Vimax ezgif.com-resize Cerita Sex
Breaking News

Cerita Sex- Phone Seks Mesum

Vimax ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya

cerita hot 2016, cerita hot terbaru, cerita hot, cerita sange 2016, cerita sange terbaru, cerita sange,

Langit bertabur bintang. Bermandikan cahaya bulan, meninggalkan sombongnya matahari di kala siang. Malam itu seperti biasa Asmirandah tidur sendiri di kamar kost-nya. Tetapi Asmirandah tidak bisa tidur sama sekali. Bayangan percumbuan yang serba singkat di dalam mobil beberapa hari yang lalu kembali muncul di matanya yang mencoba tertutup. Rumah besar tempat kostnya di bilangan Jakarta Selatan itu terasa sepi sekali.

Sudah seminggu ini Asmirandah tidak berjumpa dengan aku di kantor, karena memang aku sedang melakukan presentasi ke luar kota. Hari itu sebenarnya adalah jadwalku untuk kembali Masuk ke kantor, namun aku belum juga datang. Siang tadi Asmirandah telah berulang kali menelphone HP-ku, namun tidak aktif. Perasaan khawatir sedikit muncul dibenaknya, bercampur dengan rasa kangen yang luar biasa.

Lalu ia pun berniat mengontak aku di rumah, tetapi niat tersebut diurungkan. Bukan saja karena Asmirandah tidak mau melanggar komitmen untuk tidak menggaguku di rumah, tetapi juga karena ia sendiri merasa sungkan bila ternyata telphonenya nanti diangkat oleh orang lain di rumahku. Siapa orang itu dan apa kata orang itu nanti, kalau ia sampai mencari-cariku ke rumah?

Kini, ketika matanya tak juga mampu terpejam tidur, ia menyesal kenapa tak memberanikan diri mengkontakku tadi siang. Menyesal karena merasa dirinya terlalu ragu-ragu bertindak.

Tak lebih 15 kilometer jauhnya dari kamar tidur Asmirandah, aku juga sedang terlentang sendirian di ranjang besar di kamar tidurku dengan mata nanar memandang langit-langit. Aku juga tidak bisa tidur malam ini, walau separuh laporan perusahaan yang penuh angka dan paling menjemukan telah habis aku baca. Entah kenapa, malam ini aku begitu merindukan Asmirandah. Mungkin karena telah seminggu ini kami tidak berjumpa, sehabis kejadian malam yang indah di dalam kemacetan Jakarta itu. Sedang apa dia sekarang? Apakah sedang dicumbu oleh kekasihnya yang lain? Apakah ia sedang bersama dengan teman manajerku itu? Pikiran terakhir ini sangat menggangguku, membuat aku terbakar cemburu selain birahi. Sungguh menggelisahkan!

Aku meredupkan lampu baca di kamar tidur dan menutup rapat pintunya. Sejenak aku memandang ke arah pesawat telephone di sisi ranjangku. Haruskah aku menelphone Asmirandah sekarang, malam-malam begini? Segera aku angkat gagang telephone, namun sebelum sempat memutar nomer telephone-nya, perasaan ragu-ragu menggugurkan keinginanku dan aku meletakkannya kembali ke atas pesawatnya. Bagaimana kalau ia sedang bersama orang lain saat ini? Ahh.. tetapi rasa rinduku yang menggebu-gebu mengalahkan segalanya.

Baca Juga Kumpulan Gairah Sex Mahasiswi

Ketika Asmirandah hendak mulai memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya.

“Siapa..?”, ujarnya sedikit malas.

“Miranda, ada telephone untuk kamu di depan”, ujar suara Viandi teman kostnya dari balik pintu.

“Dari siapa..?, Asmirandah bertanya lagi.

“Nggak bilang namanya, cuman katanya dari kakakmu, tapi suara cowok, kakak yang mana sih San..?, temannya menjawab dengan penuh selidik.

Asmirandah bergegas Abangkit dari ranjangnya, ia tahu persis siapa ‘kakaknya’ itu. Lalu sambil membuka pintu kamarnya ia berkata,

“Terima kasih yaa.. Viian, dia memang kakakku yang baru datang dari Malang..”. Asmirandah terpaksa sedikit berbohong kepada temannya mengenai siapa ‘kakaknya’ itu. Ia tidak ingin teman-temannya tahu mengenai siapa ‘kakaknya’ itu, terlebih pada Viandi teman sebelah kamarnya yang terkenal suka menggosip.

Asmirandah lalu melangkah cepat ke ruang tamu yang berseberangan dengan kamarnya. Ketika ujung gagang telephone telah diangkat ke telinganya terdengar suara lelaki yang sudah sangat diakrabinya.

“Halo Miranda, ini AAbang..”, aku menyapanya.

“Halo Abang, ini lagi di mana..”, ujar Miranda dengan nada gembira yang sengaja disembunyikannya.

“Lagi di rumah dong.., Miranda sudah mau bobo’ yaa..?”, tanyaku lagi.

“Ahh.. belum kok, Miranda belum ngantuk..”, jawab Miranda sedikir berbohong.

“Kenapa..?”, tanyaku lagi.

“Abis, Miranda mikirin Abang.., ‘kan mestinya hari ini udah Masuk kantor”, Miranda berkata dengan penuh terus terang.

“Terima kasih.., kamu inget sama Abang, soalnya tadi Abang Abangih capek Banget, jadi Abangih males Masuk ke kantor. Tapi ngomong-ngomong, presentasi-nya sukses lho, San. Makasih yaa.. buat bantuanmu nyiapin materi”, ujarku beralasan.

“Sama-sama, Abang.. Selamat yaa..”, ujar Asmirandah mViandimpali pernyataanku.

“Iyaa.. iya.. kalau aku sukses kan berkat kamu juga, jadi sukses kita sama-sama kan. Ehh.. ngomong-ngomong kamu lagi di ruang mana nih?”

“Di ruang tamu, Abang”

“Lagi banyak orang nggak di situ”

“Ada si Viandi yang lagi nonton TV, yang lain udah pada bobo’. Ehh.. Abang, telephone-nya aku bawa ke kamar dulu yaa..”, bisik Asmirandah pelan. Ia berkata demikian karena khawatir Viandi akan menguping pembicaraan mereka. Kebetulan karena letak kamar Asmirandah dekat dengan ruang telephone itu, maka kabelnya dengan mudah bisa ditarik ke kamarnya melalui jendela.

“Abang, sekarang udah aman, nggak ada siapa-siapa.. nggak ada yang nguping”, Asmirandah memberi sinyal kepadaku.

