Vimax ezgif.com-resize cerita sexbcggv
Breaking News

Sexy Wife 8

Vimax ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya

kisah sex 2016, kisah sex terbaru, kisah sex, kisah seks 2016, kisah seks terbaru, kisah seks, Bram di kantor sedang menunggu Pak Jupri alias Mang Enjup yang belum juga datang. Padahal ada beberapa pekerjaan yang memerlukan atasannya itu, tapi ke mana dia? Sambil menunggu, Bram berpikir tentang Sovi. Semoga Sovi bisa pulih setelah bertemu psikolog itu…Tapi Bram terpikirkan satu hal lagi. Malam itu, malam ketika trauma Sovi dimulai… Citra ada di rumah. Citra pasti tahu sesuatu. Bram merasa perlu bertanya.

cerita dewasa 2016, cerita dewasa terbaru, cerita dewasa, cerita mesum 2016, cerita mesum terbaru, cerita mesum, cerita bokep 2016, cerita bokep terbaru,cerita bokep, cerita ngentot 2016, cerita ngentot terbaru, cerita ngentot, gairah sex

*****

 

Sovi belum lama pergi. Dr. Lorencia kembali duduk di belakang mejanya sambil membayangkan indahnya tubuh Sovi yang sempat dicicipinya sebentar tadi.

“He, Loren, kamu jangan bayangin macem-macem ya. Sovi itu buat Mang. Kita udah ada perjanjian,” kata sesosok manusia yang tiba-tiba muncul dari belakang Dr. Lorencia. Dia datang dari balik pintu samping ruang praktik Dr. Lorencia. Seorang laki-laki tua botak berperut buncit, yang sedang ditunggu oleh bawahannya di kantor. Mang Enjup.

“Yah, si Mamang, gimana ya? Ternyata dia cakep… Boleh nggak kubikin dia jadi lesbong juga?” Lorencia menimpali.

“Hus. Jangan lah. Kalau yang lain sih silakan ajah… Yang ini nggak boleh, ya? Soalnya dia orang yang spesial buat Mamang.” Mang Enjup mendekat dan merangkul Dr. Lorencia dari belakang.

“Emangnya aku enggak, Mang…?” tanya Lorencia manja.

“Ooo… pasti dong, Loren kan kesayangan Mamang. Kalau nggak, mana mau Mamang ajarin ilmu Mamang ke Loren? Kamu istimewa, Ren. Nggak banyak awewe yg Mamang cobain tapi udah ada bakat buat nerusin ilmu Mamang.”

“Hehehe… Bilang aja waktu itu Mang ketipu soalnya aku ga mempan digendam… Gapapa deh, yang penting aku jadi dapat ngewarisin ilmunya Mamang.”

Bertahun-tahun lalu, Lorencia, seorang sarjana psikologi, melamar kerja kepada Mang Enjup. Melihat parasnya yang cantik, Mang Enjup sempat mengisengi Loren dengan ilmu gendamnya, tapi entah kenapa, hipnotis Mang Enjup kurang mempan kepada Loren. Mungkin karena Mang Enjup berusaha membuat Loren tertarik kepada dirinya, tapi ternyata Loren punya kecenderungan lesbian sehingga tak mempan. Itulah yang membuat Mang Enjup menyangka Loren istimewa, dan karena rahasianya sudah terbongkar di depan Loren, Loren pun menuntut penjelasan serta imbalan, kalau tidak dia akan membongkar rahasia Mang Enjup.

Akhirnya Mang Enjup mengajarkan ilmu gendamnya kepada Loren. Keduanya jadi akrab, dan terus berhubungan. Loren tak jadi bekerja kepada Mang Enjup dan memilih meneruskan studi dan menjadi psikolog praktik, dan ilmu hipnotisnya dia gunakan untuk membantu pasien. Tapi, sebagaimana Mang Enjup, Loren pun sekali-sekali menyalah gunakan kemampuannya itu. Ketika Bram mengeluhkan Sovi, Mang Enjup langsung menyambar kesempatan dan memberitahu tentang Dr. Lorencia. Sesudahnya Mang Enjup menjelaskan apa yang sudah dia lakukan kepada Sovi, dan Loren menyanggupi untuk membantu. Loren juga menceritakan semua pengakuan Sovi kepada Mang Enjup. Mang Enjup terlihat senang mendengar semua petualangan Sovi, apalagi ketika dia tahu pengaruhnya telah membuat Sovi jadi lebih berani dan menggoda.

