Vimax ezgif.com-resize cerita sexbcggv
Breaking News

Gagal Ngampus Membawa Berkah

Vimax ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya

Kisah Bokep Gagal Ngampus Membawa Berkah | Lagi lagi telat lagi lagi telat. Untung bukan cerita sex terbaru terlambat Haid. Okkkeee…Kenalkan, namaku Wahhab. Aku adalah seorang mahasiwa tingkat 3 di sebuah perguruan negeri tinggi di Kota Bandung. Postur tubuhku biasa saja, tinggi 173 cm dengan berat 62 kg, namun karena aku ramah, lumayan pintar, serta lumayan kaya maka aku cukup terkenal di kalangan adik maupun kakak kelas jurusanku.

kisah bokep 2016, kisah bokep terbaru, kisah bokep, kisah ngentot 2016, kisah ngentot terbaru, kisah ngentot,

Pagi itu aku tergesa – gesa memarkir Honda All New Civic di parkiran kampus. Setengah berlari aku menuju ke gedung kuliah yang berada sekitar 400 m dari parkiran tersebut, sambil mataku melirik ke jam tangan Albaku yang telah menunjukkan pukul 8.06. Shit..! Kalau saja tadi malam aku tidak nekat menonton pertandingan bola tim favoritku (Chelsea) sampai pukul 2 larut malam pasti aku tidak akan terlambat seperti ini.

“Kalau saja pagi ini bukan Pak Mulyadi yang mengajar, tentu saja aku masih berjalan santai menuju ruang kuliah. Ya, Pak Mulyadi yang berusia sekitar 40 tahunan memang sangat keras dalam urusan disiplin, terlambat sepuluh menit saja pastilah pintu ruangan kuliah akan dikuncinya. Kesempatan “titip absen” pun nyaris tidak ada karena ia hampir selalu mengecek daftar peserta hadir. Parahnya lagi, kehadiran minimal 90% adalah salah satu prasyarat untuk dapat lulus dari mata kuliah ajarannya.”

kunjungi Ya… Beritaseks.com

Tersentak dari lamunanku, ternyata tanpa sadar aku sudah berada di gedung kuliah, namun tidak berarti kesulitanku terhenti sampai disini. Ruanganku berada di lantai 6, sedangkan pintu lift yang sedari tadi kutunggu tak kunjung terbuka.

Mendadak, dari belakang terdengar suara merdu menyapaku.

“Hai Wahhab..!” Akupun menoleh, ternyata yang menyapaku adalah adik angkatanku yang bernama Juwie.

“Hai juga” jawabku sambil lalu karena masih dalam keadaan panik. “

Kerah baju kamu terlipat tuh” kata Juwie. Sadar, aku lalu membenarkan posisi kerah kemeja putihku serta tak lupa mengecek kerapihan celana jeansku.

“Udah, udah rapi kok. Hmm, pasti kamu buru – buru ya?” kata Juwie lagi.

“Iya nih, biasa Pak Mulyadi” jawabku.

“Mmh” Juwie hanya menggumam.

Setelah pintu lift terbuka akupun masuk ke dalam lift. Ternyata Juwie juga melakukan hal yang sama. Didalam lift suasananya sunyi hanya ada kami berdua, mataku iseng memandangi tubuh Juwie. Ternyata hari itu ia tampil sangat cantik. Tubuh putih mulusnya setinggi 167 cm itu dibalut baju kaos Gucci pink yang ketat, memperlihatkan branya yang berwarna hitam menerawang dari balik bajunya. Sepertinya ukuran payudaranya cukup besar, mungkin 34D. Ia juga mengenakan celana blue jeans Prada yang cukup ketat. Rambutnya yang lurus sebahu terurai dengan indahnya. Wangi parfum yang kutebak merupakan merk Kenzo Intense memenuhi udara dalam lift, sekaligus seperti beradu dengan parfum Boss In Motion milikku. Hmm pikirku, pantas saja Juwie sangat diincar oleh seluruh cowo di jurusanku, karena selain ia masih single tubuhnya juga sangat proporsional. Lebih daripada itu prestasi akademiknya juga cukup cemerlang. Namun jujur diriku hanya menganggap Juwie sebagai teman belaka. Mungkin hal itu dikarenakan aku baru saja putus dengan pacarku dengan cara yang kurang baik, sehingga aku masih trauma untuk mencari pacar baru.

