Vimax ezgif.com-resize Cerita Dewasa
Cerita Dewasa Terbaru
Cerita Sex Terbaru
Breaking News
Cerita Sex Terbaru

Sexy Wife 10

Vimax ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya

cerita sex 2016, cerita sex terbaru, cerita sex, cerita seks 2016, cerita seks terbaru, cerita seks, Bram duduk-duduk sendirian di tempat tidur hotelnya yang lebar, melepas lelah sesudah dua hari nonstop mengurus persiapan pembukaan cabang bersama Enrico, si pengusaha daerah. Selama dua hari dia menyurvei lokasi; bertemu staf Enrico yang memberi presentasi rencana bisnis, peluang pasar, dan kemungkinan pesaing; dan tentunya bertemu para penguasa setempat—kepala daerah, kepala kantor-kantor dinas terkait, anggota legislatif, aparat, dan tokoh masyarakat, yang semuanya harus dilobi. Sebelumnya Bram dan Enrico sudah menyepakati. Bram mengurus pembicaraan formal sementara Enrico menyiapkan negosiasi non formalnya. Itu artinya Enrico akan menanggung segala insentif lain yang diperlukan demi kelancaran pembukaan usaha. Baik itu berupa uang pelicin, fasilitas, maupun bentuk kenikmatan lain. Termasuk yang sekarang disajikan. Pintu kamar hotel diketuk. Bram bangkit dan membukakan pintu.

cerita sex 2016, cerita sex terbaru, cerita sex, cerita seks 2016, cerita seks terbaru, cerita seks,  gairah sex

“Permisi. Selamat malam Pak. Tadi saya dipesan ke kamar ini buat massage~?”

Di balik pintu Bram mendapati seorang gadis, paling-paling umurnya 20-an, berdiri dan tersenyum. Gadis itu membawa tas kecil. Nada bicaranya ramah dan cenderung genit, tapi terkesan tak dibuat-buat.

“Oh, iya. Silakan masuk,” kata Bram sambil memandangi gadis tukang pijat itu. Gadis itu memakai kemeja lengan pendek putih bercorak dengan aksen renda di dada, dan rok hitam pendek. Rambut hitamnya yang diluruskan rebonding tergerai sampai ke punggung.

“Mau langsung, Pak?” tanya gadis itu.

“Oh iya, maaf, dengan bapak siapa? Saya Mira.”

“Bram,” kata Bram sambil menjabat tangan gadis itu untuk berkenalan. Mira bertubuh pendek—hanya setinggi bahu Bram. Bram terus mengamati gadis tukang pijat itu. Mira terlihat berusaha tampil ramah, bibir merahnya selalu tersenyum. Mata sipit dan pipi tembemnya terlihat menggemaskan.

Bram tahu, di kamar-kamar lain hotel yang sama sedang terjadi adegan serupa. Enrico mengundang beberapa orang yang perlu dilobi untuk menikmati “hiburan” yang disediakan, dan Bram juga kebagian. Tapi sebenarnya Bram sedang tidak berminat. Dia cukup lelah setelah mengikuti Enrico ke sana-ke mari, jadi dia bilang saja kepada Enrico, minta dipanggilkan tukang pijat hotel. Dan yang datang adalah gadis ini. Mira.

Mira membawa seprei yang dilipat, yang dia tebarkan di ranjang kamar hotel setelah minta izin Bram. Dia lalu menanyakan apakah Bram mau langsung dipijat. Bram mengangguk.

“Iya, sekarang aja deh,” kata Bram.

“Kalau begitu, maaf Pak, tolong dibuka bajunya,” kata Mira dengan nada malu-malu.

Di balik sikap yang kelewat sopan itu Bram menangkap rasa gentar. apa gadis ini kurang pengalaman? Ataukah hanya pura-pura saja untuk memberi kesan “polos”? Bram cukup banyak bergaul dengan dunia hiburan malam sehingga dia lumayan tahu bagaimana para perempuan penghibur bersikap. Kemudian Bram memutuskan untuk tidak ambil pusing dengan tulus tidaknya Mira,  toh gadis itu datang untuk memijat… kalau nanti berlanjut ke yang lain-lain, itu urusan nanti. Bram pun membuka baju dan celana, tinggal menyisakan celana dalam, dan berbaring telungkup di atas tempat tidur yang sudah dialasi seprei. Mira mulai dengan memijat telapak kaki Bram. Tak lama kemudian tangannya sudah pindah ke betis Bram, mengurut sekujurnya, sampai ke belakang lutut, terus ke paha.

“Tangan kamu enak juga,” Bram berkomentar,

“Hangat.”

“Iya, banyak yang bilang begitu Pak,” kata Mira.

“Anu, pijatan saya sudah cukup kan Pak? Perlu lebih keras?”