“Tapi Mang,” tanya Loren,

“Emang mau diapain si Sovi itu? Kan Mang udah dapet nyobain dia.”

“Ada rencana Mamang buat dia. Rencana gede. Kapan-kapan Mamang ceritain deh. Nanti kalau udah jadi.”

 

*****

 

Sepulang kantor, Bram disambut oleh Sovi. Sekali lagi penampilan Sovi membuat Bram melongo… Sovi malam itu tampak seksi dengan babydoll transparan, rambut tergerai, make-up tebal namun menarik… dan dia menunggu Bram dengan penampilan seperti itu di depan pintu rumah!

“Mas Brammm….” Sovi menyambut suaminya dengan ciuman mesra, lalu dia langsung menarik Bram ke dalam rumah. Sebelum Bram sempat berbuat sesuatu keduanya sudah bercumbu hebat. Tapi Bram jadi curiga…

Siang hari, sekitar pukul dua di suatu bangunan kecil di kompleks perumahan pinggir kota. Sehari-harinya tempat itu adalah salon, Salon Citra. Tapi pemiliknya tidak hanya menawarkan jasa perawatan kecantikan bagi wanita. Di balik tirai yang memisahkan ruang belakang dengan ruang utama salon, pemilik salon itu, Citra, sedang duduk selonjor di atas tempat tidur yang biasa dipakai untuk luluran atau facial. Citra berpenampilan cantik seperti biasa, rambutnya yang hitam lurus sebahu tergerai. Pakaiannya juga seksi, seperti biasa. Ia mengenakan kaos tanktop putih yang ketat membungkus tubuhnya, juga rok mini kuning yang mencapai setengah pahanya saja tidak, dan di bawah roknya Citra mengenakan pantyhose nilon warna kulit. Kaki kanannya yang terbungkus nilon itu terjulur, mengelus-elus selangkangan celana seorang laki-laki bertubuh tegap yang duduk mengangkang menghadapinya di ujung lain tempat tidur.

“Jadi Mas Kris yang ngatur?” tanya Citra dengan nada manja.

Laki-laki yang dipanggil dengan sebutan Mas Kris itu mengenakan kaos hijau dan celana dinas tentara, dia memang salah satu beking Citra yang masih aktif sebagai perwira menengah di kesatuan setempat. Sambil menggumam keenakan merasakan burungnya mengeras dielus-elus kaki Citra, dia menjawab.

“Iya dong.  Ngeberesin kroco sok jago seperti si Gede itu kecil.  Apalagi zaman sekarang, bikin amuk massa itu gampang.  Kamu udah lihat beritanya kan?” kata Kris.

“Ah, aku gak suka nonton berita Mas, bosen,” kata Citra.

“Mestinya kamu lihat, ha ha ha… Soalnya ada muka jelek si Gede babak belur dihajar massa, ampe berdarah-darah gitu.  Kamu minta yang kayak gitu kan, minta yang setimpal buat dia?  Habis ini juga si Gede bakal dipecat gara-gara bikin malu pemerintah.  Salah sendiri, udah tahu ngadapin kumpulan orang marah, malah ndableg.  Biar mampus dia.”

Beberapa hari sebelumnya, terjadi insiden ketika satuan aparat yang dipimpin Gede melaksanakan penggusuran. Entah mengapa, warga setempat malah melawan aparat dengan membawa senjata tajam dan batu. Akibatnya terjadi perkelahian berdarah yang menyebabkan 1 orang warga dan 1 orang aparat tewas, dan puluhan orang luka berat termasuk Gede yang kepalanya bocor kena timpuk dan sempat digebuki ramai-ramai.