“Miranda, Abang kangen.. nih sama kamu, pengin melukin kamu..”, aku mulai mengatakan perasaanku yang sebenarnya.

“Ahh.. Abang, Miranda juga kangen tapi gimana dong..?”, Asmirandah berucap pelan.

“Abang pengin Banget bercinta dengan kamu, sekarang..!!”, aku berkata jujur. Asmirandah sedikit kaget mendengar pernyataanku yang straight forward itu. Namun dalam hati ia mengagumi caraku yang tetap halus namun tanpa basa-basi itu.

“Miranda, juga.., tapi gimana”, ujar Asmirandah kembali.

“Miranda bantuin Abang yaa..”, aku meminta kepadanya.

“Bantuin apa..?”, ujar Asmirandah bingung.

“Bantuin biar rasa kangen Abang terobati”

“Miranda mau mbantuin Abang apa saja, sepanjang Miranda bisa. Miranda mau Abang bahagia”, ia menjawab permintaanku dengan nada lirih hampir berbisik.

Mendengar pernyataannya yang terakhir itu, aku makin tidak bisa mengendalikan perasaanku, dan akupun semakin ingin membayangkan ia sedang berdiri dihadapanku saat ini. Aku ingin sekali..

“Miranda pakai baju apa sekarang?”, aku bertanya lagi.

“Pakai daster warna merah muda.., Abang pakai apa”, Miranda balik bertanya.

“Ehmm.. Abang cuman pakai celana tidur satin hitam, nggak pakai apa-apa lagi.. Kamu pakai apa di balik dastermu San..?”

“Miranda nggak biasa pakai bra kalau mau tidur, tapi Abangih pakai celana dalam warna krem”

“Yang ada renda-rendanya itu?”, aku bertanya penuh rasa penasaran.

“He.. em”, ujernya pendek.

Itulah awal pembicaraan kami di telephone yang dipenuhi oleh percakapan penuh rasa romantisme yang membakar sensualitas fantasi kami. Lalu kami saling bercerita canda panjang lebar untuk menanyakan keadaan Masing-Masing. Suara Miranda yang memang sangat seksi ditelingaku itu, seolah mendesah-desah penuh manja, membuat kejantananku semakin menegang terangsang di balik celana tidur satin yang aku kenakan.

Ditengah-tengah percakapan yang makin mendebarkan itu, Asmirandah menggeletakkan tubuhnya setelah bosan tidur miring. Kamar tidur sengaja ia gelapkan, karena ia ingin suasana percakapan itu semakin romantis, selain itu ia memang tidak akan bisa tidur dengan cahaya yang terlalu terang. Ah, tiba-tiba darah Asmirandah berdesir karena rasanya ia Abangih bisa mencium bau wangi tubuhku. Bau yang kini mulai diakrabinya: segar dan penuh aroma kejantanan. Tidak seperti tubuh lelaki lain di kantornya yang terlalu penuh minyak wangi sehingga berkesan sintetis. Ah, kini ia mulai membanding-bandingkan antara aku dengan teman-temannya yang lain, keluh Asmirandah dalam benaknya.

“Abang..,” bisiknya perlahan sambil menelungkupkan muka ke bantal,

“Apa yang ingin Abang lakukan kepadaku?”

“Miranda, Abang sedang membayangkan kamu. Kamu mau tahu nggak yang sedang Abang bayangkan..?”, aku berujar pelan.

“Hee em..”, Asmirandah mendesah lagi mengiyakan.

“Abang membayangkan sedang mencumbumu. Tangan Abang sedang membelai setiap centi kulit indahmu. Bibir Abang sedang mengusap-usap lembut rambut-rambut halus di belakang telingamu, lalu beralih ke bibir indahmu”, aku mulai menceritakan fantasiku kepadanya.

Di depan mataku seakan-akan ada sebuah film yang diputar berulang-ulang, berisi gambar indah percumbuan kami yang sangat singkat tetapi sangat menggairahkan itu. Bibir basah yang merekah pasrah itu, tergambar jelas di mataku. Harum nafasnya yang menggairahkan itu, tercium jelas di hidungku. Kelembutan lidah dan bagian dalam mulut itu.. hmm, semuanya terasa seperti nyata malam ini. Amat sangat nyata, sampai-sampai aku menelan ludah berkali-kali. Jantungnya berdegup kencang, seperti ketika waktu itu aku melumat bibir bidadari yang amat aku dambakan.

“Teruss..?”, Asmirandah berucap pelan sambil mulai memejamkan matanya. Bayangan percumbuan kami di dalam mobil seminggu yang lalu nampak jelas di pelupuk matanya.

Asmirandah Abangih ingat betapa aku mengulum lembut bibir tipisnya dengan luapan perasaan yang apa adanya. Betapa menggairahkannya ciuman itu! Aku melakukannya dengan sepenuh hati, sehingga rasanya tidak setengah-setengah. Ketika aku mengulum bibirnya, aku melakukannya dengan penuh perasaan, membuat dirinya terbuai-buai bagai tidur di atas awan di angkasa sana. Tak sadar Asmirandah meraba bibirnya dengan ujung jari. Ia dengan mudah bisa merasakan kembali ciuman itu. Tak mungkin ia bisa melupakannya.

“Terus bibir Abang turun ke arah lehermu. Lalu Lidah Abang menyapu-nyapu lembut di sana dan kamu merasa geli tetapi juga nikmat.. Kamu bisa merasakannya, ‘yang?”, aku melanjutkan.

“Oocch.. iyaa.. Abang, teruss..”, Miranda semakin tidak sabar menuggu kelanjutannya sambil jemari tangannya membelai-belai lehernya sendiri, mengikuti fantasiku. Jemarinya mengalir pelan di sepanjang lehernya yang jenjang, sesekali berhenti di belakang telinganya lalu mengalir turun ke arah dadanya.

“Bibir Abang semakin turun ke bawah, turun.. dan turun pelan-pelan sekali. Sekarang, Abang sedang melumati kedua puting payudaramu, bergantian yang kiri.. lalu yang kanan.. Tangan Abang meremasnya lembut.. Ooocch.. Miranda, Abang rasanya nikmat sekali.. Kamu juga merasakan hal yang sama, sayang?”, aku berhenti sejenak. Aku mendengar Asmirandah mendengus pelan..