Tiba – tiba pintu lift membuka di lantai 4. Juwie turun sambil menyunggingkan senyumnya kepadaku. Akupun membalas senyumannya. Lewat pintu lift yang sedang menutup aku sempat melihat Juwie masuk ke sebuah ruang studio di lantai 4 tersebut. Ruang tersebut memang tersedia bagi siapa saja mahasiwa yang ingin menggunakannya, AC didalamnya dingin dan pada jam pagi seperti ini biasanya keadaannya kosong. Aku juga sering tidur didalam ruangan itu sehabis makan siang, abisnya sofa disana empuk dan enak sih. Hehehe…

Setelah itu lift pun tertutup dan membawaku ke lantai 6, tempat ruang kuliahku berada. Segera setelah sampai di pintu depan ruang kuliahku seharusnya berada, aku tercengang karena disana tertempel pengumuman singkat yang berbunyi

“kuliah Pak Mulyadi ditunda sampai jam 12. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Ttd: Tata Usaha Departemen”

Sialan, kataku dalam hati. Jujur saja kalau pulang lagi ke kostan aku malas, karena takut tergoda akan melanjutkan tidur kembali. Bingung ingin melakukan apa selagi menunggu, aku tiba – tiba saja teringat akan Juwie. Bermaksud ingin membunuh waktu dengan ngobrol bersamanya, akupun bergegas turun kelantai 4 sambil berharap kalau Juwie masih ada disana.

Sesampainya di lantai 4 ruang studio, aku tidak tahu apa Juwie masih ada didalam atau tidak, karena ruangan itu jendelanya gelap dan ditutupi tirai. Akupun membuka pintu, lalu masuk kedalamnya. Ternyata disana ada Juwie yang sedang duduk disalah satu sofa didepan meja ketik menoleh ke arahku, tersenyum dan bertanya

“Hai Wahhab, ngga jadi kuliah?” “Kuliahnya diundur” jawabku singkat. Iapun kembali asyik mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. Aku memandang berkeliling, ternyata ruangan studio selebar 4X5 meter itu kosong, hanya ada suaraku, suara Juwie, dan suara AC yang bekerja. Secara tidak sadar aku mengunci pintu, mungkin karena ingin berduaan aja dengan Juwie. Maklum, namanya juga cowo, huehehe…

Penasaran, aku segera mendekati Juwie.

“Hi Juwie, lagi ngapain sendirian disini?”

“Oh, ini lagi ngerjain tugas. Abis dihimpunan rame banget sih ,jadi aku ga bisa konsentrasi.”

“Eh, kebetulan ada Wahhab, udah pernah ngambil kuliah ini kan?” Tanya Juwie sambil memperlihatkan tugas di layar laptopnya. Aku mengangguk singkat.

“Bisa ajarin Juwie ngga caranya, Juwie dari tadi gak ketemu cara ngerjainnya nih?” pinta Juwie. Akupun segera mengambil tempat duduk disebelahnya, sambil mengajarinya cara pengerjaan tugas tersebut. Daripada aku bengong, pikirku. Mulanya saat kuajari ia belum terlalu mengerti, namun setelah beberapa lama ia segera paham dan tak lama berselang tugasnya pun telah selesai.

“Wah, selesai juga. Ternyata gak begitu susah ya. Makasih banget ya Wahhab, udah ngerepotin kamu.” Kata Juwie ramah. Iapun menutup laptop Toshibanya dan mengemasnya.

“Apa sih yang ngga buat cewe tercantik di jurusan ini” kataku sekedar iseng menggoda. Juwie pun malu bercampur gemas mendengar perkataanku, dan secara tiba – tiba ia berdiri sambil berusaha menggelitiki pinggangku. Aku yang refleksnya memang sudah terlatih dari olahraga karate yang kutekuni selama ini pun dapat menghindar, dan secara tidak sengaja tubuhnya malah kehilangan keseimbangan serta pahanya mendarat menduduki pahaku yang masih duduk. Secara tidak sengaja tangan kanannya yang tadinya ingin menggelitikiku menyentuh kemaluanku. Spontan, adik kecilku pun bangun.