Masyarakat dan media ramai menyalahkan, ada yang menganggap warga mengamuk karena kekesalan yang sudah menumpuk terhadap aparat yang biasa semena-mena. Yang luput dari perhatian semua orang adalah bahwa amuk warga itu dipicu oleh beberapa provokator yang dikirim oleh Kris. Walaupun sama-sama aparat, memang kadang ada ketegangan antar kesatuan di balik permukaan, terutama dalam masalah urusan beking membekingi. Citra yang boleh dianggap pengusaha kecil bisnis esek-esek tidak lepas dari beking, dan dia cukup cerdik untuk tidak hanya memegang satu orang. Ketika Gede berlaku kelewatan terhadap dirinya dan Sovi beberapa waktu lalu, Citra memutuskan untuk membalas lewat jalan lain, menyingkirkan Gede dengan menggunakan Kris, bekingnya dari kesatuan lain.

Rupanya Kris memilih membuat kerusuhan kecil untuk menyakiti sekaligus menyingkirkan Gede. Sambil Kris bercerita bagaimana dia merekayasa massa untuk menghajar Gede dan satuannya, kaki Citra terus mengelus-elus gundukan keras di balik selangkangan celana si perwira. Sementara itu Citra mengangkat sedikit demi sedikit tanktop-nya. Perlahan-lahan tampaklah sepasang payudara Citra yang kenyal nan padat, dengan puting yang sudah mengeras. Kris menjulurkan tangan kanannya, menyentuh payudara Citra. Tangan Kris yang besar itu meremas kedua payudara Citra sekaligus, di bagian dalam tempat keduanya bertemu. Kris membuka sendiri resleting celana dinasnya dan mengeluarkan penisnya dari balik celana dalam, sambil terus menggenggam kedua payudara Citra. Citra mulai mengeluarkan suara merintih-rintih nikmat. Citra mengangkat sedikit lututnya supaya kakinya bisa lebih enak membelai-belai kemaluan Kris yang sudah terbebas. Mata Kris tak lepas-lepas dari kaki nakal Citra di selangkangannya.

“Ughh…” Kris menggerung ketika ereksinya belai lembut oleh Citra, penisnya ditekan ke perut oleh sekujur kaki Citra yang seperti memeluk batang itu.

Citra berposisi duduk mengangkang dan Kris bisa melihat bahwa di balik pantyhose Citra tak mengenakan celana dalam.  Citra meningkatkan gesekan kakinya, dan melihat tubuh Kris yang besar itu belingsatan seperti kesetrum.  Citra merasa menikmati posisi dominan itu, dia sebagai seorang perempuan bisa memain-mainkan tubuh seorang laki-laki yang kekar seperti Kris dengan kakinya, seolah seorang ratu dan budaknya.

“Ahh… Citra…” Kris terlihat tegang, wajahnya meringis. Citra merayu,

“Udah mau keluar, Mas…?”

“Erghh sialannn… Sini!”  Tanpa diduga, Kris bergerak.  Tangannya yang dari tadi bermain di dada Citra kini merenggut tanktop yang sudah menyangsang di atas payudara, menariknya dengan kasar sehingga Citra dipaksa merunduk ke depan.  Citra kaget,

“MAS!!?? “

Dan teriakan berikutnya,

“AHH JANGAN DI MUKA MASSS!!”

Citra, yang suka bersolek, memang tak suka orang berejakulasi di mukanya.  Dia memang sudah pernah melakukan segala macam hal, tapi ada beberapa yang dia kurang suka, salah satunya adalah apabila mukanya dinodai sperma. Seperti yang terjadi saat itu. Kris menarik Citra sampai dia tersungkur ke depan, gairahsex.com tertelungkup di alas tempat tidur dengan muka menoleh, lalu Kris menekan kepala Citra sambil berejakulasi di pipi Citra yang berbedak dan berperona. Kris tertawa puas melihat Citra yang tak senang. Begitu dilepas, Citra langsung bangkit lagi, menyeka cairan berbau amis yang barusan mengotori pipinya, lalu menampar Kris.

“Sialan!” maki Citra,

“Dari dulu kan gue udah bilang gak suka orang ngecrot di muka gue!”  Wajah Citra berubah marah.

Kris tidak ikut marah, dia terus tertawa-tawa setelah si pemilik salon memakinya. Dengan kalem dia membalikkan kata-kata Citra.

“Suka-suka aku mau ngapain kamu. Aku udah repot-repot ngebalesin dendam kamu sama si Gede kucrut itu, dan kamu tetep aja banyak maunya?” Kris mendekat dan mencengkeram rahang Citra.