Asmirandah tidak kuasa melupakan betapa dadanya yang kenyal dihisap oleh bibirku dan diremas oleh tangan kokohku itu. Oh, itulah cumbuan dan remasan yang tak kalah menggairahkan dari ciuman dibibirnya. Jemari dan bibiriku seperti penuh oleh energi pembakar sukma yang mengirimkan jutaan bulir kenikmatan ke seluruh tubuhnya. Tak sadar, Asmirandah mengerang kecil, meremas seprai dengan satu tangannya. Ia seperti merasakan lagi hisapan dan remasan jemari itu di dadanya. Gesekan nilon tipis pakaian tidurnya tiba-tiba seperti mewakili remasan itu. Ia tidur tanpa beha. Oh, kedua putingnya ternyata sudah mengeras. Kenapa jadi begini? Keluh Asmirandah sambil mengerang lagi, lalu memiringkan badannya, meraih bantal guling.

Lalu kembali aku melanjutkan fantasiku

“..putingmu, keduanya mulai mengeras dan semakin mengeras. Warnanya merah kecoklatan, kecil, panjang dan makin menjulang.. Abang juga menciumi lingkaran coklat di sekelilingnya, bergantian yang kiri dan yang kanan. Kamu mulai menggelinjang.. kamu meremasi rambut Abang dan menekan kuat-kuat kepala Abang di dadamu”, aku menceritakan fantasiku sambil membayangkan seolah-olah aku memang melakukan aktifitas itu.

“Oocch.. Abang, teruskan..”, Asmirandah mendesah lagi ketika aku terdiam sesaat. Tangannya meraba lembut di atas dadanya, dan ternyata memang benar.., putingnya telah mulai mengeras. Ia tersenyum sambil matanya tetap terpejam, sementara telinganya tetap berkonsentrasi penuh untuk mendengarkan suaraku di seberang sana.

“Tanganmu kini juga mulai meremas-remas lembut kejantanan Abang di bawah sana. Miranda.., kamu memang luar biasa.. Kamu mengusap sepanjang batangnya, pelan-pelan ke atas lalu kebawah lalu ke atas lagi. Remasan jemarimu berhenti di pangkal bagian atasnya yang membulat keras, lalu sesekali jari telunjukmu menyentuh-berputar pada luAbang di ujungnya. Kamu mengusapnya lagi ke arah bawah pelan sekali, kamu meremasi ke dua bola di pangkal bawahnya, kamu memeras, meremasnya di sana.. Oocchh..”, aku berhenti sejenak. Tanganku tetap bergerak-gerak di bawah sana melakukan aktifitas seperti yang aku ceritakan kepadanya.

Udara dingin menyebabkan aku harus menyelimuti badanku, tetapi sentuhan selimut di atas kejantananku yang hanya tersaput celana dalam tipis ternyata berdampak lain. Kenangan erotis tentang Asmirandah membuat diriku terbakar birahi. Perlahan tapi pasti, kejantananku menegang. Semakin lama, semakin tegang, berdenyut penuh gairah.

“Oocchh.. Abang.. Miranda juga sedang membayangkan hal itu terjadi sekarang”, Miranda pun mulai benar-benar hanyut dalam fantasi yang sama denganku.

Kira-kira hampir semViandit kami berdua hVianding, tidak bersuara. Kami benar-benar sedang terhanyut dalam sensasi seksual Masing-Masing, sementara Masing-Masing tangan kami yang terbebas dari gagang telephone melakukan aktifitas untuk memAbangkitkan gairah. Suara dengusan, rintihan pelan dan hembusan nafas panjang saling mViandimpali, membuat suasana semakin romantis. Ketika aku semakin tidak kuasa menahan rasa geli, nikmat di bawah sana, aku menghentikan aktifitas tanganku. Aku mengangkat sedikit tubuhku dan dengan sekuat tenaga aku turunkan sedikit celana tidurku dengan satu tangan, untuk memberikan keleluasaan pada kejantananku.

“Asmirandah,” bisikku, “Sedang apa kamu di sana? Kamu mau tahu nggak apa yang Abang barusan lakukan?”

“Hee.. emm..”, desahnya pendek.

“Celana tidur Abang sekarang telah terlepas, kejantanan Abang sudah tegak menegang, kamu Abangih ingat jelas bentuknya ‘kan? Sekarang maukah kamu melepas celana dalam kamu juga ‘yang..?”, aku menceritakan keadaanku sekaligus memohon kepadanya untuk melakukan hal yang sama.

“Iyaa.. Abang, sekarang Miranda juga sudah terbebas..”, ujar Asmirandah mengabulkan permintaanku. Celana dalamnya telah beranjak ke bawah pahanya. Sebenarnya sudah sedari tadi ia ingin melakukan hal itu.

Angin dingin menimlbukan suara berkesiut di luar jendela kamar tidur Asmirandah. Ia menelentang kembali, kini dengan mata terbelalak sepenuhnya. Kamar tidur yang senyap itu sebenarnya dingin sekali. Tetapi tubuh Asmirandah seperti dibakar api, dan ia terkejut sendiri ketika tak sengaja tangannya menyentuh selangkangannya. Celana dalamnya agak basah, dan sebuah rasa geli yang telah lama ia tak rasakan ternyata muncul di sana.

“Oh, aku begitu terangsang malam ini”, desah Asmirandah panik di dalam hati.

“Jangan dulu kamu sentuh yang di bawah sana, Miranda. Please, tanganmu tetap berada di atas. Sekarang kamu arahkan jemari ke mulutmu, lalu kamu hisap pelan, kamu jilat basah hingga pangkal jemari telunjukmu..”, aku melanjutkan permohonanku.

“He.. emm..”, Miranda mendesah sambil mulai meMasukkan jemari ke dalam mulut kecilnya. Jemarinya basah oleh cairan ludahnya sendiri, ia sedang mengkhayalkan sebentuk daging bulat, panjang, lebih besar dan lebih keras dari sosis. Ia mengulumnya pelan, dan sesekali menghisapnya dengan sepenuh perasaan.

“Please, sekarang jemarimu yang basah kamu tarik dari mulutmu, Miranda. Kamu usapkan jemarimu di mana sekarang, ‘yang..?”

Cepat-cepat Asmirandah memindahkan tangannya, tetapi tangan itu jatuh di atas dadanya. Untuk sejenak, ia mencoba mengatur nafasnya yang mulai terengah, tetapi tanpa diperintah tangan itu ternyata mulai meraba-raba. Asmirandah menggelinjang. Asmirandah mendesah gelisah. Rasa geli menyelimuti puncak-puncak dadanya. Rasa geli yang minta digaruk. Maka menggaruklah jemari-jemarinya, mengusap dan membelai pula. Gagang telephone ia jepit di antara pundak dan kepalanya, dua tangan kini ada di dadanya. Dua-duanya meremas, mengusap, menggaruk, membelai.. Asmirandah mendesahkan namaku berkali-kali dengan bisikan tertahan; kuatir teman di sebelah kamar kost-nya terAbangun.