“Iih, Wahhab kok itunya tegang sih?” kata Juwie sambil membenarkan posisi tangannya.

“Sori ya” kataku lirih. Kami pun jadi salah tingkah, selama beberapa saat kami hanya saling bertatapan mata sambil ia tetap duduk di pangkuanku.

Melihat mukanya yang cantik, bibirnya yang dipoles lip gloss berwarna pink, serta matanya yang bulat indah membuatku benar – benar menyadari kecantikannya. Ia pun hanya terus menatap dan tersenyum kearahku. Entah siapa yang memulai, tiba – tiba kami sudah saling berciuman mulut. Ternyata ia seorang pencium yang hebat, aku yang sudah berpengalamanpun dibuatnya kewalahan. Harum tubuhnya makin membuatku horny dan membuatku ingin menyetubuhinya.

Baca juga Kisah Bokep Oral Sex

Seolah mengetahui keinginanku, Juwie pun merubah posisi duduknya sehingga ia duduk di atas pahaku dengan posisi berhadapan, daerah kemaluannya yang masih ditutupi oleh celana jenas menekan kemaluanku yang juga masih berada didalam celanaku dengan nikmatnya. Bagian dadanya pun seakan menantang untuk dicium, hanya berjarak 10 cm dari wajahku. Kami berciuman kembali sambil tanganku melingkar kepunggungnya dan memeluknya erat sekali sehingga tonjolan dibalik kaos ketatnya menekan dadaku yang bidang.

“mmhh.. mmmhh..” hanya suara itu yang dapat keluar dari bibir kami yang saling beradu.

Puas berciuman, akupun mengangkat tubuh Juwie sampai ia berdiri dan menekankan tubuhnya ke dinding yang ada dibelakangnya. Akupun menciumi bibir dan lehernya, sambil meremas – remas gundukan payudaranya yang terasa padat, hangat, serta memenuhi tanganku.

“Aaah, Wahhab…” Erangannya yang manja makin membuatku bergairah. Kubuka kaos serta branya sehingga Juwie pun sekarang telanjang dada. Akupun terbelalak melihat kecantikan payudaranya. Besar, putih, harum, serta putingnya yang berwarna pink itu terlihat sedikit menegang.

“Wahhab…” katanya sambil menekan kepalaku kearah payudaranya. Akupun tidak menyia – nyiakan kesempatan baik itu. Tangankupun meremas, menjilat, dan mencium kedua belah payudaranya. Kadang bibirku mengulum putting payudaranya. Kadang bongkahan payudaranya kumasukkan sebesar mungkin kedalam mulutku seolah aku ingin menelannya, dan itu membuat badan Juwie menggelinjang.

“Aaahh… SShhh…” aku mendongak keatas dan melihat Juwie sedang menutup matanya sambil bibirnya mengeluarkan erangan menikmati permainan bibirku di payudaranya. Seksi sekali dia saat itu. Putingnya makin mengeras menandakan ia semakin bernafsu akan “pekerjaanku” di dadanya.

Puas menyusu, akupun menurunkan ciumanku kearah pusarnya yang ternyata ditindik itu. Lalu ciumanku makin mengalir turun ke arah selangkangannya. Akupun membuka jeansnya, terlihatlah celana dalamnya yang hitam semi transparan itu, namun itu tak cukup untuk menyembunyikan gundukan kemaluannya yang begitu gemuk dari pandanganku. Akupun mendekatkan hidungku ke arah kemaluannya, tercium wangi khas yang sangat harum. Ternyata Juwie sangat pintar dalam menjaga bagian kewanitaannya itu. Sungguh beruntung diriku dapat merasakan miliknya Juwie.

Akupun mulai menyentuh bagian depan celana dalamnya itu. Basah. Ternyata Juwie memang sudah horny karena servisku. Jujur saja aku merasa deg – degan karena selama ini aku belum pernah melakukan seks dengan kedelapan mantan pacarku, paling hanya sampai taraf oral seks. Jadi ini boleh dibilang pengalaman perWahhabku. Dengan ragu – ragu akupun menjilati celana dalamnya yang basah tersebut.