“Nggak, segini sudah cukup.”

Mira meneruskan memijat, kali ini makin ke atas mendekati selangkangan Bram. Bram merasakan kejantanannya bereaksi ketika sentuhan halus Mira mengelus bagian dalam pangkal pahanya.

Mira berhenti dan bertanya.

“Pak, mau pake krim?”

“Iya boleh,” kata Bram.

“Maaf kalau gitu celananya dibuka saja, biar nggak kotor,” saran Mira.

Baca JUga Cerita Sex Lain nya di Gelorabirahi.com

Bram sudah tahu itu kode apa. Tanpa menjawab, dia melepas celana dalamnya lalu kembali telungkup. Kejantanannya sudah setengah tegak. Mira melumurkan krim pijat ke tangan, lalu mulai lagi dari bawah, dari betis Bram.

“Hihihi, Pak, bakal cepet habis nih krimnya,” celetuk Mira,

“habisnya rambutnya banyak di sini…”

“O gitu?” jawab Bram.

Yang Mira maksud itu pasti betisnya. Mira melanjutkan pijatannya, sekarang kembali ke paha. Lagi-lagi Bram merasa terangsang dengan sentuhan Mira, apalagi setelah tangannya licin dengan krim, sensasinya makin lancar terasa.

“Maaf ya Pak saya pijat pantatnya,” kata Mira, yang kemudian mencengkeram dan meremas-remas dua belahan pantat Bram.

“Ehmm…” Bram enggumam.

“Kenapa Pak?” Mira berhenti karena gumaman Bram itu.

“Nggak apa-apa… terusin aja. Enak kok,” kata Bram. Mira tanpa sungkan kembali menggarap pantat Bram, terus ke selangkangan.

“Udah lama mijet?” tanya Bram.

“Lumayan Pak, udah setahun,” jawab Mira.

cerita dewasa 2016, cerita dewasa terbaru, cerita dewasa, cerita mesum 2016, cerita mesum terbaru, cerita mesum, gairah sex

Bram berusaha mencairkan suasana dengan ngobrol dengan Mira. Gadis itu baru 22 tahun, warga setempat, dan jadi tulang punggung keluarganya karena dia anak tertua. Keluarganya sendiri tidak tahu pasti apa pekerjaannya, hanya tahu dia “kerja di hotel”. Sambil ngobrol, Mira terus memijat ke atas, meninggalkan pantat Bram ke punggung, lalu ke bahu.

Bram menengok ke belakang, berusaha melihat Mira. Dirasakannya rambut panjang Mira menyentuh punggungnya.

“Ada apa, Pak?” Mira memperhatikan Bram yang menoleh.

“Nggak apa-apa,” tukas Bram, kemudian tiba-tiba kebiasaannya ketika berbicara dengan perempuan penghibur muncul.

“Pengen ngelihatin yang mijet aja…”

“Ah Bapak bisa aja,” kata Mira tersipu, tersenyum malu.

“Balik badan Pak.”

Bram berbalik badan. Kali ini dia tak lagi bisa menutupi kenyataan bahwa ada bagian tubuhnya yang bereaksi terhadap kehadiran dan sentuhan Mira. Tapi Mira tak mengacuhkan alat kelamin Bram yang kini tampak sombong  di hadapannya, gairahsex.com dan kembali lagi memijat dan menekuk-nekuk kaki Bram. Bram terus berusaha mengajak bicara Mira. Mira ternyata masih lajang; pernah punya pacar beberapa tahun lalu yang lantas kabur untuk menikah dengan gadis lain.

“Sebenarnya sih saya pengen cepet nikah Pak, cuma gimana ya, kerja saya seperti ini, mana ada yang mau sama saya… Bapak sudah nikah?” ujar Mira.

“Udah…” kata Bram.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Mira sudah tuntas menggarap sekujur tubuh Bram. Mata Bram tak lepas-lepas memandangi si pemijat. Wajah Mira mengingatkannya akan seorang artis, Anya. Hanya saja Mira pendek, tak seperti Anya yang jangkung.

“Sudah selesai Pak…” kata Mira lirih.

“Anu… ada lagi yang bisa saya bantu?”

Bram sudah hafal apa yang biasanya terjadi sesudah sesi pijat semacam itu. Terlebih lagi dia keburu terangsang oleh sentuhan-sentuhan Mira.

“Main aja yuk,” ajak Bram sambil tersenyum dan menggenggam tangan Mira.

Jawaban Mira ternyata tidak nyambung dengan harapannya.

“Jangan ya Pak, saya… belum pernah…”

Bram cuma tersenyum, dan akal sehatnya sedang kalah dengan nafsunya yang mulai menggunung, jadi bukannya dia berhenti, dia malah terus berusaha. Dia mengelus sekujur lengan Mira.