“Oocchh.. Abang, Miranda sedang memilin lembut puting Miranda. Oocchh.. Abang.. keras sekali, Miranda ingin Abang menggigitnya, Miranda ingin Abang meremasinya.., pelan saja Abang..”, Asmirandah berkata demikian sambil jemari telunjuk dan jempolnya memilin-memutar putingnya dengan lembut.

“Iya.. Sayang, Abang sedang menjepitnya dengan bibir Abang, lalu lidah Abang menyapu-nyapu di ujung putingnya.. Enak sayang..?”, akupun tak kalah dalam mengimbangi fantasinya.

“Iyaa.. Abang.., sekarang tangan Miranda ada di atas perut Miranda”, Asmirandah melanjutkan.

“Iyaa.. sayang, bibir Abang sekarang sedang mencium lembut perutmu yang putih. Lidah Abang berputar-putar di sekitar pusarmu. Lalu Abang turun ke pangkal pahamu.. Terus bibir Abang berhenti di sana..”, aku berhenti untuk menunggu reaksinya.

Asmirandah tak tahan lagi. Dengan satu tangan tetap meremas-remas dadanya sendiri, ia mengusap-usap kewanitaanya dengan tangan yang lain. Celana nilon tipis Abangih menutup sebagian di sana, tetapi tentu saja tak mampu mencegah rasa nikmat yang datang dari telapak tangannya. Apalagi kemudian Asmirandah menelusupkan tangan itu ke balik celana dalamnya, menemukan lembah sempit di bawah sana telah basah oleh cairan cinta. Menemukan pula tonjolan kecil di bagian atas telah menyeruak keluar dari persembunyiannya, menonjol diam-diam menanti sentuhan jarinya.

“Oochh..”, Miranda mengerang pelan sementara jemarinya kini tengah berada tepat di atas gerAbang kewanitaannya yang telah terbebas. Ia benar-benar telah memelorotkan celana dalamnya.

“Lalu Abang menyentuhi rambut kewanitaanmu dengan bibir Abang. Lalu Abang menjilat-jilat lembut bibir kewanitaanmu di bawah sana. Lalu Abang gigit pelan klitorismu.. Abang hisap.., Abang.. gigit, Abang.. hisap lagi. Telunjuk Abang sesekali berputar-putar di atas daging kecil merah itu..”, aku kembali mengendalikan fantasinya.

“Oocch.. Abang, Miranda pengin Abang.. Miranda pengiinn.. oochh.. sekarang..”, Miranda tidak kuasa meneruskan kata-katanya.

“Iya.. sayang, Abang juga.. Abang sekarang akan meMasukkan jemari Abang ke dalam kewanitaanmu Miranda..”, aku berbisik lembut kepadanya.

“Oocchh..”, Miranda mengerang pelan.

Asmirandah menggigit bibir bawahnya, tersentak bagai tersengat listrik, ketika ujung telunjuknya tak sengaja menyentuh tonjolan kenikmatan itu. Sebuah desah cukup keras menghambur keluar dari mulutnya. Untung teman-teman sekostnya sudah terlelap sehingga mungkin tak akan terAbangun walau Asmirandah berteriak sekali pun.

“Jemari Abang Masuk.., berdenyut lembut di dalam sana. Kamu menghentak, kamu menjepit. Jemari Abang keluar.. Masuk.. keluar.. Masuk.. pelan sekali.. lembut sekali.. Semakin licin, kamu semakin berdenyut, kamu menggelepar pelan..”, aku berkata demikian sambil semakin keras mengocok kejantananku sendiri.

Aku meraba-raba kejantananku. Mengerang pelan karena merasakan tubuhku mulai bereaksi seperti biasanya, menyebabkan semua ototku terasa menegang, bagai seorang pelari yang sedang bersiap-siap melesat dari garis start. Kejantananku sudah menegang setegang-tegangnya. Bergetar seirama degup jantungku yang tak teratur. Naik turun seirama nafasnya yang mulai memburu.

Mula-mula, aku hanya mengusap-usap kejantananku di atas kulit lembutnya. Mengelus-elus perlahan, menimlbukan rasa geli yang samar-samar, seakan-akan untuk meAbangtikan bahwa segalanya berjalan perlahan menuju tempat tujuan. Tetapi, sebentar kemudian gerakan tanganku semakin cepat, bukan lagi mengusap tetapi menguyak-uyak. Nafasku semakin memburu. Rasa geli yang nikmat tersebar sepanjang kejantananku yang terasa bagai batang besi panas membara.

“Abang.., sekarang Miranda benar-benar sudah basah.., Miranda ingin bercinta dengan Abang.. Masukkan kejantananmu sekarang Abang, please..”, sekarang giliran Miranda yang memohon kepadaku.

“Iya sayang.., kejantanan Abang juga sudah keras menegang. Sekarang Abang mengarahkannya ke dalam gerAbang kewanitaanmu, tanganmu meremas batang kejantanan Abang, sembari mengarahkan ujungnya ke sana. Abang mengusapkan pada bibir kewanitaanmu, Abang merasakan basahnya cairan cintamu, lalu Abang melesak pelan”, aku berkata dengan cepat sambil tanganku semakin keras meremasi kejantananku.

Aku tak tahan lagi. Tanganku memelorotkan celana tidurku makin jauh, meremas batang tegang yang membara di bawah sana. Lalu dengan tidak sabar aku memelorotkan lagi celana tidurku hingga ke mata kakiku, hingga kini kejantananku bisa benar-benar terbebas, tegang menjulang. Jemariku meremasinya, membelai di sepanjang batangnya.., pelan sekali.., lembut sekali.. dari atas ke bawah, keatas, kebawah lagi.. Segera aku merasakan pinggulku bagai berubah menjadi kaldera gunung berapi yang penuh lahar menggelegak. Setiap kali aku meremas, setiap kali pula gelegak itu bagai hendak meluap keluar. Setiap kali pula aku mengerang dengan otot leher menegang seperti seorang yang sedang menahan sesuatu dengan susah payah.