“Mmhhh… Ooggghh…” Juwie mengerang menikmati jilatanku. Ternyata rasa cairan kewanitaan Juwie gurih, sedikit asin namun enak menurutku. Setelah beberapa lama menjilati, ternyata cairan kewanitaannya makin banyak meleleh.

“Buka aja celana dalamku” kata Juwie. Mendengar restu tersebut akupun menurunkan celana dalamnya sehingga sekarang Juwie benar – benar bugil, sedangkan aku masih berpakaian lengkap. Benar – benar pemandangan yang indah. Kemaluannya terpampang jelas di depan mataku, berwarna pink kecoklatan dengan bibirnya yang masih rapat. Bentuknya pun indah sekali dengan bulunya yang telah dicukur habis secara rapi. Bagai orang kelaparan, akupun segera melahap kemaluannya, menjilati bibir kemaluannya sambil sesekali menusukkan jari tengah dan jari telunjukku ke dalamnya. Berhasil..! Aku menemukan G-Spotnya dan terus memainkannya. setelah itu Juwie terus menggelinjang, badannya mulai berkeringat seakan tidak menghiraukan dinginnya AC di ruangan ini.

“Emmh, please don’t stop” kata Juwie dengan mata terpejam.

“OOuucchh…” Rintih Juwie di telingaku sambil matanya berkerjap-kerjap merasakan nikmat yang menjalari tubuhnya.

”Ssshhh…Ahhh”, balasku merasakan nikmatnya kemaluan Juwie yang makin basah. Sambil terus meremas dada besarnya yang mulus, adegan menjilat itu berlangsung selama beberapa menit. Tangannya terus mendorong kepalaku, seolah menginginkanku untuk menjilati kemaluannya secara lebih intens. Pahanya yang putih pun tak hentinya menekan kepalaku. Tak lama kemudian,

“Uuuhhh.. Juwie mau ke… lu… ar…” seiring erangannya kemaluannya pun tiba – tiba membanjiri mulutku mengeluarkan cairan deras yang lebih kental dari sebelumnya, namun terasa lebih gurih dan hangat. Akupun tidak menyia – nyiakannya dan langsung meminumnya sampai habis.

“Slruuppp…” suaranya terdengar nyaring di ruangan tersebut. Nafas Juwie terdengar terengah – engah, ia menggigit bibirnya sendiri sambil seluruh tubuhnya mengkilat oleh keringatnya sendiri. Setelah tubuhnya berhenti bergetar dan jepitan pahanya mulai melemah akupun berdiri dan mencium bibirnya, sehingga ia merasakan cairan cintanya sendiri.

“Mmhh, Wahhab… makasih ya kamu udah bikin Juwie keluar.”

“kamu malah belum buka baju sama sekali, curang” kata Juwie.

“Gantian sini.” Setelah berkata lalu Juwie mendorong tubuhku sehingga aku duduk diatas sofa. Iapun berjongkok serta melepaskan celana jeans serta celana dalamku. Iapun kaget melihat batang kemaluanku yang berukuran cukup “wah.” Panjangnya sekitar 16 cm dengan diameter 5 cm. kepalanya yang seperti topi baja berwarna merah tersentuh oleh jemari Juwie yang lentik.

“Wahhab, punya kamu gede banget…” setelah berkata maka Juwie langsung mengulum kepala kemaluanku. Rasanya sungguh nikmat sekali.

“mmh Juwie kamu nikmat banget…” kataku. Iapun menjelajahi seluruh penjuru kemaluanku dengan bibir dan lidahnya, mulanya lidahnya berjalan menyusuri urat dibawah kemaluanku, lalu bibirnya yang sexy mengulum buah zakarku.