“Hei, Citra,” katanya dengan dingin namun tegas.

“Aku tahu.  Pasti kamu juga ngelunjak begini sama Gede, kan? Aku nggak heran. Kamu tuh udah tau cuma lonte, tapi sombongnya kelewatan. Masih ngerasa kayak dulu ya?”

Baca JUga Cerita Sex Lain nya di Gelorabirahi.com

“Uhh…” Citra meringis, gentar.

“Terserah Mas mau bilang apa.  Urusanku sama Gede…”

“…sekarang jadi urusanku juga, kan?” Kris memotong.

“Inget, kamu yang datang ke aku, ngerayu-rayu minta aku ngasih pelajaran ke si Gede.  Aku udah kasih apa yang kamu mau. Jadi ya aku boleh ngapain aja, kan?” Citra tertunduk.  Sebetulnya dia kesal, tapi Kris memang benar. Lagi-lagi posisi tawar Citra lemah.

“Ngerti?” tanya Kris lagi. Citra mengangguk.

“Kalau ngerti… sekarang kamu nungging.”

Citra patuh, dia pun berubah posisi jadi menungging di atas tempat tidur sementara Kris turun dan berdiri di sampingnya. Kris mendekati bagian bawah tubuh Citra, meremas pantat Citra yang kencang dan masih terbungkus pantyhose itu. Kris terkekeh.

“He he he… Asyiik, pantat lonte.”  Dia menampar pantat Citra dua kali. Citra mendengking kaget. Kris lalu memelorotkan pantyhose Citra sehingga pantat Citra tak lagi tertutupi, lalu kembali dia menampari pantat Citra. Setelah puas, tamparannya berubah menjadi elusan dan remasan. Kris lalu mengulum jarinya. Dengan membasahi jarinya seperti itu, sudah jelas apa yang mau dia lakukan. Citra diam saja ketika satu jari Kris memasuki vaginanya. Kemudian tidak cuma satu, tapi dua jari Kris bergerak keluar-masuk kewanitaan Citra.  Kris tersenyum puas melihat wajah Citra yang menatap kepadanya seolah memohon. Permainan jarinya membuat si pemilik salon itu terangsang.

“Ah… ahh…” Citra mulai mendesah-desah, wajahnya yang berias tebal berkerut menahan nafsu yang mulai meninggi.

“Ahhh…”

Kris menjolokkan satu lagi jarinya, sehingga kini jari tengah, manis, dan telunjuknya keluar-masuk di kemaluan Citra. Kris merasakan bagian itu makin lama makin basah, pertanda pemiliknya sudah terhanyut oleh birahi.  Kris makin kencang menyodok-nyodok Citra dengan ketiga jari tangan kanannya.  Citra berusaha meraih ke belakang dan menahan agar tangan Kris jangan terlalu kasar.

“Eit, mau apa?” Tangan kiri Kris yang belum melakukan apa-apa gesit menahan tangan Citra.  Citra tidak kuat melepaskan diri dari genggaman Kris.  Kris meregangkan jari-jari tangan kanannya, berusaha membuat kemaluan Citra melebar. Citra mulai merasakan orgasme akan datang selagi cairan vaginanya membasahi jemari Kris. Kris tertawa dan memasukkan satu lagi, jari kelingkingnya, ke dalam sana. Lagi-lagi dia berusaha merentangkan celah sempit yang dimasukinya selagi dia mendengar nafas Citra memburu.

“Hehehe… Udah mulai longgar lu Cit.  Empat jari gue bisa masuk.  Lu kayaknya sebentar lagi kadaluarsa nih?” Kris berkomentar menghina.

“Bangke,” Citra balas memaki.

“Lonte,” hardik Kris,

“Sekarang lu diem.  Gue ga mau denger bacot lu, gue mau memek lu aja.”

Kris naik ke tempat tidur ke belakang Citra, dan kemudian menyorongkan penisnya yang sudah tegak lagi ke hadapan vagina Citra. Di ujung penisnya menitik cairan bening, pertanda Kris pun sudah tak tahan ingin melampiaskan nafsu.

“Ah… Hanhhh!” Citra melontarkan desahan ketika kejantanan Kris menembus kemaluannya.