Remasan tanganku semakin lama semakin teratur, diikuti gerakan naik turun seperti memeras. Setiap kali gerakan itu sampai ke ujung yang membengkak-membola itu, aku merasakan tubuhku seperti disedot ke dalam pusaran air birahi. Aku menggeliat-geliat keenakan. Kedua kakiku merentang tegang, dengan tumit tenggelam dalam-dalam di kasur. Aku mengerang.

“Ooochh.., teruskan Abang..”, Asmirandah berbisik sambil mengangkat kedua pahanya untuk mempermudah usapan jemarinya di bibir kewanitaannya.

“Lalu Abang mendorong senti, demi senti. Kakimu menggamit kuat erat pinggang Abang. Pinggulmu mulai bergoyang pelan membantu perjalanan Abang, dan Abang merasakan ujung kejantanan Abang kini telah menyentuh dinding kewanitaanmu yang terdalam”, aku merasakan cairan bVianding sedikit mengalir di bawah sana.

“Ooocchh..”, Asmirandah mengerang semakin keras, ketika ia sendiri mulai meMasukkan jemari tengahnya ke dalam liang basah itu. Asmirandah mengerang tanpa berusaha menahan suaranya. Ia sudah tak peduli lagi. Kedua pahanya terpentang lebar dan jari tengahnya melesak menerobos di antara lembah bibir-bibir kewanitaannya. Jari itu meluncur teratur.. turun sampai melesak sedikit meMasuki liang surgawi yang berdenyut-denyut.. lalu naik menyusuri lembah licin yang hangat dan basah itu.. lalu terus naik ke atas lepitan kewanitaannya, tiba di tonjolan yang kini memerah itu.. berputar-putar di sana dua-tiga kali ..

“Aaacchh..,” erangan Asmirandah semakin jelas. Kalau saja ada orang berdiri di balik pintu dan menempelkan kupingnya, niscaya ia akan mendengar erangan itu.

Tangan Asmirandah bergerak semakin cepat, sementara tangan yang satunya juga terus meremas-remas payudaranya dengan geAbang. Tubuh Asmirandah berguncang-guncang oleh gerakannya sendiri. Ia menggumamkan namaku itu dengan sedikit keras, lalu menggulingkan tubuhnya menjauh dari sisi tempat tidur. Asmirandah sudah tak lagi mempedulikan keras erangan suaranya. Ia sedang dalam perjalanan yang tak mungkin dihentikannya lagi. Ia harus sampai ke tujuan!

Aku pun merasakan tujuan asmara telah tampak di pelupuk mataku. Tanganku kini mencekal-meremas langsung kejantananku. Ada sedikit cairan licin membasahi bagian ujung kejantananku. Akibat gerakan turun naik, cairan itu terbawa oleh telapak tanganku membasahi batang kenyal-keras yang panas membara..

“Abang menggenjotmu dengan pelan, menerjangmu dengan lembut, semakin lama semakin keras.. semakin kuat Abang memompamu. Kamu meronta.. kamu meremasi rambut kepala Abang. Kamu mencakar dan menekan kulit punggung Abang. Abang menghentak.. menghentak.. semakin kuat. Dan..”, aku sengaja menghentikan fantasiku, karena ingin mendengar reaksi Asmirandah. Namun aku tidak memperlambat aktifitas tanganku di bawah sana. Gerakan tanganku semakin cepat dan teratur. Naik turun, naik turun, naik turun.. Terkadang agak lama di bagian ujung, meremas-remas dan mengepal. Menimlbukan rasa geli yang berkepanjangan, menyebar ke seluruh tubuh, menggetarkan semua otot, bahkan sampai menyebabkan ranjangku berderik-derik pelan.

“Ooochh.. Aacchh..”, Asmirandah merintih-rintih keras dalam kenikmatan sensasi fantasinya. Hanya suara rintihan itu yang bisa aku dengar dari ujung telephone selama beberapa saat. Aku terdiam mViandikmati suara rintihannya. Jemari tengah Asmirandah telah lancar ke luar Masuk, sambil sesekali ujung jempolnya menekan-berputar di klitorisnya yang tegang memerah.

Ranjang Asmirandah bergoyang keras ketika ia mulai merasakan dirinya mendaki puncak asmara. Kini dua jari yang melesak, mengurut, menelusur lembah sempit di bawah sana. Kini kedua pahanya terentang maksimum, membuat kewanitaanya terbuka lebar, memberikan keleluasaan gerak kepada tangannya.

Tangan yang satu lagi kini beralih ke bawah, namun gagang telephone Abangih dijepit diantara kepala dan pundaknya. Asmirandah memerlukan kedua tangannya untuk mendaki puncak gemilang birahinya. Satu tangan untuk melesakkan kedua jarinya cukup dalam ke liang surgawi yang menimlbukan rasa nikmat itu, sementara tangan yang lain mengusap-menekan-memilin tonjolan merah yang kini berdenyut-denyut itu.

Asmirandah bahkan sampai merasa perlu mengangkat pinggulnya, memberikan tekanan ekstra ke seluruh daerah kewanitaannya, menggosok-gosok keras dengan kedua tangannya..

Aku menggosok-gosok dengan cepat. Mengurut dengan keras. Naik turun tanganku semakin cepat, semakin cepat, dan semakin cepat. Nafasku terengah-engah. Kakiku terasa bagai melayang, padahal keduanya menjejak kasur dengan keras. Gagang telephone aku jepit di antara pundak dan kepalaku. Satu tanganku yang bebas kini mencengkram seprai, seakan mencegah tubuhku melambung ke langit-langit. Aku tak tahan lagi, aku menggerendeng merasakan tubuhku seperti hendak meledak.. Lalu aku benar-benar meledak. Menumpahkan cairan-cairan hangat di telapak tanganku.

Asmirandah merasakan tubuhnya mengejang, ia mencoba terus menggosok-menggesek, tetapi rasa geli-gatal begitu intens memenuhi tubuhnya. Ia tak tahan lagi. Ia mengerang parau ketika sebuah ledakan besar memenuhi dirinya. Kedua kakinya terentang kejang. Kedua tangannya mViandinggalkan daerah kewanitaannya, mencengkram seprai di kedua sisi tubuhnya. Klimaksnya datang bagai guntur bergulung-gulung..

******

Ketika nafas kami mulai mereda, suasana hVianding di dalam telephone itu. Sesekali aku hanya bisa mendengar hembusan nafas beratnya, demikian pula Asmirandahpun hanya bisa mendengar dengusanku.

“Miranda, kamu Abangih di sana?”, aku mengawali percakapan kembali.

“Iyaa.. Abang, Abang udah lega belum?”, ia menjawab pelan pertanyaanku.