“Ayo dong… Nggak apa-apa kok…” rayu Bram.

Mira berusaha mengelak sambil menawarkan servis lain.

“Saya kocokin aja ya Pak?” Terlihat betul bahwa gadis pemijat itu tidak ingin menyinggung kliennya, walau Bram mulai kurang ajar tapi dia masih bersikap sopan.

“Hmm… iya deh,” Bram memutuskan untuk mundur dulu,  langkah strategis.

Dalam hatinya dia tak percaya dengan kata-kata Mira yang mengaku “belum pernah” tadi, dan dia pun sibuk memikirkan cara membongkar pertahanan gadis itu. Mira kembali melumurkan krim ke tangannya dan berkata,

“Maaf ya Pak,” sebelum mulai menyentuh penis Bram.

Entah dia masih perawan atau sudah tidak, yang jelas tangannya sudah ahli. Satu tangannya menggenggam batang kemaluan Bram, tangan lainnya mengelus kantong pelir Bram dan sesekali ke bawahnya, menuju lubang dubur Bram. Bram menggumam keenakan. Mira terus mengocok batang Bram, naik dan turun, kadang cepat kadang lambat.

“Sakit nggak, Pak?” tanya Mira.

“Ehmmmm…” Bram menggumam lagi,

“Enggak kok, enak…”

Mira terus membelai dan merangsang, tangan kanannya yang licin bergerak-gerak di sekujur kejantanan Bram, tangan kirinya memijat-mijat di bawah buah pelir. Bram bisa merasakan orgasme sedang menunggu terjadi di bawah perutnya.

“Ouhhh,” keluh Bram, mulai tak kuat menahan. Tapi dia tidak mau buru-buru selesai. Tangannya bergerak merangkul Mira yang berposisi duduk memunggungi di sebelah tubuhnya.

“Enak banget, Mira,” bisik Bram sambil menegakkan badan atas lalu menyenderkan kepala ke bahu Mira.

Orgasme yang tadi tinggal sebentar lagi itu sukses diredam. Mira diam.

“Kamu wangi…” kembali Bram berbisik sambil menghirup aroma tubuh Mira.

Gadis itu diam saja. Bram jadi tambah berani lalu mencium leher si gadis pemijat. Selanjutnya Bram mengulum telinga Mira.

 

Kunjungi JUga Beritaseks.com

 

“Ehmmm…” desah Mira. Bram nyengir, menyadari titik sensitif gadis itu persis sama dengannya, di telinga.

“Ahh… Pak…” Mira seperti memprotes tapi tak berdaya, kocokan tangannya melemah ketika Bram terus menggoda titik lemahnya. Dia pun tak hirau ketika tangan Bram mulai berusaha melepas kancing kemejanya satu demi satu. Dari bawah. Posisi badan atas Bram kini sudah tegak merangkul Mira dari belakang, dua, tiga, empat kancing kemeja Mira lepas… dan yang terakhir pun akhirnya lepas. Bram menyelipkan tangan ke balik BH yang dipakai Mira dan terjamahlah payudara gadis itu yang terasa kencang.

“Paak…” Mira memprotes lagi, berhenti mengocok dan melepas kejantanan Bram, tapi Bram sudah keburu nafsu.

Bram merebahkan Mira di tempat tidur dan langsung memposisikan tubuh atasnya di atas Mira, sambil menyibak kemeja Mira yang sudah tak terkancing. Tangan Bram meremas payudara Mira. Mira mendesah, menatap muka Bram. Bram membenamkan muka di dada Mira, menciumi belahan dada dan bagian atas payudara gadis itu. Dirasakannya Mira menggeliat dan nafasnya memburu. Tangan Bram bergerilya ke bawah, menyibak rok pendek Mira, mencari celana dalam. Ketemu. Jemari Bram mengelus-elus bagian celana dalam Mira yang menutupi vagina. Sambil ciuman demi ciuman terus mendarat di leher, pundak, dan telinga Mira.

Terdengar gadis itu mendesah. Bram berhasil membuat Mira terangsang. Bram berhenti sebentar, menjauh dari tubuh Mira. Dia memandangi ekspresi gadis itu; seolah pasrah. Andai wajah Mira tak berbedak terlalu tebal, gairahsex.com mungkin Bram bisa melihat wajah itu merona merah karena malu. Bram lalu melepas kaitan di depan BH Mira, dan menyingkirkan penutup dada gadis itu. Sepasang payudara Mira yang kencang itu tak lagi terlindungi. Bram dengan cepat menggoda keduanya, menyentuh, mencium, mengulum. Mira mendesah tertahan. Roknya sudah tersibak juga akibat aksi tangan Bram yang sambil terus mengelus-elus kemaluannya dari luar celana dalam. Bram kembali menindih tubuh Mira yang nyaris telanjang itu, lalu memelorotkan celana dalam Mira. Kejantanan Bram sudah tegang dan dia sudah tak sabar ingin menyetubuhi gadis itu.