Penis Kris meluncur dengan mudah ke dalam celah yang sudah basah dan teregang itu, menembus sampai pintu rahim. Citra tak diam saja, dia mendesakkan pantatnya menikmati ereksi Kris.

“Haa… haaahhh…” Bibir merah Citra menganga, mengeluarkan suara-suara penuh nafsu.

Tangannya mencengkeram seprai. Pinggul Kris maju-mundur mendongsok Citra. Kris makin bernafsu, dan dia berubah posisi. Tanpa mencabut penisnya, Kris turun dari tempat tidur sehingga dia berdiri di samping tempat tidur. Lalu kedua tangannya meraih kedua paha Citra, di bagian belakang lutut. Kris yang memang bertubuh kuat lalu mengangkut seluruh tubuh Citra, sehingga dia kini menggendong Citra di depan tubuhnya.

Keduanya melanjutkan persetubuhan dalam posisi yang tidak biasa itu.  Citra sudah seperti boneka yang digendong Kris, pasrah dalam lengan-lengan perkasa Kris yang mengangkut kedua pahanya, punggungnya bersandar ke dada Kris.  Tapi memang hubungan intim dalam posisi menggendong itu tidak gampang, karena penis Kris cuma bisa masuk sedikit, jaraknya terlalu jauh.  Akhirnya Citra dia taruh lagi di atas tempat tidur.

“Hihihi… Sok jago sih,” goda Citra selagi Kris mencabut kemaluannya dari lubang Citra.

“Kurang panjang tuh adeknya…” Citra saat itu berposisi menyamping dengan lutut tertekuk, pantatnya berada di pinggir ranjang.  Dia melihat Kris masih ereksi dan siap memasukkan lagi… ke lubang pantat.

“Emm…” Citra mengernyit ketika Kris akhirnya menekankan kepala burung yang masih membesar ke pintu belakang. Vagina Citra sudah basah karena baru di-invasi, tapi pantatnya tidak siap.

“Gue masuk ya… Uh!  Ahh… Sempit!” kata Kris.

“Iiuhh!”  Citra terengah ketika kepala burung Kris tiba-tiba memaksa menerobos lingkaran duburnya.  Dia secara refleks berusaha menghindar, memang wajar kalau ada yang mencoba mendesakkan sesuatu ke dalam pantat.  Tapi Citra tak bisa ke mana-mana selagi Kris mendorong pinggangnya ke depan sambil menggerung keras.  Masuklah penisnya ke dalam lubang dubur yang tak sepenuhnya rela itu sedikit demi sedikit.

“Auh!  Enak bangett!  Pantat lu masih nggigit juga ya?” seru Kris sambil mengerang keenakan.

“Hssshh…” Citra mendesis, sakit campur enak, matanya berkaca-kaca ketika merasakan sepotong daging yang keras dan panas di saluran belakangnya.

Kris mulai bergerak maju-mundur menggempur pintu belakang Citra tanpa ampun, kantong bijinya menampar-nampar belahan pantat Citra. Untungnya bagi Citra, setelah dua-tiga menit rasa sakitnya berkurang menjadi sekadar rasa kurang nyaman. Pantatnya sudah bukan perawan sejak lama, jadi sudah tahu mesti bereaksi apa.

“Enak gak Cit?  Lu masih suka pantat lu dientot kan?” tanya Kris sambil terengah.

“Iyah… Terus!  Teruus!” Citra mulai merasa enak.  Bagian bawah perutnya mulai merasakan sensasi nikmat dan jantungnya berdebar.

Kris melambat, menarik keluar penisnya pelan-pelan lalu ketika nyaris keluar dia masuk lagi dengan cepat dan kasar.  Dan…

“Uh…hhh!”

Citra merasakan sesuatu yang panas menyembur di dalam pantatnya.  Kris ejakulasi.  Kedua tangan Kris mencengkeram belahan pantat Citra yang berada di atas, seolah mau menyempitkan saluran yang sedang dimasuki kejantanannya. Kris baru mencabut kemaluannya sesudah puas melampiaskan nafsu di dalam pantat Citra. Ia merasakan sebagian sperma Kris ikut meleleh keluar bersamaan dengan perginya penis Kris dari dalam pantatnya. Citra tetap berbaring menyamping, tidak langsung bangun.  Dilihatnya Kris mengambili tisu untuk menyeka badannya sendiri. Beking Citra itu kemudian membereskan lagi pakaiannya.