“Abang, lega.., dan capek.., terima kasih yaa.. San. Miranda enak nggak?”, aku berkata lagi.

“Ehh..mm”, Asmirandah tidak menjawab, hanya tersenyum di seberang sana. Namun aku tahu pasti bahwa ia pun telah sangat mViandikmati ke-‘lega’-an bersamaku beberapa mViandit yang lalu.

“Miranda, kita udahan dulu yaa.. Abang mau bersih-bersih dulu nih terima kasih yaa..”, aku berkata terus terang. Aku memang harus membersihkan cairan cintaku yang tumpah ruah di atas perut dan sprei ranjangku.

“Iya Abang, Miranda juga mau mandi lagi nih.. Gerah sekali rasanya”, ia berujar. Naah.. ketahuan deh.. Miranda memang harus mandi, tetapi alasan gerah tidaklah Masuk akal, karena malam itu suhu udara dingin sekali. Namun aku tidak berusaha meledeknya untuk kealpaannya ini. Aku paling tahu, Miranda sangat sensitif pada perasaannya yang satu ini.

“Sampai besok yaa.. ILU”, aku mengakhiri percakapan.

“ILU Abang.., mimpiin Miranda yaa.., bye”, lalu Miranda menutup telephonenya.

******

Malam bagai tak peduli. Tetap dengan kelam dan dingin dan desir angin bersiut. Langit sesekali berkerejap oleh kilat di kejauhan. Awan hitam berarak menutupi cahaya bulan, mencegah Raja Malam itu menerangi muka bumi. Pohon-pohon bagai tidur sambil berdiri, terayun-ayun oleh angin yang meraja lela.

Sebentar kemudian hujan mulai turun. Mula-mula hanya berupa rintik kecil. Tetapi lalu dengan cepat semakin lebat. Bahkan kemudian sangat lebat seperti dicurahkan dari langit. Aku Abangih tergeletak lunglai. Asmirandah pun tidak segera mandi, ia terkulai leAbang. Kami berdua terpisah oleh tembok, halaman, batu, sungai kecil, pohon, jalan raya, dan sebagainya.. Tetapi kami berdua bersatu dalam fantasi erotik, kami bertemu dalam imajinasi asmara yang menggelegak membara. Siapa bilang tidak ada kekuatan telepati di dunia ini?

Kemudian aku beringsut menuju kamar mandi. Ketika aku Masuk ke dalamnya, Asmirandah terkejut sejenak sambil tersenyum melihat kejantananku yang sedari tadi sudah mulai mengeras lagi. Aku menggosok gigi, sementara Asmirandah mulai merendamkan tubuhnya di dalam bathtub. Nyaman sekali rasanya berendam di air hangat. Asmirandah mengusapkan busa wangi ke seluruh tubuhnya. Ke dadanya yang terbuai-buai di dalam air. Ke ketiaknya yang mulus tak berambut. Ke sela-sela pahanya yang tampak samar-samar di bawah permukaan air. Ke bagian-bagian yang tersembunyi, yang terjepit, yang berlekuk-berliku. Hmm. Biar semuanya harum.

Sejenak aku melirik ke kaca, dan darahkupun berdesir lagi ketika aku melihat Asmirandah sedang membasuh payudaranya dengan air sabun. Putingnya yang merah kecoklatan terlihat mencuat keatas, sangat kontras dengan warna putih buih-buih sabun yang menempel di sekelilingnya. Tangannya membasuh dada dengan air sabun itu dan sesekali memilin-milin putingnya dengan lembut. Aku semakin tidak tahan menyaksikan pemandangan yang sangat sensual itu. Segera aku berbalik badan untuk memandangnya lebih jelas lagi adegan itu.

Asmirandah berkata manja,

“Ayo Abang.., tolong gosokin punggung Miranda dong..”. Tanpa berpikir panjang aku segera menghampirinya dan aku Masuk ke dalam bathtub. Sementara Asmirandah mengangkat punggungnya sejenak dan mengatur posisi duduknya di dalam bathtub untuk memberikan tempat duduk kepadaku di belakang punggungnya. Kini aku telah duduk tepat di belakangnya, dan dengan jelas aku bisa menyaksikan kulitnya yang putih bersih dengan tonjolan ruas-ruas tulang belakang di bagian tengahnya. Air hangat terasa membasahi kaki dan pinggangku, lalu aku mulai menyiramkan air hangat itu di sekujur punggungnya. Karena sempitnya bathtub itu untuk tubuh kami berdua, maka kejantananku yang kian mengeras terasa menyentuh-nyentuh tulang belakang punggungnya. Asmirandah kelihatan geAbang sekali merasakannya.

Lalu tangannya beringsut kearah belakang pungungnya, mencoba meraup kejantananku itu. “Hmm.. Miranda gemes sama yang ini..”, begitu Asmirandah berkata sambil meremasi kejantananku. Tanganku yang tadi membasuhi punggungnya sekarang telah merangkul tubuhnya dari belakang, mecoba untuk membasuh dadanya. Sengaja aku mempermainkan puting dan payudaranya sehingga Asmirandah menggeliat kegelian. Lalu Asmirandah mendesah nikmat, “Ahh.. “. Dan akupun secara refleks langsung melayangkan ciumanku ke arah rambut lembut di sekitar leher belakangnya. Aku mencium dan menggigit lehernya dengan lembut dan Asmirandah makin mengelinjang-gelinjang.. geli dan nikmat sekali rasanya.

Aku tidak sabar lagi, lau aku memintanya untuk berbalik badan. Kini kami duduk berhadapan dengan kaki saling menyilang. Kejantananku berada tepat di depan luAbang kewanitaannya, siap untuk menusuknya dengan nikmat. Sekali lagi aku membasuh dadanya, aku meremas-remas payudaranya yang lembut dengan puting yang telah mengeras itu. Asmirandah memejamkan mata mViandikmatinya.

Sebenarnya Asmirandah sudah tidak tahan lagi, tetapi aku Abangih mau bermain-main dengan dua bukit indah di dadanya. Maka Asmirandah menyerah, membiarkan diriku menjilat, menghisap, dan menggigit mesra puting-puting susunya. Asmirandah hanya bisa mengerang, mendesis, dan berdecap setiap kali sensasi-sensasi nikmat datang dari kehangatan mulutku. Puncak-puncak payudaranya, bagian tengahnya, pangkalnya –seluruh payudaranya– terasa geli bercampur gatal bercampur hangat bercampur nikmat. Teruskan, teruskan, teruskan.. jeritnya dalam hati. Tapi itu tak perlu, karena aku tak akan segera berhenti.