“aah… uuhh… ” hanya itu yang dapat kuucapkan. Lalu iapun kembali ke ujung kemaluanku dan berusaha memasukkan kemaluanku sepanjang – panjangnya kedalam mulutnya. Akupun mendorong kepalanya dengan kedua belah tangannya sehingga batang kemaluanku hampir 3/4nya tertelan oleh mulutnya sampai ia terlihat hamper tersedak. Sambil membuka bajuku sendiri aku mengulangi mendorong kepalanya hingga ia seperti menelan kemaluanku sebanyak 5 – 6 kali.

Puas dengan itu ia pun berdiri dan duduk membelakangiku, tangannya membimbing kemaluanku memasuki liang kemaluannya.

“Wahhab sayang, aku masukin ya..” kata Juwie bergairah. Lalu iapun menduduki kemaluanku, mulanya hanya masuk 3/4nya namun lama – lama seluruh batang kemaluanku terbenam ke dalam liang kemaluannya. Aah, jadi ini yang mereka katakana kenikmatan bercinta, rasanya memang enak sekali pikirku. Iapun terus menaik – turunkan kemaluannya sambil kedua tangannya bertumpu pada dadaku yang bidang.

“Pak.. pak… pak.. sruut.. srutt..” bunyi paha kami yang saling beradu ditambah dengan cairan kewanitaannya yang terus mengalir makin menambah sexy suasana itu. Sesekali aku menarik tubuhnya kebelakang, sekedar mencoba untuk menciumi lehernya yang jenjang itu. Lehernya pun menjadi memerah di beberapa tempat terkena cupanganku.

“Juwie, ganti posisi dong” kataku. Lalu Juwie berdiri dan segera kuposisikan dirinya untuk menungging serta tangannya bertumpu pada meja. Dari posisi ini terlihat liang kemaluannya yang memerah tampak semakin menggairahkan. Akupun segera memasukkan kemaluanku dari belakang.

“aahh, pelan – pelan sayang” kata Juwie. Akupun menggenjot tubuhnya sampai payudaranya berguncang – guncang dengan indahnya.

“Aaahhkk…Wahhab…Ooucchhhkgg..Ermmmhhh” suara Juwie yang mengerang terus, ditambah dengan cairannya yang makin banjir membuatku semakin tidak berdaya menahan pertahanan kemaluanku.

“Ooohh…yeahh ! fu*k me like that…uuhh…i’m your bitch now !” erang Juwie liar.

“Aduhh.. aahh.. gila Juwie.. enak banget!” ceracauku sambil merem-melek.

“Oohh.. terus Wahhab.. kocok terus” Juwie terus mendesah dan meremas-remas dadanya sendiri, wajahnya sudah memerah saking terangsangnya.

“Yak.. dikit lagi.. aahh.. Wahhab.. udah mau” Juwie mempercepat iramanya karena merasa sudah hampir klimaks.

“Juwie.. Aku juga.. mau keluar.. eerrhh” geramku dengan mempercepat gerakan.

“Enak nggak Wahhab?” tanyanya lirih kepadaku sambil memalingkan kepalanya kebelakang untuk menatap mataku.

“Gila.. enak banget Juwie.. terusin sayang, yang kencang..” Tanganku yang masih bebas kugerakkan kearah payudaranya untuk meremas – remasnya. Sesekali tanganku memutar arah ke bagian belakang untuk meremas pantatnya yang lembut.

“uuhh.. sshh.. Juwie, aku udah ga tahan nih. Keluarin dimana?” tanyaku.

“uuhhh.. mmh.. ssshh.. Keluarin didalam aja ya, kita barengan” kata Juwie. Makin lama goyangan kemaluanku makin dalam dan makin cepat..

“Masukin yang dalem dooo…ngg…”, pintanya. Akupun menambah kedalaman tusukan kemaluanku, sampai pada beberapa saat kemudian.

“aahh… Wahhab.. kita keluarin sekarang…” Juwie berkata sambil tiba – tiba cekikan kemaluannya pada kemaluanku terasa sangat kuat dan nikmat. Iapun keluar sambil tubuhnya bergetar. Akupun tak mampu membendung sperma pada kemaluanku dan akhirnya kutembakkan beberapa kali ke dalam liang kemaluannya. Rasa hangat memenuhi kemaluanku, dan disaat bersamaan akupun memeluk Juwie dengan eratnya dari belakang.