“Sesuai perjanjian kita kemarin, ya.  Besok-besok kalau aku datang, kayak gini lagi ya.”

Citra dengan cepat mengambil selimut dan melilitkannya di sekeliling badan, lalu berdiri mengantar Kris yang beranjak ke pintu ruangan.  Citra tersenyum sinis sambil menaruh tangannya di pundak Kris.

“Oke boss,” katanya dengan genit.

Kris membuka pintu, lalu berbalik dan mengecup pipi Citra. Laki-laki tegap itu kemudian menuju pintu keluar salon, tanpa mengacuhkan seorang laki-laki muda yang berdiri di tengah ruangan utama salon. Citra melotot melihat laki-laki muda itu.

“Bram?”

Memang masih jam kantor, tapi entah kenapa, Bram ada di salonnya. Adik Citra itu memejamkan mata dan geleng-geleng kepala melihat kakaknya yang cuma terbungkus selimut dan tadi dicium seorang aparat berseragam.

“Ya ampun, Kak…” keluh Bram.

“Apa sih?” Citra menoleh ke kanan-kiri dengan cuek, melihat ada satu bungkus rokok di atas meja, mengambil sebatang dan menjepitnya di bibir, gairahsex.com lalu sibuk mencari korek api.

“Ada korek nggak?” tanya Citra kepada Bram.

“Kakak nggak pernah berubah, ya…” Bram tidak menanggapi pertanyaan kakaknya.

“Jangan sok kaget gitu lah,” kata Citra setelah menemukan korek gas di satu laci. Dia menyalakan rokoknya.

“Eh bukannya ini masih jam kerja?”

“Kak,” kata Bram dengan nada serius.

“Aku mau tanya.  Soal Sovi.”

Citra membelalak tanpa berkata apa-apa.  Wajahnya berubah serius juga.

“…Kakak pake baju dulu deh, sebelum jawab,” usul Bram.  Risi juga dia melihat kakaknya cuma berbungkus sehelai kain.

 

*****

Sejam kemudian…

 

Bram sudah kembali ke kantor setelah tadi mampir sebentar ke salon kakaknya, tanpa mampir ke rumah. Kepalanya terasa agak berat setelah dia mendengar jawaban Citra.

“Sovi, sedang apa kamu?”

Tapi dia tahu sebagian penyebabnya adalah dirinya sendiri. Begitu masuk kantor, Febby, sekretaris Mang Enjup, memanggilnya.

“Mas Bram!  Dicariin bos,” kata perempuan berkacamata itu. Bram langsung menuju ruangan Pak Jupri alias Mang Enjup, atasannya.

“Nah ini baru dateng anaknya.  Ke mana aja kamu?  Kenalin, ini Pak Enrico,” kata Mang Enjup yang sedang menghadapi seorang tamu yang berpenampilan pengusaha.

“Bram,” Bram memperkenalkan diri.

“Enrico,” kata orang itu.

Pembicaraan dimulai. Enrico rupanya sedang menggagas kerjasama dengan Mang Enjup untuk membuka perwakilan perusahaan itu di daerahnya.  Menurut Enrico, produk perusahaan mereka belum banyak tersedia di sana.  Mang Enjup sudah mengontak bagian-bagian lain perusahaan untuk menceritakan rencana Enrico, dan perusahaan menyetujui. Maka sekarang persiapan pembukaan cabang bisa dimulai.

“Jadi, saya ngundang Pak Jupri untuk berkunjung ke kota saya, biar bisa lihat sendiri keadaan di sana. Sekalian nanti saya kenalkan dengan rekan-rekan kita dan juga pihak berwenang di sana—lumayan, buat memperlancar urusan kita,” kata Enrico.

“Pak Enrico, terima kasih undangannya,” jawab Mang Enjup.

“Saya senang sekali kalau bisa ke sana. Katanya di sana pembangunan mulai rame, ya?  Pasti beda dengan waktu dulu saya masih muda ke sana, dulu sepi!  Ah, tapi sayang saya lagi jalani pengobatan, tidak boleh pergi jauh-jauh untuk sementara waktu.”