Tapi ketika dia menyelipkan jarinya langsung ke belahan kewanitaan Mira—Sempit. Dan…Terasa sesuatu menghalanginya. Bram melihat setitik air mata mengalir dari sudut mata Mira. Gadis pemijat itu memang masih perawan. Ekspresinya mirip sekali dengan Sovi waktu dulu. Bram berhenti. Dia kembali teringat Sovi. Mira merasakan beban tubuh Bram bergeser dari atas tubuhnya.

“Maaf…” bisik Bram. “Kamu emang beneran belum pernah, ya…”

“Pak…” Mira membuka matanya yang masih berkaca-kaca, tak mengerti perubahan reaksi Bram.

“Ah, nggak, nggak apa-apa, Mira,” Bram berkata itu sambil berubah posisi jadi berbaring di samping Mira.

“Aku… kepikiran istriku.”

Mira terdiam sebentar lalu berbicara sambil memejamkan mata.

“Nggak apa-apa Pak, saya… sudah dibayar kok…”

 

“Apa kamu nggak bakal nyesal nantinya?” kata Bram sambil memandangi langit-langit, melihat bayangan wajah Sovi di sana.

Mira diam saja.

“Jangan dikasih ke aku, Mir,” kata Bram lagi.

“Aku nggak tega. …Yah, mungkin aku yang dulu gak bakal keberatan, tapi sekarang… aku udah berusaha berubah dan nggak pengen begitu lagi.”

“Jadi… gimana ini Pak?” Mira bingung.

“Sudah, nggak apa-apa. Yang terjadi atau nggak terjadi di dalam sini, orang lain nggak usah tahu. Kamu pakai lagi bajumu.”

Mira bangkit dan kembali memakai semua pakaiannya.

“Kamu tunggu di sini, aku mau mandi dulu sebentar terus kita bicara lagi,” kata Bram.

Bram langsung masuk ke kamar mandi, menyalakan shower dan membasuh seluruh tubuhnya. Semburan air shower meredakan lagi nafsunya dan mendinginkan kepalanya. Tak lama kemudian, Bram keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang menutupi seputar pinggang ke bawah. Mira masih duduk di tempat tidur, tanpa bicara.

“Bapak… nggak suka sama saya?” kata Mira lirih ketika Bram duduk di sebelahnya. Bram tersenyum sambil menaruh tangannya di atas tangan Mira.

“Bukan…” kata Bram, “tapi ada yang lebih berhak nyentuh kamu nanti. Siapapun dia, aku nggak mau ngambil haknya. Aku sudah punya istriku, Mira.”

Mira menengok agak tak percaya.

“Tapi saya udah dibayar…” katanya lagi.

“Nggak usah ungkit-ungkit itu. Kamu kan datang ke sini mau mijat aku, dan tadi kamu udah mijat. Pijatanmu enak. Kuanggap kerjaan kamu sudah selesai.” Bram beranjak ke meja, mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang.

“Ini, lumayan buat uang jajan kamu.”

“Aduh, Pak… apa nggak terlalu banyak ini? Saya kan cuma mijet…” kata Mira sungkan.

“Terima saja,” kata Bram. Mira pun mengantongi tips dari Bram itu.

“Ka-kalau gitu… saya pamit pergi dulu Pak…” kata Mira.

“Eh tunggu dulu,” kata Bram. “Minta nomor telepon kamu.”

Mira menyebutkan nomor telepon, yang langsung dimasukkan Bram ke dalam HP-nya.

“Aku mau buka usaha di sini,” kata Bram.

“Mungkin aku bakal perlu karyawati. Barangkali kamu mau ganti pekerjaan…”

“Makasih, Pak… makasih banyak,” kata Mira.

Bram mengantar gadis pemijat itu ke pintu kamar dan membukakan pintu. Dilihatnya gadis itu tersenyum lega. Setelah Mira pergi, Bram kembali memikirkan Sovi. Bram merasa sudah berbuat yang benar dengan tidak mengambil kehormatan Mira tadi. Tidak, dia tidak perlu perempuan lain lagi. Dia hanya perlu Sovi. Dan urusan di sini sebenarnya sudah selesai. Bram meraih telepon kamar hotel dan minta disambungkan dengan biro perjalanan. Dia ingin tahu apa kepulangannya bisa dipercepat.

cerita,sex,seks,dewasa,mesum,bokep,ngentot,hot,sange,telanjang,panas,syur,lesby,

gay,homo,bugil,telanjang,tante,bispak,kontol,memek,vagina,lendir,onani,

masturbasi,anal,kimcil,xxx,bondage,perkosaan,cabul,skandal

Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

..