Setelah beberapa lama tubuh kami yang bercucuran keringat menyatu, akhirnya akupun mengeluarkan kemaluanku dari dalam kemaluannya. Aku menyodorkan kemaluanku ke wajah Juwie dan ia segera mengulum serta menelan habis sperma yang masih berceceran di batang kemaluanku. Aku menyandarkan tubuhku pada dinding ruang studio dan masih dengan posisi jongkok dihadapanku Lydia tersenyum sambil terus mengocok batang kemaluanku tetapi semakin lama semakin cepat. Nafasku memburu kencang dan jantungku berdegub semakin tak beraturan dibuatnya, walaupun aku sangat sering masturbasi, tapi pengalaman dikocok oleh seorang cewek adalah yang perWahhab bagiku, apalagi ditambah pemandangan dua susu montok yang ikut bergoyang karena gerakan pemiliknya yang sedang menocok kemaluanku bergantian dengan tangan kiri dan kanannya.

“Juwie.. mau keluar nih..” kataku lirih sambil memejamkan mata meresapi kenikmatan hisapan Juwie.

“Bentar, tahan dulu Wahhab..”jawabnya sambil melepaskan kocokannya.

“Loh kok ngga dilanjutin?” tanyaku. Tanpa menjawab pertanyaanku, Juwie mendekatkan dadanya ke arah kemaluanku dan tanpa sempat aku menebak maksudnya, dia menjepit kemaluanku dengan kedua payudaranya yang besar itu. Sensasi luar biasa aku dapatkan dari kemaluanku yang dijepit oleh dua gundukan kembar itu membuatku terkesiap menahan napas.

Sebelum aku sempat bertindak apa-apa, dia kembali mengocok kemaluanku yang terjepit diantara dua susunya yang kini ditahan dengan menggunakan kedua tangannya. Kemaluanku serasa diurut dengan sangat nikmatnya. Terasa kurang licin, Juwie pun melumuri payudaranya dengan liurnya sendiri.

“Gila Juwie, kamu ternyata liar banget..” Juwie hanya menjawab dengan sebuah senyuman nakal.

Kali ini seluruh urat-urat dan sendi-sendi di sekujur tubuhku pun turut merasakan kenikmatan yang lebih besar daripada kocokan dengan tangannya tadi.

“Enak nggak Wahhab?” tanyanya lirih kepadaku sambil menatap mataku.

“Gila.. Bukan enak lagi.. Tapi enak banget Sayang.. Terus kocok yang kencang..” Tanganku yang masih bebas kugerakkan kearah mulutnya, dan ia langsung mengulum jariku dengan penuh nafsu.

“Ahh.. ohh..” desahnya pelan sambil kembali memejamkan matanya. Kocokan serta jepitan susunya yang semakin keras semakin membuatku lupa daratan.

Tak lama kemudian,

“aah… Juwie aku mau keluar lagi…” setelah berkata begitu akupun menyemprotkan beberapa tetes spermaku kedalam mulutnya yang langsung ditelan habis oleh Juwie. Iapun lalu menciumku sehingga aku merasakan spermaku sendiri.

Setelah selesai, kami pun berpakaian lagi. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepadanya, lalu akupun pulang kekostan setelah mengantarkan Juwie ke kostannya menggunakan mobilku. Dialam mobil ia berkata bahwa ia sangat puas setelah bercinta denganku serta menginginkan untuk mengulanginya kapan – kapan. Akupun segera menyanggupi dan mencium mesra bibirnya. Setelah itu aku mengarahkan mobilku ke kostanku yang berada di daerah Dago. Soal kuliahnya Pak Mulyadi, aku sudah cuek karena hari itu aku mendapatkan anugerah yang tidak terkira, yaitu bisa bercinta dengan Juwie.

cerita ini hanyalah fiktif belaka, segala kesamaan yang terjadi, baik tokoh maupun alur ceritanya murni merupakan kebetulan belaka.

SELESAI.

kisah bokep 2016, kisah bokep terbaru, kisah bokep, kisah ngentot 2016, kisah ngentot terbaru, kisah ngentot,

Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

..