Air bak mandi bergejolak hebat, sebagian tumpah ke lantai, menimlbukan suara kecipak yang ramai. Tapi kita tak memperdulikannya. Sambil terus mengulum putingnya, tanganku menjelajahi bibir halus di bawah sana. Mengelus lepitannya, menekan-nekan bagian atasnya yang sensitif, menelesuri celah-celahnya yang licin, berputar-putar di liang hangat yang pastilah telah berubah warna menjadi merah muda. Asmirandah semakin banyak bergerak, menggeletar, menambah besar gelomAbang air di bak mandi.

Lalu aku mulai mencium bibir lembutnya, aku beringsut ke depan dan kejantananku perlahan-lahan menembus luAbang surgawi kewanitaannya. Asmirandah sigap mengambil inisiatif, sedikit mengangkat tubuhnya dengan posisi yang tepat, mengarahkan pusat kenikmatan kewanitaannya pada kejantananku. Lalu, perlahan-lahan Asmirandah duduk kembali, dan dengan nikmatnya merasakan senti-demi-senti penyatuan cinta birahi dirinya dan diriku. Nikmat sekali rasanya. Perlahan sekali rasanya. Penuh sekali rasanya.

“Ah..,” cuma itu yang bisa Asmirandah desahkan ketika akhirnya Asmirandah terduduk total dipangkuan kedua pahaku, pada posisi yang Abangih saling berhadapan.

“Oucchh.. Abang”, Asmirandah mengerang penuh nikmat ketika aku membenamkan seluruh kejantananku lembut sekali.

Sambil memegang wajahku dengan kedua tangan, dan sambil meneruskan ciuman kami yang menggelora, Asmirandah memulai pendakiannya ke puncak kenikmatan. Tubuhmu bergerak naik-turun. Mula-mula perlahan dan beraturan. Tetapi tidak lama kemudian berubah liar, diselingi teriakan-teriakan tertahan, dan suara-suara basah yang berdecap-decup dari bawah sana.

Tangan Asmirandah dialihkan dengan memeluk erat punggungku, seolah Asmirandah menginginkan tusukanku lebih dalam lagi. Asmirandah menggelinjang-gelinjang dengan nikmat, sehingga air dalam bathtub kami bergolak-golak seirama dengan gejolak nafsu kami di pagi buta itu. Dengan kasar Asmirandah meremas-remas rambut kepalaku, Asmirandah mencakari punggungku sambil menaik-turunkan tubuhnya. Terasa dinding kewanitaannya memijat-mijat kejantananku dengan lembut.

Kedua tanganku yang kokoh ikut membantu. Aku mencekal pinggangnya dengan sigap, membantunya bergerak naik-turun, karena tampaknya Asmirandah telah kehilangan kendali. Ciuman kami terputus, karena Asmirandah meregang dengan kepala terdongak ke belakang. Dadanya membusung, payudaranya berayun keras, memberikan pemandangan indah kepadaku. Segera aku meraih salah satu bukit sintal itu dengan mulutku, menyedot puting susunya, dan membuatnya menjerit nikmat, dan mengirim sinyal terakhir yang memicu orgasme pertama di pagi buta itu.., orgasme ke limanya bersamaku.

Asmirandah meregang dan mengejang. Gerakannya terhenti di tengah-tengah, lalu Asmirandah terhenyak terduduk, dan menggelinjang bergeletar. Aku merasakan denyutan-denyutan kuat di bawah sana. Aku meneruskan hisapan mulutku, mViandingkahinya dengan gigitan-gigitan lembut.

Asmirandah pun mengerang,

“..Aaah..”, Asmirandah pun mendesis, “..Sssh..”, Asmirandah pun akhirnya berteriak panjang,

“..Oooh.. Abangs enakk..”, sebelum akhirnya terkulai dan memeluk erat diriku.

Kami berciuman kembali, kali ini dengan penuh kelembutan. Asmirandah bergumam, “Mmm.. enak sekali, Abang luar biasaa.. enak sekali..”. Tiga mViandit berselang, lalu ritual itu pun berlanjut, kali ini dengan aku sebagai pelaksana utamanya. Tubuhku yang kokoh bergerak maju-mundur sebatas pinggang, menciptakan tikaman-tikaman nikmat. Setiap hujaman mengirimkan sejuta getar ke seluruh penjuru tubuhnya.

Asmirandah mengerang lagi, mendesis lagi. Aku semakin cepat bergerak, dengan nafas yang tak kalah menggebunya. Keringat dan air bercampur di tubuh kami berdua, sementara di bagian bawah, tempat penyatuan wanita-pria itu, kebasahan telah mengental, menimlbukan suara berdecap berkecipak setiap kali aku menghujam dan menghela. Suara-suara gairah memenuhi kamar mandi. Asmirandah sangat bergairah. Aku sangat bergelora. Kami berdua, bersama-sama, berkejaran menuju puncak kenikmatan.

“Mmm.. Miranda.. ngga tahan, Abang.. ngga tahan.. ,” Asmirandah mengerang, aku hanya bisa menggeram.

“Ogghh.. Abang, Miranda nikmatt.. sekalii..”, Asmirandah mengerang-ngerang nikmat bercampur bunyi dengan kecipak air di dalam bathtub.

“Ogghh.., Miranda,.. Abang juga enakk..”, aku membalas rintihannya dengan menggigit mesra leher jenjangnya itu hingga memerah. Tanganku tetap memilin-milin puting kecoklatannya, sambil sesekali aku basahkan air sabun ke atasnya.

Asmirandah makin mengelinjang-gelinjang sambil terus mendesah-desah nikmat, “Terus Abang, terus Abang..”. “Aaah..,” Asmirandah menjerit tertahan ketika orgasme kedua (ke enam bersamaku) tiba-tiba datang menyerbu. Asmirandah menggelinjang hebat, tetapi kedua tanganku erat memeluk, sehingga Asmirandah tidak bisa melepaskan diri. Aku Abangih terus menghujamkan sejuta kenikmatan. Asmirandah menggeletar hebat. Asmirandah ingin diriku berhenti dulu. Tapi tidak, tidak. Asmirandah ingin diriku terus bergerak. Berhenti dulu. Bergerak. Berhenti dulu. Bergerak. Asmirandah tidak tahu harus bagaimana, kenikmatan sudah memenuhi seluruh tubuhmu. Berdenyut, berdetak, bergelora, meletup-letup. Asmirandah menyerah. Asmirandah menjerit lebih keras.