Bram yang dari tadi mendengarkan langsung menoleh ke Mang Enjup. Dia tahu Mang Enjup sebenarnya tidak sedang menjalani pengobatan (masalah kesehatan Mang Enjup cuma ejakulasi dini saja). Kata-kata barusan itu sekadar alasan untuk…

“…jadi nanti biar yang ke sana Bram, sebagai perwakilan saya.  Dia sudah biasa ngurus semuanya.  Gimana Bram, kamu bisa kan?” Bram tersenyum.

“Bisa,” jawabnya pendek.

“Kapan, Pak Enrico?”

“Dua hari lagi saya pulang ke sana.  Barangkali kita bisa bareng. Kira-kira perlu berapa hari?” kata Enrico.

“Seminggu?” Mang Enjup langsung memotong sebelum Bram menjawab.  Enrico mengangguk setuju.

Seminggu sebenarnya terlalu lama, Bram membayangkan, sekadar survei lokasi dan berkenalan dengan orang-orang setempat paling-paling perlu tiga hari.

“Oke, kalau begitu nanti saya kontak lagi Pak Bram untuk persiapannya.  Semuanya biar saya yang urus,” kata Enrico.  Kemudian Enrico pamit dan pergi.

Kunjungi JUga Beritaseks.com

 

*****

 

Malamnya, di rumah Bram dan Sovi…

“Mas mau pergi seminggu?” tanya Sovi.  Bram berbaring di tempat tidur, sementara Sovi duduk di depan meja rias.  Keduanya hendak beristirahat setelah seharian beraktivitas.

“Iya…” Bram menyebutkan nama kota tujuannya, yang terletak di pulau lain.  Dilihatnya wajah Sovi seperti kurang senang.

“Ajak dong Mas…” pinta Sovi manja.

“Yah, gimana ya… kayaknya nanti bakal sibuk urusan kantor di sana.  Ntar kamu malah nganggur di kamar hotel dong,” jawab Bram.

“Nanti kalau sempat cuti deh, kita ke sana. Katanya sekarang di sana rame, banyak tempat wisata, soalnya pembangunannya maju. Kepala daerahnya hebat.”

“Iih, curang,” Sovi merajuk.

“Katanya cewek dari sana cakep-cakep, ya?”

“Terus?” Bram nyengir.  Tapi dalam hatinya, dia mulai bisa membaca isi hati Sovi, karena dia sudah mendengar penjelasan Citra. Makanya dia tidak heran melihat Sovi bukannya membersihkan muka untuk persiapan tidur, malah memulaskan lipstik tipis saja di bibirnya.

“Pasti kamu mau ditraktir cewek di sana… Iya kan?” kata Sovi sambil beranjak dari meja rias, lalu menghampiri suaminya di tempat tidur.

Bram tersenyum melihat istrinya, perempuan cantik yang malam itu berdaster kuning, berias wajah tipis, dan berbau wangi. Jelas Sovi tidak ingin langsung tidur…  Sovi berbaring menyamping, menghadap Bram, memberikan ciuman mesra kepada suaminya.

“Yah… kamu tahu kan, biasa orang bisnis, entertain-nya gimana,” Bram tidak berusaha mengelak. Toh Sovi sudah tahu salah satu kelemahannya. Bram merasakan tangan Sovi menyelip ke balik celananya.

“Eh…”

Tangan Sovi terasa licin.  Licin dan mulai membelai-belai kemaluan Bram.  Bram merangkul istrinya dan mencium kening Sovi.

“Hayo… mau ngapain tangannya di sana…” goda Bram.

Sovi membalas dengan mengecup bibir Bram lalu menarik ujung kaos Bram, menyingkap tubuh atas Bram. Sementara itu Sovi terus menciumi tubuh suaminya, dari bibir turun ke dagu, rahang, leher.

