,,, aku masih boleh memelukmu?,,,”

Tertawa mendengar pertanyaan Zahra, Bandi merentang kedua tangannya, menyambut Zahra yeng menghambur kepelukannya.

“Sayang,,, aku pun akan selalu mencintaimu, tapi aku juga tak akan menyia-nyiakan cinta Darto dan hidupnya,,, Terimakasih untuk benih yang kau titipikan,,, berdoalah, semoga Darto bisa menerima semua,” ucap Zahra lirih

“Woooyyyy,,, pacaran mulu,,,” seru Bu Sofie, menepok pundak Bandi. Mebuat keduanya kaget, lalu tersipu malu-malu.

“Zahra, dicari Nabila tuh,,, katanya dia pengen duduk disamping kamu,,,” lanjut wanita dengan rambut disanggul ala Syarini, itu.

“Eeehh,,, iya Bu,,, aku naik ke bis duluan ya,,,” jawab Zahra, ngacir, mencari aman.

“Bandi,,, ingat, kamu masih punya hutang sama aku,” ujar wanita itu ketika Zahra sudah masuk ke dalam bis.

“Heehh? Hutang apa ya Bu?,,,” tanya Bandi, bingung.

“Kamu lupa ya,,, kamu sudah nyicipin semua istrimu teman-temanmu,,, tapi kamu justru lupa dengan istri atasanmu ini,,,” ucap Bu Sofie, matanya melotot, tapi itu justru membuat wanita berumur terlihat semakin cantik.

Setelah mengerling genit, wanita itu berpaling menuju bis, sengaja melenggok memamerkan pantatnya super montok.

“Ingat ya,,, sebelum kami berangkat ke Jakarta,, aku sudah mencicipi batang mu itu,,,:” ucapnya lagi, sambil memeletkan lidah. Meninggalkan Bandi yang menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Suasana dalam bus terasa lebih sepi dibanding saat mereka berangkat. Entah karena memang kecapean, atau memang mereka bersimpati pada kondisi Nabila dan Bandi, meski sudah semakin membaik, keduanya masih harus mendapatkan perawatan lanjutan dan banyak beristirahat.

Rahadi tampak begitu mesra mengobrol dengan istrinya, Anjani. Merencanakan apa yang akan mereka lakukan setelah liburan ini. Pak Tama bersandar dipelukan Shita, sambil merasakan pijatan mesra istri mudanya itu.Sementara Bu Sofie tampak asik dengan kamera LSR nya, mengambil gambar yang dianggapnya menarik, sepanjang perjalanan. Bandi sibuk mencatat semua pengeluaran selama liburan, tugas yang seharusnya dilakukan oleh Darto yang tengah tertidur sambil memeluk boneka beruang besar milik Aida.

Zahra, wanita itu memangku kepala Nabila yang berbaring, mengobrol sambil berbisik-bisik, seperti tengah membahas sesuatu yang sangat penting, sesekali wajah mereka tertawa kecil. Sedangkan Hanif, lelaki itu tampak tertidur bersandar di jendela. Terjaga saat istrinya tak ada di sisi.

“Maaahh,,, Mamaaah kemana,,,” panggilnya keras, membuat semua menoleh ke arahnya.

“Paaahh,,, aku disini Paaah,, dibelakaang,,, Ooowwhhsss,,”

“Aaaahhh,,, Papaaahh,,, enak banget paaah,,,”

“Lho Mamah lagi ngapain,,, emang masih kurang Mahh,,, ?” tanya Hanif, ketika mendapati istrinya tengah bergerak naik turun, seperti sedang mengendarai tubuh seseorang yang terhalang oleh seat bis.

Lelaki itu menatap bingung, karena Pak Tama, Rahadi, Darto, dan Bandi berada di bangkunya masing-masing.

“nyicipin punya siapa lagi sih,, sayaang,,,”

Karena tragedi yang mereka alami, Hanif berusaha menjadi suami yang lebih toleran pada istrinya yang ternyata memiliki kebutuhan seksual yang tinggi.

“Punya Kontet Paah,,, Ooowwhh,,, kontolnya gede banget,, memek mamaaahh sampai ngilu,,, tapi nikmat bangeeet paaah,,,”

“Haaahh? KONTEEET???,,,” teriak Hanif tak percaya!!!….

TAMAT….

kisah sex 2016, kisah sex terbaru, kisah sex, kisah seks 2016, kisah seks terbaru, kisah seks,

kisah dewasa 2016, kisah dewasa terbaru, kisah dewasa, kisah mesum 2016, kisah mesum terbaru,kisah mesum,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

..