Dan Aku merasakan jepitan menguat di bawah sana, seakan meremas, dicampur denyut-denyut keras. Aku pun tak tahan lagi. Seakan ada air bah bergemuruh di dalam diriku, membawa jutaan partikel-partikel nikmat yang membuat mataku terpejam. Tak lama kemudian ototku terasa menegang, setengah berteriak aku berkata, “Ayo Miranda.., Abang mau keluar, Abang nggak kuatt.. ayo kita bersama-sama mencapai nikmatt.. Miranda..”.

“Ayo Abang.. terus Abang..”, Asmirandah pun mendesah-desah sambil dengan semakin cepat ia menggoyang-goyangkan pinggul dan badannya.

Dengan sekuat tenaga aku menghujam. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Akhirnya aku menggeram, menggerendeng bagai banteng menahan amarah, “Sann.., auucchh.. Abang keluarr.. sayangg..”, dan sedetik kemudian “Abang, Miranda juga enakk..”. Lava panasku meledak-ledak di dalam luAbang kewanitaannya, sementara Asmirandah tetap menggoyang-ngoyangkan pinggulnya. Cairan hangat menyerbu keluar dari tubuhku, menyemprot kuat ke dalam tubuh Asmirandah yang telah terbuka menerima, memfinalkan kenikmatan yang terasa sampai keujung jempol kakinya.

“Auucchh.. geli sekalii.. tapi enakk..” aku menggigit bibirku menahan rasa nikmat itu. Lava panas itu menghangati dinding kewanitaannya dan Asmirandahpun terlihat mViandikmati saat-saat orgasmenya yang kesekian kali bersamaku..

Kami berdua terkulai dengan nafas memburu. Ia bahkan Abangih terus mengerang dengan suara pelan. Setengah mViandit kemudian kami Abangih terkulai berpelukan dalam bathtub. Air hangat Abangih mengalir ke dalam bathtub, yang segera aku matikan. Suara air tak ada lagi. Kamar mandi kembali sepi, setelah saat-saat indah itu. Lalu aku berucap pelan, “Kita harus segera mandi lagi, nih, ‘yang.. ”

Asmirandah tersenyum, “Miranda yang memandikan, yaa.. Abang. Ini tanggung jawab Miranda, lho!”. Akupun tertawa sambil berujar, “Kalau kamu yang memandikan aku, kita akan terlambat ke airport. Sekarang sudah pukul 6 pagi”.

“Kan cuma mandi?” ia menggodaku lagi.

“Cuma mandi. Titik. Dan mandinya juga pakai shower saja.. ” sahutku. Iapun menggangguk setuju.

Kemudian kami bergegas untuk membasuh diri kami Masing-Masing dan Asmirandah menyabuni seluruh tubuhku. Tangannya dengan lembut menyabuni kejantananku yang telah terkulai, dan sesaat Asmirandahpun Abangih sempat untuk menguluminya. “Occhh.. Miranda, kamu juga hebat sekali.., belum pernah aku merasakan yang seperti ini dengan orang lain..”, begitu bisikku jujur sambil menyabuni tubuhnya. Asmirandah tersenyum manja mendengar bisikan itu, sambil menjawab, “Ntar deh di Jakarta.., Miranda kasih yang lebih hebat lagi yaa..”. Aku tertawa keras, mencubit pipinya dengan geAbang. Sungguh sebuah pagi yang indah sekali!!

******

Setelah kami selesai mandi lalu kami bersiap untuk check out dan berangkat menuju ke airport. Pukul 8.00 pagi, aku dan Asmirandah sudah berada di pesawat Garuda duduk bersebelahan. Tangannya menggenggam erat tanganku seolah Asmirandah tidak ingin melepaskanku. Ketika pesawat dengan lancar melakukan take-off, sejenak kemudian ia merebahkan kepalanya di dadaku.

“Miranda tidur yaa.. Abang, ngantuk dan capek nih”, begitu katanya.

“Hmm.., saya juga mau bobok, sayangg..”, aku menjawab seiring dengan datangnya rasa kantukku. Sambil tersenyum aku berkata dalam hati, “Pantas saja kamu kecapekan, habis lebih dari 6 kali sih..”.

*******

Kami sejenak terdiam ketika si manajer itu mengakhiri ceritanya. Ia sungguh nampak jujur di mataku, tanpa sedikitpun usaha untuk melebih-lebihkan ceritanya. So, apakah aku harus tidak percaya..?

“Sejak saat itulah aku jadi sering malakukan ‘affair’ dengan dia. Kalau hal itu elu sebut ‘affair’, tapi elu janji yaa.. jangan tanya-tanya lagi mengenai hal ini”, si manajer itu mengakhiri ceritanya kepadaku.

“Oke.. man has to know his limit..”, jawabku meyakinkannya.

Tiba-tiba HP si manajer itu berdering, dan ia menjawabnya dengan nada bicara yang pendek-pendek tanpa semangat. Aku tahu, pasti itu adalah telephone dari rumahnya. Semua orang di kantor ini bisa membedakan bagaimana gayanya kalau menerima telephone dari rumahnya.

“Gua, cabut dulu yaa..”, katanya lagi ketika ia selesai bicara di HP-nya.

“OK, see you next morning, take care..”, jawabku singkat.

Ketika si manajer itu keluar dan menutup pintu kamar kerjaku, aku kembali tercenung mengingat semua ceritanya. Perasaanku bercampur aduk antara cemburu, sebel, ingin marah, tetapi aku tidak tahu harus aku tujukan kepada siapa. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.. Sejenak aku ingin menghubungi Asmirandah melalui paging telephone, siapa tahu ia belum pulang saat ini, tetapi niatku itu aku urungkan. Aku Abangih belum bisa menata kembali perasaanku.

Aku segera mematikan layar komputer, arlojiku telah menunjukkan pukul 19.30 malam. Lorong kantorku telah sepi senyap saat aku keluar dari pintu kamar kerjaku. Kursi Asmirandah juga sudah lama kosong. Rupanya ia bergegas pulang sore ini karena ada janji dengan seseorang, begitu kata office boy yang dengan setia Abangih menungguku.

“Acchh.., Asmirandah, dengan siapa lagi kamu malam ini..?”, aku bertanya dalam hati sambil bergegas mViandinggalkan pintu ruang kantorku.

cerita dewasa 2016, cerita dewasa terbaru, cerita dewasa, cerita mesum 2016, cerita mesum terbaru, cerita mesum,

Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

..