Bram menahan nafas. Ia sekarang paham sebagian besar ceritanya.  Perubahan Sovi sesudah memergoki kebiasaan buruknya itu sebagian disebabkan Citra juga. Citra bercerita bagaimana Sovi minta saran agar Bram tidak perlu lagi melirik perempuan lain. Dan kakaknya itu, yah, sudah tahu apa yang Bram suka. Jadilah Citra membantu Sovi membentuk-ulang dirinya agar lebih bisa memenuhi impian Bram. Misalnya seperti yang terjadi sekarang. Sebelumnya, Sovi sangat konservatif dan lebih banyak pasif di ranjang. Sekarang, Sovi dengan genitnya merayu dan menggerayangi Bram.  Aksinya sudah tidak kalah dengan perempuan-perempuan penghibur yang dulu (dan kadang sekarang) memberi Bram kenikmatan badan. Sovi yang dulu tidak terpikir melakukan apa yang dilakukannya kini. Tangan Sovi sudah menyentuh kemaluan Bram yang sedikit tegak, jari-jari Sovi merangkum batang Bram. Sovi mulai membelai-belai organ intim suaminya, dari bawah ke atas dan kembali lagi, dan membuatnya tegang sempurna.  Bram tersentak sedikit ketika kocokan Sovi makin cepat.

“Ah…”  Bram melihat istrinya melirik nakal dan kembali mencium bibirnya.  Ah, betapa manis bibirnya.  Ah… dia kok jadi jago ngocok juga?

“Pelan… sayang…” bisik Bram.

Sovi mengabulkan permintaan itu dan mengurangi intensitas kocokannya.  Bram tadi sudah nyaris keluar, tapi dia tidak ingin buru-buru.  Tangan Bram mencengkeram lengan atas Sovi, wajahnya terlihat berusaha menahan kenikmatan, sementara rambut panjang Sovi menyapu hidung Bram selagi Sovi mengulum salah satu telinga Bram.  Beberapa waktu lalu, Sovi sempat memberikan servis ‘mandi kucing’, dan Sovi baru menemukan bahwa Bram punya titik sensitif di sana. Bram mengerang keras selagi Sovi kembali kencang mengocoknya. Percikan-percikan cairan hangat lengket melompat keluar dari ujung penisnya dan mendarat di mana-mana, di kaos dan dada Bram, di daster Sovi, di seprei. Sovi tak melepas dan terus mengocok sampai ejakulasi Bram selesai.

“Yah… berantakan nih.  Kamu sih nakal, gak bilang-bilang dulu,” goda Bram sambil menikmati perasaan nikmatnya.

“Habisnya Mas Bram mau pergi… jadi ya mumpung sempat sama Mas Bram,” jawab Sovi.

cerita sex 2016, cerita sex terbaru, cerita sex, cerita seks 2016, cerita seks terbaru, cerita seks, cerita hot 2016, cerita hot terbaru, cerita hot, cerita sange 2016, cerita sange terbaru, cerita sange, gairah sex

Sovi sendiri merasakan putingnya mengeras dan selangkangannya membasah. Membuat suaminya bisa orgasme dengan tangan sudah cukup merangsang baginya, dan andai Bram mau melanjutkan, dia merasa dia bisa langsung ‘dapat’. Bram meraih wajah Sovi. Ciuman yang menyusul sungguh panas. Lidah mereka berdua saling menjelajah, tetap seperti menemukan hal-hal baru walau keduanya sudah berkali-kali berciuman.

“Beresin dulu nggak?” goda Sovi.

“Nggak usah, kan mau dilanjutin?” Bram menanggapi.

Detik berikutnya Sovi didorong sehingga telentang, kedua pergelangan tangannya ditahan kedua tangan Bram, kedua lutut Bram mengepit kedua pahanya.

“Aku kan masih dua hari lagi perginya, sayang,” kata Bram pura-pura tak butuh.

“Biarin aja… Mas…” Bram melihat Sovi menggigit bibir kemudian kembali berkata.

“Mas aku pengen…”

Bram tidak perlu diminta lagi. Sedetik kemudian tubuh keduanya sudah bersatu.

cerita,sex,seks,dewasa,mesum,bokep,ngentot,hot,sange,telanjang,panas,syur,lesby,

gay,homo,bugil,telanjang,tante,bispak,kontol,memek,vagina,lendir,onani,

masturbasi,anal,kimcil,xxx,bondage,perkosaan,cabul,skandal

 

*****

Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

..